![]() |
| Kepala Taman Budaya Sumbar, Devid didampingi Kasi Produksi dan Kreasi Seni Budaya Ade Efdira memberi keterangan kepada pers. |
Padang, fajarsumbar.com-Sumatera Barat tetap memiliki posisi istimewa dalam kesusastraan nasional. Walaupun regenerasi sastrawan tidak berjalan dengan sempurna, tapi Sumbar tetap melahirkan sastrawan-sastrawan muda berprestasi.
Festival Marah Roesli merupakan wadah yang diciptakan Taman Budaya Sumatera Barat untuk melahirkan sastrawan-sastrawan muda Ranah Minang. Tahun ini, Festival Marah Roesli dilaksanakan 17-20 Desember 2025.
Kasi Produksi dan Kreasi Seni Budaya Taman Budaya Sumbar, Ade Efdira, Selasa (16/12) mengatakan, Festival Marah Roesli mengangkat tema Negeri dan Ironi. Tema tersebut terinspirasi dari karya-karya Marah Roesli yang mengangkat realitas negeri di zamannya.
Marah Roesli adalah sastrawan nasional dari Sumatera Barat, khususnya Kota Padang. Salah satu romannya yang terkenal adalah Siti Nurbaya. Dengan mengambil nama sastrawan besar ini sebagai nama festival, Ade Efdira berharap hal itu bisa menjadi dorongan bagi sastrawan-sastrawan muda untuk terus menciptakan karya-karya terbaik.
Festival Marah Roesli meliputi berbagai kegiatan. Mulai dari workshop, diskusi sastra, bedah, buku, dan eksplorasi kota tua. Tahun ini, agenda workshop adalah menulis cerpen. Dengan menampilkan instruktur sastrawan nasional, Raudal Tanjung Banua dan Sasti Gotama. Diskusi sastra adalah bedah buku karya Hasbunallah Haris, pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta yang merupakan peserta workshop menulis novel yang dilaksanakan Taman Budaya. Selain itu, ada peluncuran buku kumpulan cerpen para pemenang sayembara menulis cerpen Marah Roesli.
Ade Efdira menguraikan, Festival Marah Roesli adalah agenda rutin Taman Budaya. "Tahun ini kita namakan Festival Marah Roesli sesuai dengan masukan dari banyak pihak," ujar Ade Efdira.
Beberapa tahun pelaksanaan Festival Marah Roesli, sudah delapan buku diterbitkan. Ada tiga novel dan lima kumpulan cerpen para pemenang sayembara. Tahun ini, antusias peserta sayembara menulis cerpen menurut Ade sangat tinggi. Ada 800 naskah dari seluruh
Indonesia.
Taman Budaya berkomitmen mengembangkan sastra di Sumatera Barat. Tahun ini, menurut Ade fokus festival para cerpen. Tahun sebelumnya ada workshop novel dan puisi. "Tahun ini banyak yang meminta untuk cerpen. Kita mencoba mengakomodasi semuanya. Tahun depan, kita lihat perkembangannya. Mungkin kita buat kembali workshop novel dan skenario," ujar Ade lagi.
Festival Marah Roesli adalah salah satu kegiatan dari dua kegiatan besar yang dilaksanakan Taman Budaya. Kepala Taman Budaya Sumbar, Devid dua kegiatan itu adalah Festival Sastra Marah Roesli dan pameran besar seni rupa West Sumatera Visual Art Exhibition bertema Hulu Kepala Taman Budaya.
Pameran besar seni rupa menampilkan 37 perupa dari berbagai provinsi di Indonesia. Perupa akan mempilkan karya-karnya di Galery Taman Budaya Sumbar hingga 30 Desember. "Kegiatan ini menjadi inspirasi bagi perupa dan sastrawan muda. Sekaligus, menjadi event bagi masyarakat luas untuk menikmati karya-karya seni terbaik," ujar Devid. (Zal)
Komentar