Jaga Keutuhan Nilai Empat Pilar Kebangsaan di Bumi Minang -->

AdSense New

Jaga Keutuhan Nilai Empat Pilar Kebangsaan di Bumi Minang

Kamis, 16 April 2026
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di aula DPW PKS Sumbar, Kota Padang.



Padang, fajarsumbar.com-Filosofi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di Minangkabau menciptakan harmoni yang khusus dengan nilai-nilai empat pilar kebangsaan dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Karena itu, falsafah hidup masyarakat Minang dan nilai-nilai empat pilar kebangsaan harus terus dipertahankan dan diadaptasikan dalam kehidupan sehari-sehari yang terus berubah dengan terjadinya perubahan zaman.

Hal itu diungkapkan anggota DPD/MPR-RI, Buya Muslim M. Yatim dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, Kamis (15/3). Kegiatan yang diinisiasi oleh Yayasan Palito Minang Berdaya ini dilaksanakan di aula kantor DPW PKS Sumbar, Kota Padang.

Menurut Buya Muslim M. Yatim, masyarakat Minang mempunyai modal sosial dalam menjaga harmonisasi dan menjawab tantantang zaman. Terutama, terkait dengan masalah sosial yang semakin pelik, seperti degadensi moral. "Masyarakat Minang punya ABSBK yang selaras dengan nilai-nilai empat pilar kebangsaan," ujar Buya Muslim M. Yatim.

Tantangan yang semakin besar terkait perubahan zaman menurut Buya Muslim M. Yatim mestinya memberi kesadaran bagi segenap anak bangsa untuk selalu mengaktualisasikan nilai-nilai empat pilar kebangsaan. Demikianpun, dalam konteks Sumatera Barat, nilai-nilai yang berakar pada falsafah ABSSBK harus tetap dipertahankan.

Masyarakat Sumatera Barat menurut Buya Muslim M. Yatim saat ini merasakan bentul dampak perubahan zaman. Terutama, pengaruh globalisasi yang mengancam moral, demokrasi, dan keutuhan bangsa. Banyak persolan yang terjadi di tengah masyarakat yang memperlihatkan semakin rapuhnya nilai-nilai kehidupan. Misalnya, kasus pembunuhan, bunuh diri, dan terutama konflik dalam media sosial.

Tantangan besar ini menurut Buya Muslim M. Yatim bisa dihadapi dengan menjaga keutuhan nilai-nilai empat pilar kebangsaan. "Para pendiri bangsa sudah menyiapkan antisipasi untuk menghadapi tantang itu dengan Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika," jelas Buya Muslim M. Yatim.

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan kali ini mengambil tema: "Menjaga Keutuhan Nilai-Nilai 4 Pilar Kebangsaan dalam Bumi Minang”. Selain Buya Muslim M. Yatim sebagai pemateri, ada pemeteri lainnya dari kalangan praktisi dan akademisi, yaitu Sultani dan Edo Andrefson.

Pemateri menyampaikan esensi kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan. Kegiatan ini bukan saja sekadar tugas dan tanggung jawab DPD/MPR-RI sesuai yang diamanatkan Undang-undang, lebih dari itu, kegiatan ini sangat penting dalam menjaga keutuhan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan.

Sosialisasi empat pilar diikuti ratusan peserta yang berasal dari kalangan ulama, cerdik pandai, bundo kanduang, dan tokoh masyarakat lainnya. Dalam sesi tanya jawab, peserta sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah tentang tantangan mendasar menjaga keutuhan nilai-nilai empat pilar di tengah atus digitalisasi.

Di tengah dunia yang semakin digital dengan kehadiran medsos, tantangan terbesarnya adalah dengan maraknya hoaks dan konten provokatif. "Tantangan terbesarnya adalah persebaran hoaks dan konten provokatif yang dapat memicu sentimen kedaerahan yang sempit atau radikalisme yang mengancam persatuan," ujar Sultani yang merupakan mantan anggota DPRD Sumbar.

Edo Andrefson menekankan agar masyarakat memiliki filter terhadap budaya luar yang negatif dan tetap bangga pada identitas nasionalnya, sehingga mampu berkontribusi bagi kemajuan daerah tanpa kehilangan semangat nasionalisme. "Menjaga keutuhan nilai-nilai empat pilar kebangsaan adalah tanggung jawab kita bersama," ujar Edo Andrefson. (Zal)