Prosesi Ibadah Haji Perjalanan Spritual ke Tanah Suci Butuh Istita’ah Badaniah dan Bathiniah -->

AdSense New

Prosesi Ibadah Haji Perjalanan Spritual ke Tanah Suci Butuh Istita’ah Badaniah dan Bathiniah

Senin, 16 Februari 2026
Kepala Kanwil Kemenhaj Sumatera Barat, Dr.H.M.Rifki berikan pengarahan dihadapan calon jamaah haji tingkat Padang Pariaman di Masjid Jihad Kabun, Pauh Kamba, Nan Sabarih, Senin 16 Februari 2026 (foto.aa) 

Pauh Kamba - Suasana haru dan kekhusyukan menyelimuti penutupan manasik haji tingkat Kabupaten Padang Pariaman yang digelar di Masjid Jihad Kabun, Pauh Kambar, Nan Sabaris, pada Senin (16/2/2026).


Ratusan Calon Jamaah Haji tampak larut dalam suasana religius, menyadari bahwa perjalanan menuju Tanah Suci bukan hanya perjalanan fisik, melainkan ujian keteguhan hati, kesabaran, serta kemurnian niat.


Momentum itu sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap langkah menuju Baitullah adalah pertaruhan spiritual yang tidak boleh dipandang sebagai rutinitas seremonial semata.


Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Sumatera Barat, Dr. H. Muhammad Rifki, menegaskan bahwa kesiapan jamaah tidak cukup hanya diukur dari kemampuan finansial.


Ia mengingatkan pentingnya istita’ah badaniah dan bathiniah, yakni kesiapan fisik serta mental. 


Bahkan, ia menyoroti tradisi shalat sunat musafir di rumah ibadah dekat rumah sebelum keberangkatan. "Ini sebagai simbol penyerahan diri total kepada Allah SWT, sekaligus penguatan spiritual sebelum menempuh perjalanan panjang yang sarat tantangan," tuturnya menyentuh. 


Gelombang keberangkatan Kloter 5 dijadwalkan memasuki Asrama Haji Embarkasi Padang pada 28 April 2026.


Sehari berselang, rombongan jamaah dari Padang Pariaman bersama jamaah asal Bengkulu akan menjadi bagian dari gelombang pertama yang lepas landas dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menuju Jeddah menggunakan maskapai Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan 3505, sebelum melanjutkan perjalanan ke Madinah.


Setibanya di Madinah, para jamaah dijadwalkan menetap selama delapan hari untuk melaksanakan ibadah dan menunaikan shalat Arbain di Masjid Nabawi.


Di kota suci yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Rasulullah SAW itu, jamaah diharapkan mampu memaksimalkan waktu untuk memperbanyak ibadah, introspeksi diri, serta memperkuat keimanan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makkah.


"Prosesi ibadah kemudian berlanjut dengan pelaksanaan umrah wajib yang diawali dengan niat dan mengenakan pakaian ihram di Bir Ali," ucapnya. 


Tahapan ini disebut Rifki sebagai titik awal pengorbanan total seorang hamba, karena sejak saat itu jamaah memasuki fase ibadah yang menuntut kesabaran tinggi, disiplin ketat, serta pengendalian diri dari berbagai larangan ihram yang tidak ringan dijalani.


Di sisi lain, Rifki secara tegas mengingatkan agar jamaah tidak mengabaikan faktor kesehatan. Ia menilai, banyak kasus jamaah gagal menuntaskan rangkaian ibadah karena lalai menjaga kondisi tubuh.


Ia mendorong jamaah untuk terus memperdalam ilmu yang telah diperoleh selama manasik, baik melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah maupun pembinaan tingkat kecamatan dan kabupaten, agar tidak tersesat dalam praktik ibadah di Tanah Suci.


Kloter 5 Padang sendiri dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada 8 Juni 2026 menggunakan penerbangan Garuda Indonesia nomor 3805 dari Jeddah pukul 07.05 WAS dan diperkirakan tiba kembali di Bandara Internasional Minangkabau pukul 20.20 WIB. 


Kepulangan itu diharapkan bukan sekadar membawa gelar haji, tetapi juga membawa perubahan moral dan spiritual yang mampu menjadi teladan bagi keluarga serta masyarakat di kampung halaman.(saco).