Update Sementara Korban Banjir dan Longsor di Agam, 74 Warga Tewas, 78 Hilang dan Lebih dari 3.000 Mengungsi

AdSense New

Update Sementara Korban Banjir dan Longsor di Agam, 74 Warga Tewas, 78 Hilang dan Lebih dari 3.000 Mengungsi

Sabtu, 29 November 2025
.


Agam, fajarsumbar.com – Situasi darurat bencana di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kembali diperbarui oleh Posko Tanggap Darurat, Sabtu pagi (29/11/2025) pukul 08.00 WIB. Data terbaru menunjukkan jumlah korban jiwa dan kerusakan meningkat signifikan setelah rangkaian bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, longsor, dan angin kencang menerjang 16 kecamatan sekaligus sejak 19 November 2025.


Dalam rilis resmi tersebut, sebanyak 74 warga dinyatakan meninggal dunia, sementara 78 lainnya masih hilang. Angka ini diperkirakan bisa bertambah karena beberapa wilayah masih terisolasi, terutama daerah yang mengalami longsor besar seperti Palembayan, Malalak, Lubuk Basung, dan Tanjung Raya. Di daerah-daerah itu, material longsor menutup akses sepanjang ratusan meter, menghambat evakuasi dan distribusi logistik.


Lebih dari 3.000 jiwa mengungsi ke puluhan titik pengungsian yang tersebar di berbagai kecamatan. Banyak dari mereka kini bergantung sepenuhnya pada bantuan makanan, air bersih, dan pelayanan kesehatan darurat. Pemerintah Kabupaten Agam bersama TNI-Polri, BPBD, dan relawan masih terus bekerja membuka akses dan mengevakuasi warga yang terjebak.


Kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum juga terbilang besar. Data menunjukkan 49 rumah rusak berat, 26 rumah rusak sedang, dan 468 rumah rusak ringan. Sementara itu, sejumlah jembatan dilaporkan rusak dan masih dalam proses pendataan rinci. Tidak hanya pemukiman, fasilitas pendidikan ikut terdampak, tercatat 55 sekolah mengalami kerusakan, mulai dari ringan hingga parah.


Selain itu, kerusakan pada sektor pertanian dan peternakan juga cukup signifikan. Lahan pertanian yang rusak mencapai 555,76 hektare, dan ada 11 unit irigasi yang rusak. Pada sektor peternakan, sedikitnya 5 ekor hewan ternak dilaporkan hilang atau mati tersapu banjir bandang. Sementara untuk perikanan, kerugian sangat besar: 5.492.650 ekor ikan hilang dari kolam masyarakat yang turut rusak seluas 13,75 hektare.


Mayat berjejeran dibungkus plastik kuning korban banjir bandang dan galodo di Palembayan, Kabupaten Agam.

Pemerintah Kabupaten Agam dalam laporannya menjelaskan sebaran bencana yang terjadi di berbagai kecamatan. Palembayan, Lubuk Basung, Tanjung Raya, Malalak, dan Banuhampu menjadi wilayah paling terdampak akibat kombinasi banjir bandang dan longsor. Sementara kecamatan lain seperti Ampek Nagari, Tanjung Mutiara, Baso, Canduang, dan Sungai Pua mengalami banjir dan kerusakan akibat pohon tumbang. Kecamatan Matur dan Kamang Magek menghadapi angin kencang yang merusak rumah dan fasilitas publik.


Dengan cakupan kerusakan yang luas, Pemkab Agam membuka jalur donasi resmi melalui rekening Bank Nagari untuk membantu pemenuhan kebutuhan logistik dan percepatan pemulihan. Bantuan terus mengalir dari berbagai pihak, namun medan yang berat membuat distribusi ke daerah terisolasi masih menghadapi tantangan besar.


Sejumlah alat berat tambahan telah diturunkan ke lapangan untuk mempercepat pembukaan jalur-jalur vital yang kini tertutup longsor. Namun hingga pagi ini, beberapa titik masih belum dapat diakses karena kondisi tanah labil dan curah hujan yang tinggi.


Petugas di lapangan melaporkan bahwa sebagian pengungsian saat ini mulai kekurangan kebutuhan dasar. Banyak anak-anak dan lansia membutuhkan pelayanan kesehatan khusus karena terpapar dingin dan kondisi lingkungan yang tidak higienis. Upaya pendirian dapur umum juga diperbesar untuk memastikan suplai makanan tetap berjalan.


Pemkab Agam mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, mengingat curah hujan di wilayah Agam diperkirakan masih tinggi hingga beberapa hari ke depan. Selain itu, warga yang masih berada dekat aliran sungai, lereng bukit, atau kawasan rawan longsor diminta segera mengungsi atau berpindah ke lokasi lebih aman.


Hingga laporan ini disusun, tim gabungan terus melakukan pencarian terhadap korban hilang dan melakukan pendataan menyeluruh terkait kerusakan bangunan, fasilitas publik, dan lahan pertanian. Pemerintah pusat juga dijadwalkan turun memberikan dukungan tambahan untuk membantu pemulihan cepat dan penanganan jangka panjang.


Bencana besar yang melanda Agam tahun ini menjadi salah satu yang paling mematikan dalam satu dekade terakhir. Dengan korban jiwa mencapai puluhan, puluhan ribu terdampak, dan kerusakan luas pada berbagai sektor, proses pemulihan diperkirakan akan membutuhkan waktu panjang dan kerja sama banyak pihak.(Ab)