Oleh: Prof.Dr.H.Duski Samad, M.Ag
suraudigitalprofessortuanku#series112.27042026.
Padang - Artikel ini dibuat sebagai respon dari tulisan Prof. Masri Mansoer Ketua Umum BP2DM Ranah dan Rantau yang di share di group WA, hari ini Senen, 27 April 2026.
Tulisan Prof.Masri Mansoer, M.Ag sesungguhnya bukan sekadar potret kondisi Sumatera Barat hari ini. Tetapi sebuah kegelisahan intelektual yang lahir dari kecintaan terhadap masa depan Minangkabau.
Ia membaca realitas dengan jujur. Di satu sisi Sumbar memiliki kekuatan budaya yang kokoh. Namun di sisi lain menghadapi tantangan serius dalam kualitas pendidikan, sumber daya manusia, dan kondisi gizi masyarakat.
Kita seperti berdiri di persimpangan sejarah. Di belakang, terbentang kejayaan tradisi. Surau yang melahirkan ulama besar, budaya merantau yang membentuk mental tangguh, serta falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) yang menjadi penyangga moral masyarakat.
Namun di depan, terbuka jalan panjang menuju Indonesia Emas 2045 yang menuntut kualitas, inovasi, dan daya saing global. Pertanyaannya menjadi mendasar. Apakah modal kultural yang besar itu cukup untuk menjawab tantangan zaman?
Jawabannya tidak cukup jika hanya dirawat sebagai simbol. Ia harus dihidupkan kembali sebagai sistem yang bekerja.
Realitas pendidikan di Sumatera Barat hari ini menunjukkan capaian yang menggembirakan secara angka, tetapi menyisakan kegelisahan dalam mutu. Sekolah memang banyak, partisipasi tinggi, tetapi kualitas belum merata.
Surau yang dahulu menjadi pusat pembentukan karakter kini semakin kehilangan peran, sementara sekolah modern belum sepenuhnya mampu menggantikan ruh pendidikan tersebut.
Di sinilah terjadi kekosongan. Generasi yang cerdas secara akademik, tetapi belum tentu kokoh secara karakter.
Dalam konteks sumber daya manusia, orang Minangkabau dikenal unggul dalam kemampuan komunikasi, adaptasi, dan jiwa kewirausahaan.
Tradisi merantau telah membuktikan itu. Namun tantangan zaman kini tidak hanya membutuhkan kecakapan sosial. Tetapi juga penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan energi masa depan.
Ketimpangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri membuat banyak lulusan tidak terserap secara optimal. Ini bukan semata persoalan lapangan kerja, tetapi persoalan arah pendidikan itu sendiri.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi gizi masyarakat. Stunting dan anemia bukan sekadar isu kesehatan, tetapi ancaman langsung terhadap kualitas generasi masa depan.
Anak-anak yang tumbuh tanpa gizi yang cukup tidak hanya terhambat secara fisik, tetapi juga secara intelektual. Jika ini tidak diatasi, maka Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi slogan tanpa isi.
Namun Minangkabau tidak pernah kekurangan harapan. Sejarahnya adalah sejarah kebangkitan. Dari rahim budaya dan adatnya, selalu lahir tokoh-tokoh yang mengubah arah zaman. Jadi pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu, tetapi bagaimana kita menyusun strategi yang tepat.
Langkah pertama harus dimulai dari kebudayaan itu sendiri. ABS-SBK tidak boleh berhenti sebagai semboyan, tetapi harus menjadi sistem hidup yang menjiwai pendidikan, ekonomi, dan tata kelola nagari. Adat salingka nagari harus diperkuat sebagai basis pembangunan berbasis komunitas.
Surau perlu dihidupkan kembali, bukan sekadar sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai pusat pembinaan karakter dan literasi digital. Di sanalah nilai dan pengetahuan bertemu, membentuk manusia yang utuh. Berilmu, beriman, dan berakhlak.
Pada saat yang sama, kekuatan besar Minangkabau yang tersebar di perantauan harus diorganisir secara strategis. Perantau bukan hanya pengirim uang, tetapi pemilik jaringan global, ilmu pengetahuan, dan pengalaman yang berharga.
Jika potensi ini dikonsolidasikan, maka akan lahir kekuatan baru. Nagari yang terhubung dengan dunia. Transfer ilmu, investasi, dan jejaring bisnis harus menjadi agenda bersama, bukan gerakan sporadis.
Kelas menengah Minangkabau di rantau juga memiliki peran penting. Mereka hadir di berbagai sektor. Bisnis, birokrasi, politik, akademik, hingga filantropi.
Jika mereka disatukan dalam visi yang sama, maka akan terbentuk kekuatan penggerak yang mampu mempengaruhi kebijakan, membangun ekonomi, dan menggerakkan perubahan sosial. Di tangan mereka, Minangkabau bisa berbicara di tingkat nasional bahkan global.
Di sisi lain, generasi milenial Minangkabau harus dipersiapkan sebagai aktor utama masa depan. Mereka tidak cukup hanya mewarisi tradisi, tetapi harus mampu mentransformasikannya dalam dunia modern.
Penguasaan teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan energi hijau menjadi keniscayaan. Pendidikan harus diarahkan untuk melahirkan generasi yang tidak hanya pandai, tetapi juga kreatif dan inovatif.
Ekonomi Sumatera Barat pun harus bertransformasi. Dari ekonomi tradisional menuju ekonomi kreatif yang berbasis inovasi dan budaya.
Kuliner Minangkabau, seperti rendang, bukan hanya makanan, tetapi identitas global. Tenun, songket, dan seni budaya lainnya harus naik kelas menjadi produk bernilai tinggi. Dunia digital membuka peluang besar untuk itu, jika dikelola dengan serius.
Tidak kalah penting, gaya hidup religius masyarakat Minangkabau dapat menjadi kekuatan ekonomi sekaligus spiritual.
Tradisi haji, umrah, wisata dakwah, serta pertemuan keluarga dan kaum di berbagai negara dapat dikembangkan menjadi ekosistem yang memperkuat identitas sekaligus ekonomi. Ini bukan sekadar perjalanan, tetapi penguatan jaringan sosial dan budaya lintas negara.
Semua itu perlu didukung dengan pengembangan wisata terintegrasi. Sumatera Barat memiliki kekayaan luar biasa. Sejarah ulama, jejak perjuangan bangsa, kuliner kelas dunia, dan keindahan alam yang memukau.
Jika dikemas secara terpadu. Wisata akademik, sejarah, budaya, kuliner, dan alam. Tentu, Sumbar tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi pusat pembelajaran peradaban.
Pada akhirnya, perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 bukanlah perjalanan yang mudah. Ia membutuhkan keberanian untuk berubah, kesadaran untuk berbenah, dan komitmen untuk bergerak bersama. Sumatera Barat memiliki semua modal itu. Budaya, tradisi, jaringan, dan semangat kolektif.
Kini yang dibutuhkan adalah langkah nyata. Dari surau ke sekolah, dari nagari ke dunia, dari tradisi ke inovasi.
Jika itu mampu dilakukan, maka Minangkabau tidak hanya akan ikut dalam perjalanan Indonesia Emas, tetapi akan menjadi salah satu pilar yang menopangnya. Melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, berakar, dan berdaya saing global.(ds).
Komentar