![]() |
| Prof.Dr.H.Duski Samad, M.Ag |
Oleh: Duski Samad
Pembelajar Islam dan ABS-SBK UIN Imam Bonjol Padang
Scientia Sacra dan Adat Basandi Syarak sebagai Jalan Pulang Peradaban
Padang - Di tengah krisis multidimensi yang melanda Indonesia. Korupsi yang berulang, kerusakan lingkungan yang masif, serta kegersangan moral di ruang publik. Kita dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar.
Apakah masalah kita sekadar kekurangan regulasi dan teknologi, atau justru kehilangan orientasi nilai dalam cara kita memahami ilmu dan kehidupan?
Filsuf Muslim kontemporer Seyyed Hossein Nasr menyebut akar persoalan modernitas sebagai the desacralization of knowledge. Pengetahuan yang tercerabut dari yang sakral. Ilmu berkembang pesat, tetapi kehilangan jiwa. Manusia semakin canggih, tetapi semakin jauh dari makna.
Dalam konteks Indonesia, terutama di ranah budaya dan pendidikan, kritik Nasr menemukan relevansinya. Kita menyaksikan bagaimana ilmu dipisahkan dari iman, sains diposisikan netral nilai, dan budaya diperlakukan sekadar sebagai ornamen sosial. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara etis.
Di titik inilah konsep Scientia Sacra dan prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS–SBK) menemukan pertautannya yang mendalam.
Ilmu yang Terikat Tauhid.
Scientia Sacra atau Ilmu Suci, menurut Nasr bukanlah penolakan terhadap sains, melainkan kritik terhadap sains yang kehilangan orientasi metafisik. Ilmu sejati, dalam pandangan ini, bersumber dari wahyu, diolah oleh intelek yang tercerahkan, dan diarahkan untuk mengenali keteraturan kosmos sebagai tanda-tanda Tuhan.
Ilmu tidak pernah netral nilai. Ia selalu membawa asumsi tentang manusia, alam, dan tujuan hidup. Ketika Tuhan dikeluarkan dari pusat pengetahuan, maka alam direduksi menjadi objek eksploitasi, dan manusia berubah menjadi sekadar makhluk ekonomi.
Pandangan ini sejalan dengan falsafah ABS–SBK yang menegaskan bahwa adat tidak berdiri sendiri, melainkan bersumber dari syariat, dan syariat berpijak pada Kitabullah. Dalam kerangka ini, budaya bukan hasil konsensus sosial semata, tetapi ekspresi nilai ilahi yang membumi dalam kehidupan masyarakat.
Adat sebagai Tradisi Suci
Sering kali adat dipahami secara dangkal sebagai kebiasaan turun-temurun. Padahal, dalam tradisi Minangkabau, adat. Terutama adat nan sabana adat. Berfungsi sebagai penjaga nilai dan pengatur moral kolektif. Ia mengikat kekuasaan, mengarahkan perilaku, dan membingkai relasi manusia dengan alam.
Inilah yang oleh Nasr disebut sebagai sacred tradition: tradisi yang hidup karena berakar pada wahyu dan hikmah. Ketika adat dilepaskan dari syarak, ia kehilangan legitimasi moral. Sebaliknya, ketika syarak dilepaskan dari konteks adat, ia berisiko menjadi kering dan formalistik.
ABS–SBK menyatukan keduanya dalam satu sistem nilai yang utuh. Sebuah bentuk lokal dari Scientia Sacra yang membumi di Nusantara.
Surau dan Krisis Pendidikan Modern
Sejarah Minangkabau menunjukkan bahwa Scientia Sacra pernah hidup nyata melalui institusi surau. Surau bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat ilmu, pembentukan akhlak, dan penggemblengan kepemimpinan. Di sana, tauhid, adat, dan ilmu bertemu dalam praktik keseharian.
Bandingkan dengan sistem pendidikan modern yang sering kali menekankan capaian kognitif, peringkat, dan sertifikat, tetapi gagal membentuk kepribadian beradab. Ketika pendidikan tercerabut dari nilai sakral, ia melahirkan manusia yang pintar, tetapi mudah menyalahgunakan kekuasaan.
Tak mengherankan bila krisis kepemimpinan dan korupsi struktural terus berulang. Masalahnya bukan sekadar hukum yang lemah, tetapi ilmu yang tidak lagi diikat oleh amanah dan akhlak.
Alam, Amanah, dan Ekologi
Krisis ekologi yang kita hadapi hari ini. Banjir, longsor, deforestasi, juga berakar pada cara pandang terhadap alam. Sains modern melihat alam sebagai sumber daya. Scientia Sacra dan ABS–SBK memandang alam sebagai amanah Tuhan.
Dalam falsafah adat Minangkabau, hubungan manusia dengan alam diikat oleh etika. Merusak alam bukan hanya kesalahan teknis, tetapi pelanggaran moral. Perspektif ini sejalan dengan kosmologi Qur’ani yang memandang alam sebagai ayat-ayat Tuhan yang harus dijaga, bukan ditaklukkan.
Jalan Pulang Peradaban
Indonesia tidak kekurangan konsep pembangunan, tetapi kekurangan orientasi nilai. Menghidupkan kembali semangat Scientia Sacra dan ABS–SBK bukanlah romantisme masa lalu, melainkan ikhtiar strategis untuk menata ulang fondasi peradaban.
Pendidikan harus kembali mempersatukan ilmu, iman, dan budaya. Kepemimpinan harus dipahami sebagai amanah moral, bukan sekadar jabatan administratif. Pembangunan harus berangkat dari etika, bukan hanya angka pertumbuhan.
Ketika ilmu tercerabut dari yang sakral, peradaban runtuh. Ketika adat tercerabut dari syarak, budaya kehilangan arah.
Menghubungkan kembali Scientia Sacra dan Adat Basandi Syarak adalah jalan pulang, agar kemajuan tidak mengorbankan kemanusiaan, dan modernitas tidak mematikan nurani.
Ketika Ilmu kehilangan yang Sakral, Adat menjadi Kosong. Scientia Sacra dan Adat Basandi Syarak sebagai Jalan Pulang Peradaban
Di tengah krisis multidimensi yang melanda Indonesia. Korupsi yang berulang, kerusakan lingkungan yang masif, serta kegersangan moral di ruang publik. Kita dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar. Apakah masalah kita sekadar kekurangan regulasi dan teknologi, atau justru kehilangan orientasi nilai dalam cara kita memahami ilmu dan kehidupan?
Filsuf Muslim kontemporer Seyyed Hossein Nasr menyebut akar persoalan modernitas sebagai the desacralization of knowledge, pengetahuan yang tercerabut dari yang sakral. Ilmu berkembang pesat, tetapi kehilangan jiwa. Manusia semakin canggih, tetapi semakin jauh dari makna.
Dalam konteks Indonesia, terutama di ranah budaya dan pendidikan, kritik Nasr menemukan relevansinya. Kita menyaksikan bagaimana ilmu dipisahkan dari iman, sains diposisikan netral nilai, dan budaya diperlakukan sekadar sebagai ornamen sosial. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara etis.
Di titik inilah konsep Scientia Sacra dan prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS–SBK) menemukan pertautannya yang mendalam. (*).
Komentar