Bendungan Irigasi Lubuak Jambu Dijebol Galodo! Ratusan Hektar dan Rumah Warga Terancam -->

AdSense New

Bendungan Irigasi Lubuak Jambu Dijebol Galodo! Ratusan Hektar dan Rumah Warga Terancam

Kamis, 04 Desember 2025

Kondisi Bendungan Irigasi Lubuak Jambu, pada Kamis pagi (4/12/2025), pasca dilanda galodo gadang air Batang Nareh, Durian Dangka, Nagari Sikucua Tangah, V Koto Kampung Dalam, Padang Pariaman (foto.saco). 


Kampung Dalam - Bendungan Irigasi Lubuak Jambu di Durian Dangka, Nagari Sikucua Tangah, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, kembali menjadi saksi bisu keganasan alam. Peristiwa galodo aliran Batang Nareh, Kamis lalu (27/11/2025), menerjang tanpa ampun. Meruntuhkan bendungan yang selama puluhan tahun menjadi nyawa bagi ratusan hektar sawah dan tumpuan ekonomi warga. Tepatnya untuk lahan pertanian kawasan Kampuang Tangah dan Labuah Gajah. 


Air bah menggerus tebing, membawa longsoran besar, hingga lima rumah kini berada di bibir jurang sungai. Tinggal menunggu waktu jika hujan kembali turun lebat mantuyuah. Ratusan hektar lahan pertanian kini kering. Tanpa satu tetes air yang mengalir sejak bendungan ambruk.


Padahal, bendungan yang dibangun pada era Bupati Anas Malik di tahun 80-an dan telah diperbaiki tiga kali itu. Dalam beberapa tahun terakhir ini, telah menjelma menjadi ikon wisata alami di daerah ini.


Pada setiap akhir pekan, warga dan pelancong datang untuk menikmati kejernihan airnya. Ekonomi kecil-kecilan tumbuh dari sana. Warung, parkir, dan pedagang lokal hidup kembali.


Kini, semua itu tinggal kenangan. Yang tersisa hanyalah puing bendungan, tanah halaman rumah penduduk masuk sungai, dan kecemasan warga jadi pilu.


“Kami benar-benar butuh air sekarang. Tetapi bendungan jebol dihantam galodo gadang,” ucap Fuji, seorang petani, dengan mata yang tampak pasrah. Tanpa irigasi, sawahnya kini bergantung pada hujan. Resiko gagal panen ratusan hektar semakin nyata di depan mata.


Dari sisi lain, kecemasan juga menghantui para ninik mamak. Rosman Roal, tokoh masyarakat Durian Dangka, memperingatkan bahwa kondisi ini berbahaya.


“Jika banjir besar datang lagi, tujuh rumah itu bisa hanyut. Bahkan pondasi Jembatan Rajang Berayun dekat dengan lokasi juga terancam,” ujarnya yang dihubungi Wartawan fajarsumbar.com, Kamis (4/12/2025).


Rosman, mantan kepala desa dan pensiunan ASN Pengawas Sekolah itu, menegaskan bahwa rehabilitasi bendungan tidak bisa ditunda. Ini bukan sekadar menjaga sawah, tapi menyelamatkan nyawa dan infrastruktur penting di sepanjang Batang Nareh di wilayah Durian Dangka.


Warga berharap pemerintah bergerak cepat. Mereka tak ingin kampung mereka masuk daftar bencana berikutnya. Mereka ingin kembali mengairi sawah, menjaga rumah, dan menghidupkan lagi denyut ekonomi yang pernah tumbuh di Lubuak Jambu.


Karena bagi mereka, bendungan itu bukan sekadar bangunan. Tetapi hidup dan masa depan.(saco).