Oleh: Anton Saputra (Wartawan Madya Sertifikasi Dewan Pers)
UDARA sejuk berputar pelan di ruang Kantor KONI Sawahlunto siang itu, Kamis, 21 Mei 2026. Di sela-sela kesibukannya menyusun program olahraga kota, raut wajah Jamhur langsung berubah semringah begitu pembicaraan beralih ke tanah perbukitan di pinggiran kota. Jamhur bukan sekadar pria yang peduli pada atlet; ia adalah seorang petani tulen yang memimpin asa ratusan kepala keluarga di bawah bendera Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sugai Saiyo.
Bagi Jamhur dan para anggotanya, Puncak Polan bukan sekadar deretan bukit yang memagari Sawahlunto. Di atas lahan seluas 350 hektar yang membentang dari Kubang Gajah hingga Sarang Anggang, mereka sedang melukis masa depan. Tanah yang dulunya sunyi kini telah berubah menjadi hamparan hijau yang padat dan produktif.
Melalui sistem tumpang sari yang digarap dengan ketekunan tinggi, pohon-pohon sawit dan karet berdiri berdampingan dengan rimbunnya pohon manggis, alpukat, hingga durian. Di sela-sela tegakan pohon itu, aroma khas kopi robusta menyeruak, berpadu dengan hijaunya tanaman ubi yang menjaga kesuburan tanah.
Namun, Jamhur tidak ingin Puncak Polan berhenti hanya sebagai peluh yang menghasilkan tonase panen. Pria yang dikenal gigih bersinergi dengan pemerintah ini memiliki visi yang jauh melompat ke depan. Sambil menatap ke arah luar jendela, ia mengurai mimpinya untuk menyulap kawasan ini menjadi episentrum agrowisata baru di Sumatera Barat.
"Kedepannya, lokasi Puncak Polan ini bakal kita jadikan lokasi agrowisata. Saat ini telah ada arena balap sepeda gunung, arena paralayang yang langsung menyuguhkan keindahan panorama 'Kota Kuali' Sawahlunto dari ketinggian, hingga nanti akan ada jalur trabas untuk memacu adrenalin," ujar Jamhur dengan mata berbinar.
Visi ini bukan sekadar angan-angan kosong. Rencana tersebut dirancang matang untuk mengawinkan potensi pertanian melimpah dengan program sport tourism yang tengah digalakkan pemerintah daerah. Bayangkan saja, menikmati legitnya durian lokal atau menyeruput kopi robusta hangat, sembari menyaksikan parasut-parasut paralayang mewarnai langit di atas kota warisan budaya dunia UNESCO ini.
Keberanian untuk bermimpi besar ini bukannya tanpa alasan. Ada energi baru yang dirasakan oleh para petani dalam beberapa waktu terakhir. Jamhur meletakkan cangkirnya, lalu dengan nada emosional mengungkapkan sebuah catatan yang selama ini dipendamnya.
"Sejak dua puluh tahun terakhir, baru Wali Kota Riyanda Putra dan Wakil Wali Kota Jeffry Hibatullah yang mau berjalan jauh, mengunjungi kami sampai ke ujung perkebunan," ungkap Jamhur.
Kehadiran dwitunggal pemimpin muda Sawahlunto ke lapangan beberapa waktu lalu laksana oase bagi para petani. Bagi mereka, langkah kaki kepala daerah yang mau menembus rimbunnya kebun adalah bentuk pengakuan tertinggi atas keringat yang mereka kucurkan demi ketahanan pangan kota.
Sinergi yang mulai terbangun itu terekam jelas pada Senin, 11 Mei 2026 yang lalu. Di bawah atap pondok kayu sederhana di tengah kebun Kelurahan Kubang Sirakuak Selatan, Kecamatan Lembah Segar, Wali Kota Riyanda Putra dan Wakil Wali Kota Jeffry Hibatullah duduk melingkar bersama pengurus tiga kelompok tani. Tidak ada sekat, yang ada hanya dialog jujur tentang masa depan perut rakyat.
Dalam peninjauan lapangan tersebut, Riyanda dan Jeffry melihat langsung bagaimana kopi, manggis, dan sawit tumbuh subur. Namun, mereka juga mendengarkan keluhan paling krusial yang selama ini menjepit urat nadi ekonomi petani: buruknya akses jalan sentra produksi. Selama ini, distribusi hasil panen—termasuk sawit yang mencapai 15 ton per bulan dengan harga Rp 3.400 per kilo, serta karet sebanyak 10 ton per bulan seharga Rp 17.000 per kilo—sering kali terkendala oleh jalur yang terjal dan rusak.
Mendengar jeritan hati warganya, Riyanda Putra tidak memberi janji surga, melainkan sebuah komitmen yang terukur. Ia menegaskan bahwa pemerintah kota akan terus memantau dan menindaklanjuti perbaikan infrastruktur tersebut secara bertahap, menyesuaikan dengan kondisi fiskal daerah agar pelaksanaannya tetap efektif.
Lebih dari itu, pemerintah kota bergerak taktis dengan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Guna mempercepat realisasi infrastruktur dan fasilitas pendukung pariwisata di Puncak Polan, Pemkot Sawahlunto kini tengah menjajaki sinergi dengan berbagai pihak strategis, mulai dari BUMN PT Bukit Asam, pemerintah provinsi, hingga mitra kerja terkait lainnya.
Kini, optimisme di Puncak Polan kian membubung tinggi. Dalam waktu dekat, para petani bersiap menyambut babak baru dengan mencetak kawasan khusus seluas 20 hektar yang didedikasikan sepenuhnya untuk durian varietas Bawor.
Dari lereng perbukitan Kubang Gajah, Jamhur dan puluhan petani lainnya membuktikan bahwa tanah Sawahlunto tidak pernah kehabisan cerita. Setelah era batu bara perlahan meredup, dari tempat yang tinggi ini, mereka sedang menyiapkan sebuah warisan baru: sebuah perpaduan elok antara kemakmuran bumi dan pesona wisata yang akan terus menghidupkan kota. (*_*)
Komentar