![]() |
| Ketua TP PKK Padang Pariaman, Ny. Nita Azis ikut berikan Imunisasi Bayi di Puskesmas Telah Mundam, Nagari Katapiang, Barang Anai, Senin 13 April 2026 (foto.ikp) |
Batang Anai - Langkah berani diambil Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman dengan meluncurkan Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) berbasis Integrasi Layanan Primer (ILP) Sedap Malam.
Bertempat di Puskesmas Talao Mundam, Nagari Katapiang, Kecamatan Batang Anai, Senin (13/4/2026) program ini tak sekadar seremoni, ia menjadi sinyal kuat bahwa wajah pelayanan publik di tingkat akar rumput sedang dirombak total.
Tak lagi sekadar tempat menimbang bayi dan memeriksa kesehatan ibu, Posyandu kini didorong menjadi pusat layanan terpadu yang menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat.
Mulai dari pendidikan, perumahan, hingga ketenteraman lingkungan, semua ditarik masuk dalam satu simpul pelayanan berbasis komunitas.
Di balik gebrakan ini, Ketua Tim Pembina Posyandu Padang Pariaman, Nita Christanti Azis, tampil sebagai motor penggerak.
Dalam peluncuran itu, ia menegaskan bahwa perubahan ini bukan kosmetik birokrasi, melainkan strategi besar untuk mendekatkan negara ke denyut nadi masyarakat paling bawah.
Lebih dari itu, peran kader Posyandu ikut berevolusi. Mereka kini bukan hanya pencatat tumbuh kembang anak, tetapi juga “mata dan telinga” pemerintah di lapangan. Menyerap keluhan warga, mulai dari rumah tak layak huni hingga keresahan sosial dan gangguan keamanan lingkungan.
Semua data yang terkumpul tak akan berhenti di meja kader. Ia akan mengalir cepat ke berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dari Dinas Kesehatan hingga Satpol PP, untuk ditindaklanjuti secara konkret. Sistem ini dirancang agar respons pemerintah tak lagi lambat dan berbelit.
Ambisi besar ini tentu tidak instan. Dengan sekitar 800 Posyandu yang tersebar di seluruh wilayah Padang Pariaman, implementasi program akan dilakukan bertahap.
Namun arah kebijakan sudah jelas. Integrasi, kecepatan, dan ketepatan sasaran menjadi kata kunci.
Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin kompleks, Posyandu kini diposisikan sebagai garda terdepan. Bukan hanya mendeteksi masalah, tetapi juga menjadi penghubung solusi.
Jika berjalan konsisten, program ini berpotensi mengubah Posyandu dari simbol layanan sederhana menjadi episentrum perubahan sosial di tingkat nagari dan desa.(saco).
Komentar