Padang, fajarsumbar.com - Gema persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026 mulai memanas, namun sebuah catatan minor mewarnai langkah awal koordinasi teknis yang disusun oleh KONI Provinsi Sumatera Barat. Di tengah upaya menyamakan persepsi dan mematangkan administrasi, ketidakhadiran cabang olahraga sepak bola dan futsal dalam rapat verifikasi pada Kamis (26/2/2026) menjadi sorotan utama. Pertemuan yang digelar di Sekretariat KONI Sumbar, Jalan Rasuna Said, Padang ini sejatinya merupakan pilar krusial untuk memastikan setiap cabang olahraga memiliki kesiapan matang sebelum berlaga pada Oktober mendatang.
Ketidakhadiran unsur pengurus sepak bola dan futsal terasa kontras dengan antusiasme 11 cabang olahraga lainnya yang hadir memenuhi undangan pada hari pertama. Panitia pelaksana merasa perlu menekankan pentingnya kehadiran fisik dan komunikasi administratif, mengingat Porprov bukan sekadar kompetisi biasa, melainkan agenda resmi daerah yang melibatkan koordinasi lintas sektor. Ketua Panitia Porprov Sumbar, Dr. Septri, mengungkapkan kekecewaannya atas sikap pasif yang ditunjukkan oleh pengurus cabang olahraga tersebut, padahal seluruh jalur komunikasi telah diupayakan secara maksimal.
Menurut Dr. Septri, pihak panitia telah menjalankan prosedur pemanggilan secara profesional dan terjadwal. "Undangan digital sudah kami kirim sejak 19 Februari 2026. Bahkan H-1 sudah kami ingatkan kembali melalui pesan yang tercentang sebagai tanda terkirim dan terbaca," ujar Dr. Septri pada Kamis (26/2/2026). Upaya proaktif tersebut bahkan berlanjut hingga menit-menit terakhir sebelum rapat dimulai, di mana sekretariat mencoba melakukan panggilan telepon langsung kepada pengurus terkait, namun tetap nihil respons.
Hal ini menimbulkan spekulasi dan kekhawatiran mengenai keseriusan pengelolaan cabang olahraga yang paling populer di masyarakat tersebut. Dr. Septri menegaskan bahwa ketidakhadiran tanpa alasan yang jelas merupakan indikator buruk bagi tata kelola olahraga di tingkat provinsi. "Pada hari H juga sudah kami telepon, tetapi tidak ada respons. Artinya secara administratif dan komunikasi, kami sudah menjalankan prosedur. Jika tidak hadir tanpa keterangan, ini tentu menjadi catatan serius bagi panitia," tegasnya. Beliau menambahkan bahwa sikap tersebut dapat dimaknai sebagai sinyal ketidaksiapan untuk berpartisipasi dalam ajang bergengsi ini.
Keresahan panitia sangat beralasan, mengingat waktu persiapan yang kian menyempit. Ketegasan panitia ini bertujuan untuk menjaga marwah Porprov sebagai wadah prestasi yang terukur dan disiplin. Dr. Septri secara blak-blakan menyebutkan bahwa komitmen penuh adalah syarat mutlak bagi setiap cabor. "Kalau tidak hadir tanpa keterangan yang jelas, ini bisa dimaknai belum ada keseriusan untuk dipertandingkan. Porprov adalah agenda resmi daerah, sehingga kami membutuhkan komitmen penuh dari setiap cabor," tambahnya.
Selaras dengan hal tersebut, Ketua Umum KONI Sumbar, Hamdanus, menekankan bahwa verifikasi ini bertujuan untuk memotret kesiapan teknis maupun administrasi agar tidak ada kendala yang menghambat saat hari pelaksanaan. Komitmen sejak tahap awal dianggap sebagai pondasi utama kesuksesan acara. "Pertemuan ini untuk memastikan kesiapan teknis dan administrasi masing-masing cabang olahraga. Kami ingin semuanya terdata, terkoordinasi, dan siap sejak awal agar Porprov berjalan sukses," ungkap Hamdanus.
Persoalan ini menjadi semakin mendesak untuk diselesaikan mengingat sebanyak 11 kabupaten/kota telah menyatakan kesiapan mereka menjadi tuan rumah bersama. Dengan koordinasi yang sudah terbangun di tingkat daerah, ketidakhadiran di tingkat provinsi justru dapat menjadi sandungan bagi kelancaran Rakornis yang dijadwalkan pada 7 Maret mendatang. Meskipun ruang klarifikasi masih dibuka, mata publik kini tertuju pada pengurus sepak bola dan futsal Sumbar untuk segera memberikan penjelasan atas keheningan mereka di tengah hiruk-pikuk persiapan menuju Porprov XVI 2026. (ril/ton)
Komentar