Bupati Padang Pariaman Hidupkan Lagi Jembatan Nyaris Mati dari Tampung Program Putar Roda Jemput Aspirasi -->

AdSense New

Bupati Padang Pariaman Hidupkan Lagi Jembatan Nyaris Mati dari Tampung Program Putar Roda Jemput Aspirasi

Sabtu, 25 April 2026
Bupati John Kennedy Azis didampingi Pj Sekdakab Hendra Aswara, Kepala OPD, Wali nagari dan tokoh masyarakat VII Koto, resmikan rajang Kampuang Dama, Lareh Nan Panjang Selatan, Jum'at 24 April 2026 (foto.ikp) 

VII Koto - Tak ada iring-iringan mobil dinas. Hanya suara mesin sepeda motor yang meraung pelan saat Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, menembus jalan menuju Kampuang Dama, di Nagari Lareh Nan Panjang Selatan, Kecamatan VII Koto, Jumat (24/4/2026).


Ia membonceng Ketua TP PKK. Ini sebuah gestur sederhana yang justru terasa seperti sindiran keras. Pembangunan tak butuh kemewahan, tapi keberanian turun langsung.


Di ujung perjalanan itu berdiri Rajang Kampuang Dama. Dulu rapuh, nyaris roboh, bahkan sempat menjadi ancaman nyawa.


Selama bertahun-tahun, jembatan ini seperti simbol pembiaran. Akses vital yang dibiarkan sekarat, sementara warga menanggung dampaknya dalam diam.


Bukan satu atau dua tahun penderitaan itu berlangsung. Tiga hingga empat tahun lamanya masyarakat hidup dalam keterbatasan. 


Anak-anak sekolah memutar jauh, hasil tani tertahan, bahkan akses menuju layanan kesehatan terasa seperti perjuangan. Ketika jembatan runtuh diterjang banjir 2025, harapan pun ikut hanyut.


Kini, Rajang sepanjang 60 meter dan lebar 2 meter itu kembali berdiri. Sederhana, belum permanen, tapi cukup untuk menghidupkan kembali denyut yang sempat hilang.


Di atasnya, bukan hanya orang yang melintas  Melainkan juga harapan yang perlahan kembali bernyawa.


Yang paling menohok, proyek ini lahir bukan dari agenda elit, melainkan dari keluhan warga yang ditangkap saat program “Putar Roda Jemput Aspirasi”.


Hal demikian, sebuah ironi. Masalah sebesar ini baru benar-benar bergerak setelah didengar di jalan, bukan di forum resmi.


“Di tengah efisiensi anggaran, kami tetap memprioritaskan ini,” ujar John Kenedy Azis. Kalimat itu terdengar tegas, tapi juga menyisakan tanya. Mengapa kebutuhan sepenting ini harus menunggu begitu lama untuk diprioritaskan?


Ia pun tak menutup fakta bahwa jembatan ini masih semi permanen. Sebuah pengakuan jujur, sekaligus alarm keras bahwa pekerjaan belum selesai. Jika tak dijaga dan ditingkatkan, sejarah kerusakan bisa saja terulang, dan warga kembali menjadi korban.


Di sisi lain, Wali Nagari Zainal mengingat betul betapa panjangnya perjuangan ini. Sejak 2018, usulan demi usulan ia ajukan, nyaris tanpa hasil berarti.


Rehabilitasi 2021 hanya tambal sulam. Hingga akhirnya, pada 2025, jembatan benar-benar tak bisa dilewati. “Ini mimpi yang terlalu lama ditunda,” katanya.


Peresmian ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengingat keras bahwa keterlambatan pembangunan punya harga mahal. Waktu, tenaga, bahkan keselamatan warga.


Dan hari Jum'at siang itu, di atas jembatan yang baru bangkit dari “kematian”, masyarakat seperti sedang menagih satu hal. Jangan biarkan kami menunggu selama itu lagi.(saco).