Batu Tapakan dan Janjang Merupakan Unsur Utama di Museum Istano Basa Pagaruyung -->

IKLAN ATAS

Batu Tapakan dan Janjang Merupakan Unsur Utama di Museum Istano Basa Pagaruyung

Senin, 06 September 2021

 

Janjang di Museum Istano Basa Pagaruyung

Penulis : Freddy


Tanah Datar, fajarsumbar.com - Bagi masyarakat yang berkunjung atau berwisata ke Tanah Datar, untuk tidak lupa singgah ke Museum Istano Basa Pagaruyung, karena Museum ini merupakan bukti sejarah dari kebudayaan Minangkabau, banyak peninggalan sejarah baik itu benda maupun non benda yang mengandung banyak filosofi, yang ada di Museum Istano Basa Pagaruyung ini. 


Sekarang penulis akan membahas tentang unsur utama di Museum Istano Basa Pagaruyung, berupa Batu Tapakan, Janjang, Anak Janjang, Tanggo, dan Tangan-tangan Janjang, yang disadur dari buku Istano Basa Pagaruyung keluaran Dinas Pariwisata Tanah Datar. 


Batu Tapakan merupakan sebuah batu yang cukup lebar yang diletakkan di depan janjang, ia mewakili 'front office' dari Istano disamping mewakili pembawa berita dari pusat pemerintahan ke pelosok kerajaan dan sebaliknya. Sementara dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat hanya mengenal atau mengetahui bahwa Batu Tapakan sebagai tempat mencuci kaki sebelum naik rumah gadang, dahulu masyarakat Minangkabau tidak mengenal istilah alas kaki, disini disediakan sebuah Guci yaitu tempat air dan dilengkapi dengan gayung air. 


Sedangkan Janjang dengan anak janjang, tanggo, dan tangan-tangan janjang adalah jalan atau sarana masuk kedalam Museum Istano Basa Pagaruyung, dan mewakili atau melambangkan sistem demokrasi Minangkabau yang disalurkan melalui mufakat, dengan prosesnya yang dikenal dengan istilah 'bajanjang naiak batanggo turun', istilah kata ini mempunyai 2 kelompok dan makna yang berbeda keduanya yakni bajanjang naiak dan batanggo turun. 


Bajanjang naiak mewakili proses dari sesegala-galanya dimulai dari tingkat yang paling bawah dalam kehidupan adat Minangkabau. Hal ini akan terwujud dalam tingkatan mufakat sebagai berikut : 


Keponakan bermufakat dengan mamak, kemudian mamak dalam sebuah kaum bermufakat dengan tungganai di bawah pimpinan penghulu kaum, penghulu bermufakat dengan sesama mereka di tingkat Nagari dalam pertemuan ampek suku (Kerapatan Adat Nagari), seterusnya Kerapatan Penghulu Nagari bermufakat dengan Penghulu Luhak, dan terakhir Penghulu Luhak bermufakat dengan Lareh Bodi Chaniago, yang merumuskan dan mengusulkan tuntutan rakyat dalam bentuk Undang-Undang kepada Lareh Koto Piliang. 


Sedangkan batanggo turun mewakili proses demokrasi yang dimulai dari tingkat yang paling atas, diteruskan kepada tingkat yang lebih rendah dan seterusnya. 


Disini akan berkaitan dengan penyebaran kebijaksanaan dan keputusan pemerintah pusat yang telah dulu menjadi keputusan, atau hasil mufakat dalam bentuk usulan dari semua pihak, mulai dari tingkat paling bawah ke tingkat paling atas, dengan demikian proses demokrasi yang dinamakan batanggo turun merupakan kebalikan dari proses demokrasi bajanjang naiak. 


Sekarang kita bahas lagi tentang Anak Janjang yakni ada 11 buah anak janjang di Museum Istano Basa Pagaruyung, keberadaan janjang melambangkan kedudukan empat dari Kelarasan Koto Piliang dan empat dari Kelarasan Bodi Chaniago, sedangkan tiga lagi melambangkan kedudukan Rajo Nan Tigo Selo yaitu Rajo Adat, Rajo Ibadat dan Rajo Alam. 


Selanjutnya Tanggo yaitu selembar kayu vertikal antara anak janjang ke anak janjang lebih rendah, ia mewakili kekuatan keputusan mufakat pada masing-masing tingkat mufakat, yang disahkan dan diperkuat oleh keputusan pimpinan di setiap pemerintahan. 


Seterusnya Tangan-tangan Janjang yaitu mewakili dan melambangkan norma-norma dalam pelaksanaan demokrasi melalui mufakat, norma-norma tersebut harus dilandasi oleh Langgam Adat, Undang-undang Luhak dan Agama Islam, untuk mencapai hasil yang maksimal dan sekaligus untuk menghindari masyarakat dan kerajaan dari jurang kehancuran, sebagai akibat dari hasil-hasil proses demokrasi yang tidak mengikuti norma-norma yang semestinya. 


Demikian artikel singkat penulis tentang Batu Tapakan, Janjang, Anak Janjang, Tanggo dan Tangan-tangan Janjang yang ada di Museum Istano Basa Pagaruyung. (**)