![]() |
| Bupati John Kenedy Azis |
Padang Pariaman - Tak ada nada basa-basi dalam sambutan itu. Di Rumah Dinas Bupati Padang Pariaman, Rabu petang (4/3/2026), John Kenedy Azis memilih berbicara terus terang.
Di hadapan para wartawan dan organisasi kepemudaan se-Padang Pariaman yang duduk menanti azan Magrib, ia mengungkap kenyataan pahit Anggaran daerah dipangkas Rp145 miliar akibat kebijakan efisiensi melalui Inpres 25 tahun 2025.
“Kalau anggaran kita seperti 2023 atau 2024, pembangunan akan lapuak lapak,” ucapnya, dengan nada yang sulit disembunyikan kegelisahannya.
Momentum berbuka puasa bersama itu sejatinya digelar untuk mempererat silaturahmi antara Bupati, Wakil Bupati, dan insan pers di Bulan Suci Ramadhan 1447 H. Namun suasana menjadi lebih dari sekadar pertemuan santai.
Percakapan mengalir ke soal infrastruktur pascabencana. Jembatan yang putuih, irigasi yang jebol, hingga proyek-proyek yang tertunda karena keterbatasan fiskal. Realitas di lapangan tak bisa ditutupi oleh hidangan di meja.
Ia menyinggung bagaimana tekanan efisiensi membuat pemerintah daerah harus memutar otak. Dengan dana yang menyusut, prioritas dipertajam.
Namun kebutuhan masyarakat tak ikut menyusut. Petani tetap menunggu saluran air diperbaiki. Warga tetap berharap akses jalan kembali normal.
“Kita bekerja dengan kondisi yang tidak mudah,” katanya, menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap berupaya maksimal di tengah keterbatasan. Gerakan gotong royong bersihkan Perumahan di Kssang, SD di Katapiang dan Muaro Ulakan kita normalisasi.
Di tengah kritik dan kekhawatiran, secercah optimisme tetap diangkat. Ia menyebut sudah sembilan menteri berkunjung ke rumah dinasnya.
Kunjungan itu diharapkan menjadi pintu masuk dukungan konkret pemerintah pusat. Bagi John Kenedy Azis, komunikasi intensif dengan pusat adalah salah satu jalan agar pembangunan tidak benar-benar terhenti.
Bahkan soal kecil pun tak luput dari perhatian. Bantalan rel kereta api yang sebelumnya memicu kekhawatiran warga kini telah dipagar demi keselamatan di arena Pacuan Kudo.
Langkah itu mungkin tampak sederhana, tetapi menjadi simbol bahwa pemerintah tetap hadir, meski ruang geraknya terbatas oleh angka-angka di atas kertas anggaran.
Menjelang berbuka, pembicaraan beralih pada agenda budaya. Pacu Kudo II yang dijadwalkan 28–29 Maret 2026.
Ia berharap event itu bukan hanya perayaan tradisi, tetapi penggerak ekonomi rakyat. Di tengah tekanan fiskal, sektor pariwisata dan budaya menjadi harapan untuk menjaga denyut perputaran uang masyarakat.
Suasana kemudian hening ketika tausyiah disampaikan oleh Syafral Abdi. Dalam pesannya, ia mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah dan kebersamaan adalah kekuatan.
Di antara kurma dan segelas air, terselip doa agar Padang Pariaman tak hanya mampu bertahan, tetapi bangkit lebih kokoh. Meski badai efisiensi anggaran masih mengguncang.(saco).
Komentar