Fakta Gempa Beruntun di Kepulauan Talaud dan Nias Sabtu Pagi -->

IKLAN ATAS

Fakta Gempa Beruntun di Kepulauan Talaud dan Nias Sabtu Pagi

Senin, 12 Juli 2021

Ilustrasi gempa bumi. (Istockphoto/Petrovich9)

Jakarta -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan fakta gempa bumi yang terjadi di wilayah Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Sabtu (10/7) pagi. Kepala bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan hasil analisis menunjukkan gempa tektonik itu terjadi akibat deformasi pada lempeng laut Maluku. 


"Gempa dangkal ini terjadi akibat adanya deformasi atau penyesaran pada Lempeng Laut Maluku," ujar Daryono kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (10/7). Ia menjelaskan gempa terjadi pada pukul 7.43.55 WIB, hasil analisis BMKG menunjukkan parameter terkini yaitu magnitudo 6,2.


Lokasi gempa terletak pada koordinat 2,99° LU dan 126,64° BT tepatnya di laut pada jarak 112 kilometer arah baratdaya Melonguane, Kab. Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara pada kedalaman 23 kilometer, sebagaimana dikutip cnnindonesia.com.


Berdasarkan hasil analisis mekanisme BMKG menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan sesar naik (thrust fault). Dampak guncangan gempa ini, kata Daryono, dirasakan di Kepulauan Sangihe dalam skala intensitas III-IV MMI dan Tomohon, Bitung, Boltim dalam skala intensitas II MMI. 


Sebagai informasi skala MMI adalah satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi, dengan rentang paling lemah (I)-paling kuat (XII). Hingga kini, dijelaskan Daryono belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa. 


Namun demikian, berdasarkan hasil permodelan menunjukkan bahwa gempa itu tidak berpotensi tsunami. Hingga pukul 08.25 WIB, hasil monitoring BMKG terhadap gempa Laut Maluku menunjukkan telah terjadi lima kali aktivitas gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar 5,8 dan terkecil Magnitudo 3,6.


Fakta Gempa Nias Di hari yang sama, Wilayah Nias Utara-Simeulue, pada pukul 09.41.10 WIB diguncang gempa bumi dengan magnitudo 5,5. 


Menurut Daryono, episenter gempa terletak di laut pada jarak 74 kilometer arah Barat Laut Kota Lotu, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara pada kedalaman 32 km. 


"Gempa dangkal ini terjadi akibat akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam kebawah Lempeng Eurasia dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," kata Daryono. 


Aktivitas gempa ini berpusat di Zona Megathrust tepatnya pada Segmen Nias-Simeulue. Guncangan gempa ini dirasakan kuat di Nias Utara dalam skala intensitas III-IV MMI, sementara di Gunung Sitoli dan Kabanjahe dalam skala intensitas II MMI. 


Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut. Hasil pemodelan juga menunjukkan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami. 


Hingga pukul 10.15 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi 4 kali aktivitas gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M 4,4 dan terkecil M 3,2. 


Fenomena Gempa Normal  Daryono menegaskan gempa berkekuatan di atas M 5 di dua tempat berbeda hari ini merupakan fenomena yang normal dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. 


"Masih normal karena terjadi pada sumber gempa aktif. Tidak ada kaitan karena sumber gempanya beda dan jauh," demikian Daryono. (*)