Jepang Buru-buru Jaga Kepulauan usai Diklaim China -->

Jepang Buru-buru Jaga Kepulauan usai Diklaim China

Kamis, 16 September 2021

 

ilustrasi kapal perang Jepang.


Jakarta, - Jepang buru-buru jaga gugus kepulauan terdepan mereka yang diklaim China. Pemberian patokan ini merupakan bentuk perlawanan Jepang terhadap China yang terus mengklaim sebagian besar Laut China Selatan (LCS) sebagai bagian dari wilayahnya.

Menteri Pertahanan Jepang Nobuo Kishi menegaskan Kepulauan Senkaku, wilayah yang disengketakan, tidak diragukan lagi adalah wilayah Jepang, dikutip CNN.

China sendiri menyebut gugus kepulauan yang diklaim milik mereka sebagai Diaoyu.

"Terhadap tindakan China ke Kepulauan Senkaku dan bagian lain dari Laut China Timur. Kami harus menunjukkan bahwa pemerintah Jepang dengan tegas mempertahankan wilayah kami dengan jumlah kapal penjaga pantai Jepang yang lebih banyak daripada China," kata Kishi.

Jepang sendiri sedang melakukan ekspansi besar dalam mengamankan kepulauan itu. Mereka menambah berbagai alat perang untuk melindungi Kepulauan Senkaku, salah satunya jet tempur F-35.

Jepang juga membangun kapal perusak, kapal selam, dan rudal baru. Selain itu, negara ini juga mengganti armada kapal perang mereka dengan kapal induk.

Sementara itu, China sama kerasnya dengan Jepang dalam mempertahankan Kepulauan Senkaku/Diaoyu ini.

"Pulau Diaoyu dan pulau-pulau yang berafiliasi dengannya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah China, dan merupakan hak kami untuk melakukan patroli dan kegiatan penegakan hukum di perairan ini," kata Kementerian Luar Negeri China pada 2020.

Dalam upayanya mengklaim wilayah itu, China menetapkan undang-undang baru yang memperkuat wewenang penjaga pantai negaranya.

Kapal Penjaga Pantai China juga seringkali masuk ke perairan Jepang, yang mana berjarak 3 kilometer dari daratan. Mereka memasuki wilayah itu sebanyak 88 kali, terhitung dari 1 Januari hingga akhir Agustus ini, bersumber dari Otoritas Jepang.

Para ahli menilai strategi China dalam mengklaim kepulauan itu adalah dengan menempatkan pasukannya di dalam dan di sekitar wilayah sengketa.

"Melaksanakan hak negara atas pantai merupakan langkah penting dalam memperkuat kedaulatan melalui praktik," kata Profesor Perang dan Strategi di King's College London, Alessio Patalano.

Konflik Jepang dan China akan wilayah Kepulauan Senkaku, atau Kepulauan Diaoyu kalau berdasarkan China, berlangsung sejak lama.

Pada 2012, masyarakat China mendemo Jepang akibat masalah kepulauan ini. Mobil asal Jepang dihancurkan, toko dan restoran Jepang dirusak, dan puing-puing dilemparkan ke Kedutaan Besar Jepang di Beijing.

Menurut dokumen Kementerian Luar Negeri RI, Laut China Selatan merupakan area strategis yang berbatasan langsung dengan perairan Brunei, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, dan China.

Laut China Selatan menjadi perairan yang rawan konflik terbuka setelah China mengklaim sepihak sebagian besar wilayah itu. Klaim sepihak China ini bentrok dengan wilayah perairan yang diklaim sejumlah negara, seperti Brunei, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

Konflik LCS semula merupakan konflik bilateral antara China dengan negara Asia Tenggara. Namun, agresivitas China menjadikan sengketa ini sebagai ancaman terhadap keamanan dan stabilitas di kawasan Asia Tenggara.

LCS merupakan salah satu jalur utama perdagangan internasional. Perairan ini merupakan salah satu pintu gerbang komersial yang penting bagi sebagian besar industri logistik dunia. Wilayah ini juga merupakan perairan ekonomi strategis di kawasan Indo-Pasifik.

Dilansir CFR Global Conflict Tracker, total nilai perdagangan yang melintasi kawasan LCS pada 2016 mencapai US$3,37 triliun.

Perairan ini juga kaya akan sumber daya hasil laut, meskipun dalam praktiknya cenderung dieksploitasi secara berlebihan. Wilayah ini juga dilaporkan memiliki cadangan minyak dan gas yang signifikan.(*)