Harga Cabai dan Bawang Turun, Dorong Deflasi di Sumbar -->

AdSense New

Harga Cabai dan Bawang Turun, Dorong Deflasi di Sumbar

Rabu, 04 Februari 2026

 

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumbar.



Padang – Sumatera Barat mencatat deflasi sebesar 1,15 persen secara bulanan pada Januari 2026, menjadikannya deflasi terdalam di tingkat nasional, bahkan lebih tinggi dibandingkan daerah terdampak bencana lain seperti Aceh dan Sumatera Utara.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat, Andy Setyo Biwado, menyatakan deflasi ini dipicu oleh membaiknya pasokan barang dan kelancaran distribusi seiring percepatan pemulihan pascabencana oleh pemerintah pusat dan daerah.

“Perbaikan sarana transportasi dan distribusi, serta respons aktif pemerintah daerah, sangat membantu normalisasi pasokan dan menekan harga di tingkat konsumen,” ujar Andy dalam keterangan resmi, Selasa (3/2/2026).

Deflasi terutama berasal dari kelompok pangan bergejolak, khususnya penurunan harga cabai merah dan bawang merah akibat normalisasi pasokan dari sentra produksi lokal serta tambahan dari Sumatera Utara dan Jawa. Namun, deflasi tertahan oleh inflasi pada beberapa komoditas pangan seperti beras dan tomat, yang dipengaruhi faktor musiman dan dampak bencana pada sebagian lahan pertanian.

Dari kelompok harga yang diatur pemerintah, diskon 50 persen tarif Perusahaan Air Minum (PAM) Kota Padang menyumbang deflasi 0,12 persen, sementara turunnya tarif angkutan antarkota 17,22 persen memberikan andil 0,05 persen. Di sisi lain, inflasi tetap muncul dari kenaikan harga emas perhiasan, yang mengikuti tren global, menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar 0,13 persen, diikuti tomat, beras, ikan nila, dan ikan asin teri.

Secara daerah, seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat mengalami deflasi. Pasaman Barat mencatat deflasi terdalam 1,84 persen, diikuti Kota Padang 1,02 persen, Dharmasraya 0,92 persen, dan Bukittinggi 0,73 persen, sejalan dengan membaiknya pasokan hortikultura.

Meski terjadi deflasi bulanan, inflasi tahunan Sumatera Barat masih di atas target nasional, yakni 3,92 persen, terdorong efek basis rendah dari diskon tarif listrik 2025, kenaikan harga emas, mobil, serta depresiasi rupiah. Harga beberapa pangan strategis seperti beras dan cabai rawit tetap tinggi meski mulai membaik dibanding akhir 2025.

Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia Sumatera Barat bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan memperkuat sinergi melalui operasi pasar, Gerakan Pangan Murah, kerja sama antardaerah, dan komunikasi kebijakan. 

Andy menegaskan upaya ini bertujuan agar inflasi tetap terkendali di target nasional 2,5 plus minus 1 persen pada 2026, menghadapi risiko peningkatan permintaan menjelang Ramadan dan Idul Fitri serta fluktuasi harga global.(des*)