Suluh dari Muaro Kalaban: Erizal Ridwan dan Titah Membesarkan "Beringin" Jelang Musda XI

AdSense New

Suluh dari Muaro Kalaban: Erizal Ridwan dan Titah Membesarkan "Beringin" Jelang Musda XI

Jumat, 21 November 2025
Suasana hangat silaturahmi kader Golkar Sawahlunto yang dipimpin H. Jeffry Hibatullah (kiri) saat mengunjungi kediaman senior partai, Erizal Ridwan (kanan), di Muaro Kalaban, Jumat (21/11). Pertemuan ini menjadi momen penting untuk meminta wejangan dan memperkuat soliditas partai menjelang pelaksanaan Musda XI. (foto/robby andiska)


Oleh: Anton Saputra (Wartawan Madya Sertifikasi Dewan Pers)


DI bawah langit Muaro Kalaban yang berawan, sebuah rumah teduh menjadi saksi pertemuan dua generasi. Tidak ada podium, tidak ada pengeras suara yang memekakkan telinga, pun tidak ada spanduk formalitas. Namun, di ruang tamu yang sederhana itu, denyut nadi Partai Golkar Kota Sawahlunto berdetak lebih kencang daripada biasanya.


​Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) XI, rombongan kader yang dipimpin oleh H. Jeffry Hibatullah—sang Wakil Wali Kota yang juga kader potensial Golkar—datang "pulang". Bersama Sekretaris Golkar Nova Hendra dan tokoh muda Aulia Pramadihka, mereka menepikan sejenak hiruk-pikuk politik praktis untuk satu tujuan: sowan kepada Erizal Ridwan, sang senior, sang penjaga marwah partai.


​Bagi para kader Golkar Sawahlunto, Erizal Ridwan bukan sekadar nama dalam struktur lampau. Ia adalah personifikasi dari akar beringin yang kuat: tenang, mengayomi, namun kokoh menahan badai.


​Siang itu, suasana cair seketika tercipta. Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi seremonial, melainkan sebuah perawatan ingatan. Di tengah memanasnya suhu politik jelang Musda, nasihat dari sosok yang telah memakan asam garam perjuangan partai menjadi oase yang menyejukkan sekaligus membakar semangat.


​Erizal menyambut junior-juniornya dengan hangat. Sorot matanya tajam namun teduh, menyiratkan pengalaman panjang mengawal partai kuning ini melewati berbagai fase sejarah di kota tambang.


"Besarkan Dulu Partainya..."

​Di tengah perbincangan yang mengalir, nada bicara Erizal berubah menjadi lebih serius dan berbobot. Ia tidak berbicara tentang siapa yang harus duduk di kursi ketua, melainkan tentang mengapa mereka semua ada di sana. Ia menekankan bahwa Musda XI adalah momentum sakral—bukan sekadar ajang pergantian estafet kepemimpinan, melainkan titik balik penyatuan energi.


​Dengan intonasi yang tegas, Erizal melempar sebuah tesis politik yang sederhana namun menohok: “Besarkan dulu partainya. Kalau partai besar, maka target menjadi Ketua DPRD Kota Sawahlunto dari Partai Golkar bukan sesuatu yang mustahil. Itu harus kita kejar bersama-sama.”


​Kalimat itu menggema di ruang tamu, melampaui sekadar retorika. Pesan ini adalah kritik halus sekaligus cambuk motivasi. Erizal mengingatkan bahwa ambisi personal tidak boleh mendahului kepentingan kolektif. Kemenangan sejati, menurutnya, tidak diukur dari jabatan apa yang didapat seorang kader, tetapi seberapa besar "Rumah Beringin" ini mampu menaungi aspirasi masyarakat Sawahlunto.


Musda XI: Arena Gagasan, Bukan Perpecahan

​Erizal Ridwan paham betul dinamika Musda seringkali menyisakan residu konflik. Oleh karena itu, ia mewanti-wanti agar Musda XI nanti menjadi panggung kedewasaan politik.


​Ia menitipkan harapan agar forum tersebut menjadi arena adu gagasan yang sehat. Baginya, soliditas adalah harga mati. Siapapun yang kelak terpilih, tugas utamanya sudah menanti di depan mata: mengembalikan kejayaan Golkar sebagai pemegang palu pimpinan di DPRD Sawahlunto. Sebuah target yang realistis jika, dan hanya jika, seluruh elemen partai bergerak dalam satu komando yang solid.


Pulang Membawa "Api"

​Bagi H. Jeffry Hibatullah, Nova Hendra, dan Aulia Pramadihka, pertemuan Jumat siang itu memberikan bekal yang jauh lebih berharga daripada strategi pemenangan teknis. Mereka pulang membawa "api"—sebuah semangat loyalitas dan konsistensi.


​Erizal Ridwan telah menyalakan kembali suluh perjuangan itu. Ia mengingatkan bahwa masa depan Golkar Sawahlunto tidak ditentukan oleh satu orang, tetapi oleh kerja orkestra seluruh kader, dari tingkat kota hingga desa/kelurahan.


​Menjelang tabuh genderang Musda XI, pesan dari Muaro Kalaban ini menjadi penunjuk arah. Bahwa jalan menuju kursi Ketua DPRD dan kejayaan partai tidak ditempuh dengan langkah-langkah pragmatis yang memecah belah, melainkan dengan langkah tegap kebersamaan untuk membesarkan partai.


​Di tangan generasi penerus inilah, Erizal Ridwan menitipkan harapan: Agar Beringin di Sawahlunto tidak hanya rindang untuk berteduh, tetapi kokoh mengakar dan menjulang tinggi. (*_*)