Krisis Ekonomi, Lebanon Semakin Dekati Ledakan Sosial -->

IKLAN ATAS

Krisis Ekonomi, Lebanon Semakin Dekati Ledakan Sosial

Rabu, 07 Juli 2021

 

Perdana Menteri sementara Lebanon Hassan Diab mengatakan negaranya mendekati "ledakan sosial" di tengah krisis ekonomi yang terus memburuk. Ilustrasi(REUTERS/AZIZ TAHER)

Jakarta - Perdana Menteri sementara Lebanon Hassan Diab mengatakan negaranya mendekati "ledakan sosial" di tengah krisis ekonomi yang terus memburuk.


Hal itu diungkap Diab dalam pertemuan dengan para duta besar dan diplomat pada Selasa, (6/7), kantor berita negara NNA melaporkan, dilansir CNN.


"Lebanon tinggal beberapa hari lagi dari ledakan sosial. Orang Lebanon menghadapi nasib kelam ini sendirian," kata Diab.


Diab mengimbau para pemimpin regional dan internasional untuk membantu menyelamatkan Lebanon dari krisis yang telah membuat mata uang kehilangan 90 persen dari nilainya dan meninggalkan 77 persen rumah tangga tanpa cukup makanan, menurut PBB.


Penduduk Lebanon sekarang menghabiskan berjam-jam dalam antrean panjang di pom bensin untuk membeli bahan bakar. Mereka berjuang dengan pemadaman listrik hingga 22 jam sehari dan kekurangan medis yang parah, sebagaimana dikutip cnnindonesia.com.


"Saya menyerukan kepada raja, pangeran, presiden dan pemimpin negara sahabat kita, dan saya menyerukan PBB dan semua organisasi internasional ... untuk membantu menyelamatkan Libanon dari kehancurannya," kata Diab kepada para duta besar.


Diab menjabat sebagai perdana menteri sementara setelah ledakan di pelabuhan Beirut pada 4 Agustus 2020. Sejak itu, politisi sektarian yang terpecah tidak dapat menyepakati pemerintahan baru.


Diab juga mengatakan hanya kabinet baru yang bisa memulai kembali pembicaraan dengan IMF.


"Pemerintah ini tidak memiliki hak untuk melanjutkan negosiasi dengan IMF untuk melaksanakan rencana pemulihan yang ditetapkan oleh kabinet, karena ini memerlukan kewajiban pada pemerintah berikutnya yang mungkin tidak akan disetujui," katanya, menurut Reuters.


Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa mengatakan kepada para pemimpin Lebanon bulan lalu bahwa mereka harus disalahkan atas krisis politik dan ekonomi. Beberapa pihak dapat menghadapi sanksi jika terus menghalangi langkah-langkah untuk membentuk pemerintahan baru dan melaksanakan reformasi.


Diab mencatat seruan berulang kali untuk bantuan agar dikaitkan dengan reformasi, tetapi mengatakan "pengepungan yang diberlakukan" di Lebanon tidak mempengaruhi para koruptor -sebuah referensi yang jelas bagi para politisi.


Dia mengatakan orang Lebanon kehabisan kesabaran dan "menghubungkan bantuan Lebanon dengan pembentukan pemerintahan baru telah menjadi ancaman bagi kehidupan orang Lebanon dan entitas Lebanon." (*)