Lekas Bangkit Ranah Minang, Menjemput Tuah Merawat Marwah -->

AdSense New

Lekas Bangkit Ranah Minang, Menjemput Tuah Merawat Marwah

Senin, 19 Januari 2026
.

Oleh: Prof. Dr.H.Duski Samad,M.Ag

Pembelajar Islam dan Adat Minangkabau di UIN Imam Bonjol Padang


Padang - Pahit, sedih dan duka masyarakat yang terdampak banjir dan longsor akhir November 2025 masih belum pulih. Duka semua anak nagari, walaupun tingkatnya berbeda. Sabarek-barek mato mamandang, labiah barek bahu mamikue. 


Dukungan, pengawasan dan apresiasi terhadap kinerja pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten Kota dalam memberikan kepastian masa depan warga yang terdampak bencana harus menjadi perhatian anggota masyarakat luas. 


Dari sisi masyarakat bangsa, anak nagari, dunsanak baik di ranah maupun di rantau, diminta terus ikut merasakan dan memberikan bantuan bagi percepatan kebangkitan ekonomi, sosial, budaya dan semua aspek kehidupan seperti sediakala. 


RANAH MEMANGGIL


Ranah Minangkabau sedang memanggil anak-anaknya. Panggilan ini bukan sekadar gaung dari lembah dan ngarai, melainkan jeritan batin dari duka yang panjang dan janji-janji kemajuan yang sempat tertunda. Tanah pusaka ini, yang dahulu melahirkan para pendiri bangsa dan pemikir ulung, kini menanti tuah untuk kembali bersinar.


Kebangkitan ini bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Namun, bagaimana cara kita bangkit? Jawabannya telah lama terukir dalam falsafah hidup yang kita genggam. Kembali pada jati diri, menyatukan potensi, dan bergerak hari ini juga.


Pulih dan Bangkit bersama ABS-SBK.


Slogan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) sering kali hanya terdengar lantang di podium pidato, namun sayup dalam realitas sosial. Kebangkitan Ranah Minang harus dimulai dengan mengembalikan falsafah ini sebagai laku kehidupan, bukan sekadar hiasan kata.


Adat yang kuat dan agama yang kokoh adalah fondasi moral. Ketika keduanya berjalan seiring dalam tindakan nyata, masyarakat akan memiliki integritas. Inilah modal utama untuk membangun kembali kepercayaan dan kemajuan yang berkelanjutan.


Walaupun bencana menimpa jati diri, falsafah hidup dan norma ABS-SBK terus diikhtiarkan lebih nyata, dan membumi dalam mengerakkan semua potensi untuk bangkit. 


Akal Jernih di Atas Amarah dan Kecewa. 


Sejarah mencatat bahwa orang Minang disegani karena ketajaman pikirannya (cerdik pandai). Dalam menghadapi tantangan zaman atau ketidakadilan, kita tidak boleh bangkit dengan amarah atau kebencian yang membabi buta.


Kesedihan dan kecewa yang bersumber dari bencana alam dan bencana prilaku orang atau pihak yang bertanggung jawab harus segera dinormalisasikan.


"Bangkitlah dengan akal nan jernih, bukan oleh amarah, tapi keberanian menegakkan kebenaran"


Kita membutuhkan strategi, diplomasi, dan keberanian intelektual. Kebenaran harus ditegakkan dengan cara yang bermartabat, mencerminkan kualitas masyarakat yang terpelajar dan beradab.


Sinergi Anak Nagari dan Pemimpin.

Alam takambang jadi guru mengajarkan tentang keseimbangan. Tidak ada kemajuan tanpa persatuan.

 

Bagi Anak Nagari, Jangan sampai tercerai-berai oleh kepentingan sesa'at atau ego sektoral. Persatuan adalah kekuatan absolut (saciok bak ayam, sadanciang bak basi).

 

Bagi Pemimpin, Jangan pernah alpa (lalai). Seorang pemimpin di Minangkabau didinggikan seranting dan didahulukan selangkah untuk mengayomi, bukan untuk memperkaya diri atau melupakan rakyatnya. Sejarah tidak akan pernah memihak pada mereka yang lalai akan amanah.


Saat di timpa bencana kini sinergi, tolong menolong, semangat tagak kampung, paga kampung menemukan moment. Artinya ayo ke depan sinergi, tarok di belakang kompetisi, persaingan, bangun koalisi jauhi konfrontasi.


Warisan untuk Generasi Mendatang.


Ranah Minang pernah besar karena persatuannya, mulia karena adatnya, dan kuat karena iman serta ilmunya. Kini, saatnya kita merajut kembali harapan-harapan yang sempat koyak dan menjemput keadilan yang menjadi hak kita.


Langkah ini kita ambil bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan demi anak cucu. Generasi penerus yang berhak mewarisi marwah, bukan mewarisi masalah. Mereka berhak bangga mengatakan bahwa tanah kelahiran mereka adalah tanah yang bermartabat.


Momentum adalah hari ini. Tidak ada waktu untuk menunda. Menunggu "esok" sering kali berarti membiarkan kesempatan berlalu. Lekas bangkit Ranah Minangkabau. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari lingkungan terdekat, dan menyebar ke seluruh penjuru nagari. Bukan esok, tapi hari ini.


Sinergi Ranah dan Rantau, Mambangkik Batang Tarandam.


Ranah Minangkabau sedang memanggil pulang semangat anak-anaknya. Seruan "Lekas Bangkit" bukan sekadar retorika. Melainkan sebuah upaya kolektif untuk Mambangkik Batang Tarandam. Mengangkat kembali marwah, kejayaan, dan potensi yang selama ini terbenam oleh duka panjang atau janji yang tak tunai.


Kebangkitan ini memerlukan dua sayap yang sama kuat. Keteguhan mereka yang menjaga kampung halaman (Ranah) dan kepedulian mereka yang merantau (Rantau). Dalam bingkai adat, keduanya tak terpisahkan.


Pertama, Falsafah Persatuan, Biduak Lalu Kiambang Batawuik.


Duka dan perpecahan masa lalu harus segera disudahi. Jangan biarkan perbedaan pandangan politik atau golongan membuat anak nagari bercerai-berai. Kita harus memegang teguh pepatah "Biduak lalu kiambang batawuik"


Artinya, setelah perahu berlalu, tanaman air kembali menyatu. Sengketa dan selisih paham adalah hal lumrah dalam dinamika, namun setelah badai berlalu, persatuan harus kembali utuh. Kebangkitan Ranah Minang tidak akan terjadi jika kita masih sibuk mencari jarum dalam jerami (mencari kesalahan), Alih-alih mencari penjahit untuk menyatukan kain yang koyak (mencari solusi).


Kedua, Peran Vital Urang Rantau, Sanda Manyanda Bak Aua jo Tebing.


Ranah Minang memiliki aset terbesar yang tersebar di seluruh penjuru dunia: Para Perantau. Hubungan antara Ranah dan Rantau adalah hubungan simbiosis mutlak, sebagaimana digambarkan dalam pepatah. "Sanda manyanda bak aua jo tabiang."


Tebing (kampung halaman) membutuhkan aur (perantau) agar tanahnya tidak longsor oleh zaman, dan aur membutuhkan tebing sebagai tempat akarnya berpijak dan tumbuh.


Para perantau tidak hanya diharapkan mengirimkan materi (pitih), tetapi juga membawa pulang jaring-jaring peradaban: gagasan baru, jaringan (networking) global, teknologi, dan etos kerja profesional. 


Rantau adalah laboratorium tempat orang Minang ditempa, dan hasilnya harus dinikmati pula oleh nagari. Jangan sampai terjadi kacang lupa akan kulitnya, namun jadilah setetes hujan yang menjadi benih di tanah tandus.


Ketiga, Kepemimpinan dan Akal Budi. Alun Takilek Alah Takalam.


Kebangkitan ini menuntut kecerdasan kolektif. Orang Minang dikenal dengan kearifan Alun takilek alah takalam (belum tampak sudah terpahamkan/antisipatif). Kita membutuhkan:


Pemimpin yang Peka : Yang mampu membaca tanda-tanda zaman, bukan pemimpin yang hanya pandai berjanji namun hilia mudik tak tantu arah.

 

Masyarakat yang Kritis namun Solutif: Bangkit dengan akal jernih berarti mengkritik untuk membangun, bukan menghujat untuk menjatuhkan. Lamak di awak katuju di urang (menguntungkan diri sendiri, tapi juga disetujui orang banyak) harus menjadi prinsip dalam setiap pengambilan keputusan publik.


Keempat, Sinergi Basamo Mako Manjadi.


Ranah Minang tidak bisa dibangun oleh satu orang super, tapi oleh super-team yang terdiri dari Ninik Mamak, Alim Ulama, Cerdik Pandai, Bundo Kanduang, dan Pemuda (Parik Paga Nagari).


Saatnya mengimplementasikan prinsip: "Barekk samo dipikua, ringan samo dijinjiang."


Jika beban masalah di Ranah Minang terasa berat, itu karena kita memikulnya sendiri-sendiri. Jika Rantau dan Ranah bersatu padu, investasi masuk, pendidikan dibenahi, dan ekonomi rakyat digerakkan dengan sistem syariah yang nyata, maka keadilan dan kemakmuran bukan lagi mimpi.


Penutup, 

Warisan untuk Generasi Pewaris Marwah. 

Ranah Minangkabau, engkau besar karena persatuan, mulia karena adat, kuat karena iman, dan akan kembali jaya. Karena sinergi anak-anakmu di mana pun berpijak.


Kini waktunya berdiri kembali. Ranah menanti tuah, Rantau memberi buah. Demi generasi yang berhak mewarisi marwah.


Lekas bangkit Ranah Minangkabau. Bukan esok, tapi hari ini. Apakah Anda ingin saya membuatkan versi ringkas dari artikel ini khusus untuk disebarkan di grup WhatsApp komunitas perantau Minang? (*).