Destinasi Wisata 3 Kecamatan di Ujung Kabupaten Lima Puluh Kota -->

IKLAN ATAS

Destinasi Wisata 3 Kecamatan di Ujung Kabupaten Lima Puluh Kota

Minggu, 11 Juli 2021
Kampuang Sarugo 

Lima Puluh Kota, fajarsumbar.com --- Suasana pagi yang senyap digandeng suhu pegunungan yang nyilu di tulang saat kontributor fajarsumbar.com menelusuri kecamatan yang menjadi wilayah hukum Polsek Suliki.


Mengawali perjalanan dengan sepeda motor kontributor bergerak dari Payakumbuh menuju kecamatan Suliki, Kecamatan Bukit Barisan dan Kecamatan Gunuang Omeh. Seharian perjalanan yang sangat melelahkan sembari menikmati ciptaan Allah Yang Maha Pencipta yanki pemandangan alam yang masih asri terjaga, serta liukan jalan yang dibangun para pendahulu bangsa. Daerah ini dikenal sumber sejarah bangsa, kaya tokoh SDM handal, kaya sumber daya alam, serta batu akik lumuik suliki yang juga menasional.


Di wilayah hukum Polsek Suliki yang kini dikomandoi Iptu Rika Susanto, SH bersama 21 rekan kerjanya begitu gigih mengawal terciptanya situasi kantibmas kondusif serta kekeluargaan dalam mencapai kesejahteraan rakyat. 


Terbukti, saat kontributor berhenti sejenak di sebuah warung kopi milik Pak Ali, di Suliki, sembari melepas lelah diseduh segelas kopi serbuk sari.


Bukan hanya itu, suasana penuh akrab warga setempat dengan tamu perlu diapresiasi. Mereka memberitahukan daerah daerah yang rawan kondisi jalannya, selain itu mereka juga menginfokan kawasan destinasi wisata alam, baik agro dan wisata adat. Dari arahan warga yang duduk ngopi di warung Pak Ali, itulah, kami mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju Kampuang Saribu Gonjong dan monumen PDRI di Koto Tinggi.


Dalam perjalanan yang cukup melelahkan ini kami sempat dihibur dengan penagkaran ikan gariang di kenagarian Pandam Gadang. Ikan jinak yang dipelihara warga setempat dengan pemanfaatan sungai. Tampak ribuan ikan gariang jinak mengapung ke dasar air jika dikasih makan. Sungguh menyenangkan.


.

Kami rehat sejenak di mesjid Raya Koto Tinggi yang berdiri disamping Pasar tradisional Nagari setempat. Mesjid ini sangat unik dengan arsitektur lamanya, air tempat berwuduk juga sangat dingin. Banyak jemaah yang shalat disini. Selain itu juga tampak sistem pengelolaan mesjid yang sudah tertata lengkap dengan kurikulum pembelajaran keagamaannya.

 

Di pasar tradisional, kearifan warga juga bisa terlihat, tiada batasan antara pedagang warga setempat dengan pedagang dari luar daerah. Banyak kuliner khas daerah yang dijual di pasar ini, termasuk produksi khas daerah ini, yakni jeruk. Disini juga tampak dijual bibit jeruk dengan 3 varietas, yakni sistem tempel, cangkok dan anakan. Di pasar ini berdiri sebuah kantor walinagari yang megah  disampingnya ada tugu PDRI.


Pasar yang terletak diatas tanjakan tersebut lumayan lengkap, disini tampak tersedia fasilitas bank pembantu, seperti BRILink, teras BNI. Namun di daerah ini tidak terlihat ada Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum. Salah satu ciri khas daerah ini adalah penghasil rempah, seperti kakao, kulit manis, gardam munggu, cengkeh, kemiri dan sebagian kecil pala.


Perjalanan kami lanjutkan usai minum kopi dan makan goreng pisang di pasar Koto. Dengan kenderaan roda dua, kami menelusuri jalan utama kecamatan ini menuju Kampung Sarugo (Saribu Gonjong). Kampung sarugo merupakan kampung adat yang dinobatkan Juara II oleh Anugerah Pesona Indonesia (API). Di kampung ini kehidupan adat sangat terjaga.


"Diak, tanyo ciek. Dimaa komplek Kampuang sarugo nan rancak tu, "tanya kami kepada 2 orang anak yang sedang duduk-duduk di poskamling Puar Data.


"Luru sa Pak, beko ado gerbangnyo, ma, "balas mereka.


"Tarimo kasih", ulasku sembari mohon pamit melanjutkan perjalanan hingga kami sampai di gerbang dimaksud, yakni terletak di jorong Dadok. 


Kami mengarahkan motor masuki gerbang. Di depan sebuah balai pertemuan adat, kami disambut 3 pemudi yang sedang bertugas di sekretariat kampuang Sarugo.


"Selamat datang di kampuang sarugo jorong Dadok Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Pak. Saya Rada dan ini Fresti. Ada yang bisa kami bantu, "sambut santun mereka.


"Ya, kami ini berkunjung dan mencari informasi terkait kampung adat ini. Mungkin bisa numpang makan siang, nantinya. Mohon bantu kami mewawancarai salah seorang tokoh adat disini. Kampung ini unik sekali, "balasku.


'Ayo Pak kami antar, silahkan isi buku tamu dulu,"ulas mereka.


Rada dan Fresti yang kini duduk dibangku kelas XI di SMAN 1 Koto Tinggi mengantarkan kami menemui Satmir Dt Bandaro Sati, karena saat itu kami tidak bisa menemui Ketua pokdaswis Rici Chandra.

S. Dt Bandaro Sati 

Kami mencoba mewawancarai Pak Satmir Dt. Bandaro Sati kelahiran 1946, seorang Kepala kaum pasukuan Piliang setempat.
 

Saya lahir tahun 1946, kampuang wak ko lah sarupo iko juo, hanyo jumlah alun sabanyak iko lai. Kampung kami jauh dari keramain dan hiruk pikuk. Adat kami masih kuat. Saat ini ada 24 ninik mamak disini. Rumah gonjong sekitar 120 buah yang dihuni berbagai kaum seperti suku piliang, Koto, Sikumbang dan lainnya. Ada sekitar 700-an warga tinggal disini,"terang Datuk yang punya anak 6 orang anak ini.


"Pembangunan rumah di daerah ini butuh perjuangan, karena kami jauh dari Kota, bangunan rumah kami mayoritas kayu, bilah dan semi permanen. Kontur tanah adalah lereng dan disanalah kami bangun rumah kami dulu. Penuh pengorbanan dan penuh kebersamaan dan gotong royong untuk mendirikannya. Meski disini banyak bebatuan bukit, namun membangun rumah butuh waktu yang lama,"ulasnya.


"Beda dengan sekarang, bahan bangunan ditelepon ke toko, siangnya sudah sampai. Dulu tidak begitu. Tunggu tabungan dari panen sawah dan kebun dulu, baru membangun. Namun, bagi kami pendidikan anak adalah prioritas utama. Merekalah yang bakal merubah pola pikir dan corak kampung kedepan. Banyak anak sini yang bersekolah di Payakumbuh dan luar Sumbar.


"Terkait kampung sarugo, ini adalah berkat motivasi bersama, mulai dari warga bersama tokoh masyarakat, peran kampus universitas Muhammaddiyah Sumatera Barat, dukungan donatur lainnya serta media massa. Alhamdulillah, upaya keras dan kerja keras ini berbuah sebuah Anugerah, kita syukuri,"ulasnya.


"Terkait profesi warga di kampuang sarugo, mayoritas petani. Ada yang pegawai dan perantau. Kedepan kita berharap, Kampung adat kita ini tetap terjaga. Jangan caya (lengah dan abai), tapi semakin kuat. Dukungan warga sangat kita harapkan,"pungkasnya.


Di kampung yang berposisi lereng ini terlihat tatanan jalan berjenjang yang mendukung kondisi warga untuk berjalan. Pemandangan indah akan terlihat semakin indah jika diamati dari puncak sarugo.


Di perjalanan ke puncak kami menjumpai warga yang sedang menyadap air gula aren. Dari keterangan sang bapak, di kampuang Sarugo ada 3 rumah yang mengolah dan membuat gula aren.


Si Bapak pun bercerita, "Disamping bertani disini ada sekitar 3 keluarga pembuat gula are. Itu untuk penambah penghasilan keluarga  Karena hasil pertanian kami yang bagus tidak sebanding dengan harga pupuk dan racun. Saya punya sawah dan kebun. Saya punya kebun jeruk, harga panen sekitar 6 sampai 8 ribu perkilo ke toke. Namun harga pupuk dan racun semakin naik. Seperti, setiap petani jeruk pasti butuh Racun lalat jarum (lalat buah) yang kerap menyuntik buah jeruk  sehingga menjadi kuning. Itulah kondisi sebagian dari kami petani disini,"ungkap si bapak.

Rada dan rekan karang taruna

Dalam perjalanan keluar lokasi kampuang sarugo, Rada dan Fresti mengungkapkan bahwa saat ini warga setempat butuh infrastruktur dan kualitas jaringan internet ungu mempromosikan kampung mereka.

 

Jalan di daerah kami kurang bersahabat, namun kami menganggap itu sudah biasa saja setiap harinya. Di masa pandemi, serba internet. Namun kampung kami masih nol sinyal. Apalagi dimasa belajar daring, itu kesulitan besar kami. Bersyukur ada bantuan dari Bu Nani Go Wi-Fi. Itulah paket internet yang pakai saat ini. Belajar daring salah satu kesulitan kami disini. Di kampuang sarugo juga terdapat mesjid, surau, homestay serta penangkaran ikan larangan. Serta ada hasil kerajinan kraf daerah setempat yang bertuliskan Kampung Sarugo,"pungkas Rada.


Usai mengunjungi kampuang sarugo, kami menyempat diri mengunjungi monumen PDRI yang terletak di ujung kabupaten Lima Puluh Kota dan berbatas dengan kabupaten Agam dan Pasaman Timur, ini. Kami juga menyempat diri singgah di salah satu kebun jeruk Suliki gonuang omeh (silago) yang ternama. Petik sendiri, bayar dan bawa pulang.


Destinasi Tanjung Bungo
Di Kecamatan Suliki juga ada wisata indah bernama green park Tanjung bungo yang terletak di puncak bukit batu Tanjung bungo. Pemandangan indah di sini bisa dijumpai. Di lokasi ini juga terdapat homestay, dengan biaya masuk Rp5ribu perorang. Disini juga ada berbagai spot foto serta warung kopi. Harga kuliner di destinasi wisata tersebut juga sangat bersahabat. Kami sempat menikmati suasana asri dan kearifan warga lokal yang penuh kekeluargaan.



Namun, karena sudah lelah dan hari sudah sore. Kami tidak sempat mengunjungi Negeri Seribu Menhir di Maek kecamatan Bukit Barisan. Namun, petualangan ini akan kami sambung, nantinya.

 

Dari beberapa lokasi destinasi yang sempat kami kunjungi saat petualangan wisata, terdapat nilai keelokan dan kemolekkan daerah tersendiri yang tidak ada di daerah lain. Itulah destinasi yang menuntut kita untuk menjaga dan melestarikannya, termasuk menuntut kita untuk menjaga tangan kita agar tidak membuang sampah di sembarangan tempat. Masukkan pada tempatnya, jika tidak ada tong sampah, kapan perlu kita buat sebuah tumpukan khusus. Jangan ditebar apalagi dibuang ke sungai.


Dengan kebersamaan, Polsek Suliki Siap Menjaga kantibmas 3 kecamatan di wilayah hukumnya

Dari keterangan Kapolres 50 Kota AKBP Trisno Eko Santoso melalui Kapolsek Suliki Iptu Rika Susanto, SH bahwa ada 3 kecamatan (Suliki, Gunuang Omeh dan Bukit Barisan) dengan 14 kenagarian yang dibawahi wilayah hukum Polsek Suliki yang hanya memiliki 22 personil.


Sebuah wilayah yang luas yang terjal serta dengan topografi terpisah oleh gunung dan lembah serta sungai yang menuntut kerja keras untuk menjalankan tugas negara guna penciptaan situasi kantibmas yang kondusif. Sebuah tugas mulia yang butuh strategi manajerial yang mantap dan ketat.


Saat diwawancarai Kapolsek Suliki, Iptu Rika Susanto, SH, Minggu (11/07/2021) siang, menerangkan bahwa penciptaan situasi kantibmas kondusif di wilayah hukum Polsek Suliki tak lepas dari kesadaran warga, peran tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat dan pemerintahan kecamatan bersama warga. Kebersamaan itulah yang menjadi penyemangat dirinya dan jajaran untuk bertugas.


"Alhamdulillah, sejak saya diamanahi Kapolri melalui Kapolda Sumbar dan Kapolres 50 Kota sebagai Kapolsek Suliki sejak tahun 2019 lalu  alhamdulillah kita saling rangkul dengan semua lini yang ada di wilayah hukum. Kebersamaan inilah yang menjadi kunci terciptanya situasi kantibmas di wilkum Polsek Suliki. Kebersamaan ini yang selalu kita pupuk dan jaga,"terang Riko.


"Wilkum Polsek Suliki sangat luas. Dulunya ada tokoh masyarakat kecamatan Bukit Barisan yang akan menghibahkan lahan untuk pembangunan Mapolsek di kecamatan itu  namun luas tanah belum memadai. Semoga nanti ada warga kecamatan ini yang mau lagu menghibahkan lahan untuk bangun mapolsek,"terangnya.


"Selama bertugas, alhamdulillah tidak ada kasus yang tergolong pidana berat. Sejak 2019, ada satu kasus narkoba yang ditangani langsung Polres 50 Kota. Selain itu, kasus yang bisa kita tuntaskan bersama tokoh pemerintahan kecamatan dan KAN. Kita selalu berpesan kepada jajaran agar menjadikan tugas sebagai lahan amal  lahan mengikat silaturrahmi dengan siapa saja,"imbuh Rika.


"Dan baru ini kita sudah mengamankan 5 terduga pelaku yang melakukan pelanggaran hukum, yaitu terduga pelaku copet HP di beberapa lokasi, termasuk di wilkum Polsek Suliki. Mereka sudah kita amankan,"Pungkas Rika.(ul)