![]() |
| . |
Padang, fajarsumbar.com - Di sebuah sudut sejarah pers Sumatera Barat, nama Dr. H. Amiruddin, S.H., M.H. berdiri sebagai potret ketekunan yang tidak pernah berisik, tetapi konsisten menoreh jejak. Ia bukan hanya wartawan, bukan semata advokat, dan bukan pula sekadar akademisi. Ia adalah kombinasi ketiganya—figur yang meniti jalan panjang dengan bekal kejujuran, keikhlasan, dan kemauan keras, nilai yang sejak lama ia yakini sebagai kunci membuka pintu keberhasilan.
Lahir di Ombilin, 17 Juli 1960, sebagai anak kelima dari enam bersaudara pasangan Sanin Pakie Bagindo dan Hj. Badina, Amiruddin tumbuh dari lingkungan sederhana yang membentuk daya juang kuat. Masa kecilnya tidak diwarnai kemewahan, tetapi oleh pendidikan nilai: disiplin, tanggung jawab, dan penghormatan pada ilmu. Dari fondasi inilah perjalanan panjangnya bermula.
Jejak pendidikannya menunjukkan mobilitas dan keteguhan. Sekolah Dasar ia selesaikan di Pulau Kijang, Indragiri Hilir, Riau, tahun 1973. Ia melanjutkan ke SMP hingga 1976, lalu menamatkan SMA Negeri Padang Panjang pada 1980. Pilihannya jatuh pada Fakultas Hukum Universitas Andalas, tempat ia meraih gelar sarjana hukum pada 1988. Dahaga ilmunya tak berhenti di sana—gelar magister hukum ia tuntaskan di UNES Padang pada 2007, sebelum akhirnya meraih doktor hukum dari Universitas Andalas pada 2016.
Namun, jauh sebelum gelar doktor disandang, dunia jurnalistik sudah lebih dulu menjadi ladang pengabdian. Amiruddin memulai karier sebagai wartawan pada 1982. Ia ditempa di lapangan, di Tanah Datar, bersama nama-nama jurnalis senior seperti H. Bakhtiar Danau, Zulfikar Gatot, Nazar Tanjung, Jaratan, dan Zainun. Di era ketika jurnalisme masih bertumpu pada ketajaman naluri dan keberanian turun langsung, ia belajar bahwa integritas adalah mata uang paling mahal.
Kariernya menanjak seiring pengalaman. Ia pernah menjadi wartawan Majalah Detektif Informasi Kriminal (DETIK) pada 1983–1990, mengikuti Lokakarya Wartawan Nasional tentang Ekologi Pembangunan di Bandung tahun 1988, serta tercatat sebagai Wartawan ASEAN sejak 1989 dengan kartu ASEAN Press. Kiprahnya bahkan menembus batas negara saat mengikuti Program 11th NSK–CAJ Fellowship di Jepang pada 1988, pengalaman internasional yang memperluas perspektifnya tentang peran pers dalam pembangunan.
Di Sumatera Barat, ia bukan nama asing di tubuh organisasi profesi. Empat periode ia dipercaya sebagai Wakil Ketua PWI Sumbar, memegang bidang pembelaan wartawan, hubungan antar lembaga, hingga hubungan kerja sama untuk periode 2024–2029. Posisi ini menegaskan reputasinya sebagai figur yang memahami bukan hanya praktik jurnalistik, tetapi juga advokasi profesi.
Di sisi lain, dunia hukum berjalan beriringan. Lulus ujian advokat pada 1993, ia aktif mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari Peradilan Tata Usaha Negara, pelatihan mediator Mahkamah Agung, hingga pelatihan ahli Dewan Pers pada 2010. Kombinasi ini menjadikannya jembatan antara pers dan hukum—dua ranah yang sering bersinggungan, kadang berseberangan.
Organisasi advokat menjadi medan pengabdian berikutnya. Ia pernah memimpin IKADIN Padang, menjadi Koordinator Wilayah IKADIN Sumbar, Riau, dan Kepri, duduk di Komisi Pengawas Advokat Nasional, hingga berulang kali menjabat Ketua DPC PERADI Padang. Kini ia mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Kehormatan Daerah PERADI Padang periode 2022–2027 serta penasihat di tingkat nasional. Rekam jejak ini menunjukkan konsistensi dalam menjaga etika profesi.
Di dunia media, Amiruddin juga pernah menjadi Kepala Bagian Pengawasan dan Pengendalian Harian Umum Singgalang (1995–1998) dan hingga kini menjadi Penasehat Hukum Singgalang Group sejak 1989. Sejak 2020, ia berbagi ilmu sebagai dosen pascasarjana di UNES Padang, mentransfer pengalaman lapangan ke ruang akademik.
Penghargaan sebagai wartawan senior dari Pemerintah Kabupaten Tanah Datar menjadi pengakuan atas kontribusinya di daerah. Tetapi bagi Amiruddin, capaian bukanlah panggung untuk berpuas diri. Baginya, profesi adalah amanah, dan ilmu adalah bekal untuk terus memberi.
Dalam dirinya, jurnalisme bukan sekadar menulis berita, hukum bukan hanya perkara pasal, dan pendidikan bukan cuma gelar. Semuanya berpadu menjadi jalan pengabdian panjang—sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa kemauan yang jujur dan langkah yang ikhlas memang selalu menemukan jalannya.(*)
Komentar