Perjuangan Paul dan Istri, Bertahan Hidup di Tengah Himpitan Ekonomi -->

Perjuangan Paul dan Istri, Bertahan Hidup di Tengah Himpitan Ekonomi

Minggu, 19 September 2021
Paul Ste Adriano Harianjabdan salah seorang anaknya.


Padang Panjang, Sekitar pukul  05.30 WIB, Agnes (38) istri Paul Steve Adriano Harianja (39), sudah berangkat ke  pasar Padang Panjang berjalan kaki menumpuh 2 Km dari rumahnya di RT 19, Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat. 


Agnes kini menggantikan posisi suaminya mencari nafkah dengan berjualan kue risoles. Itu dialokani perempuan itu semenjak suaminya Paul mengalami cidera parah pada kaki akibat terjatuh saat bekerja sebagai teknisi satu setengah tahun lalu. 


Sedikitnya 150 buah risoles dibawa  ibu dari enam orang anak itu ke pasar. Dijual kepada para pedagang sembako keliling, yang kerap mangkal di sekitar pasar pusat pagi hari. 


Harga satu risoles Rp800. Sebahagian dari risoles itu dititip di warung dan mini market. 


Keuntungan yang didapat  bila terjual habis sekitar Rp45.000. Namun di hari Jumat dan Minggu, keuntungan ditaksir hanya Rp20.000 bahkan ada kalanya tidak ada sama sekali.


"Kalau Jumat para pedagang sembako keliling yang biasa membeli risoles tidak banyak membeli. Mereka memilih  makanan lain karena Jumat hari pasar. Banyak pedagang lain yang menawarkan berbagai makanan. Bila hari Minggu, pedagang sembako itu  tidak beraktivitas. Jadi Jumat dan Minggu, kami  bisa dikatakan tidak bisa beli beras," cerita Paul, Jumat (17/9).


Sedangkan untuk lauk, kata Paul, berasal dari sisa sayur yang tak terjual oleh pedagang sayur di pasar. Dipungut dua anaknya yang besar pada sore hari sambil menjemput bayaran risoles yang dititip di warung-warung. 


"Inilah yang dijadikan lauk kami sehari-hari. Kebetulan kami sekeluarga tidak suka daging. Kecuali  ikan. 


Kalau sempat ada rezeki membeli ikan, itu bahagia kami sekeluarga luar biasa," kata Paul.


Sejak tak bekerja, Paul menghadapi kesulitan ekonomi. Kondisi ini juga mempengaruhi pendidikan empat anaknya di salah satu sekolah swasta. 


Beruntung anak pertama dan kedua, Helen dan Samuel bisa melanjutkan sekolah di SMPN 2, berkat bantuan dan kemudahan yang diberikan kepala sekolah dan guru-guru di sana. 


Walapun masih ada administrasi yang tertahan di sekolah swasta sebelumnya karena tunggakan, sekolah SMPN 2 memberikan berbagai kemudahan.


Tak seberuntung Helen dan Samuel, Nugi dan Putri,  anak ketiga dan keempat sudah setahun tidak bersekolah di sekolah swasta itu. Tunggakan biaya sekolah  tak sanggup lagi dibayarkan. Paul ingin memindahkan anaknya  ke sekolah SD negeri namun pihak sekolah swasta belum mengeluarkan surat pindah untuk anaknya. 


 "Total ada Rp4,2 juta tunggakan di sekolah swasta itu," kata Paul.


Namun di tengah kesulitan yang dihadapi, Paul melihat adanya kepedulian dan perhatian warga sekitar di tempat dia tinggal. Hingga akhirnya kondisi itu diketahui pemko melalui kelurahan, Dinas Pendidikan, kepala sekolah dan guru-guru SMPN 2, Ketua DPRD, Mardiansyah, A.Md, Komunitas ABM Family, dan pihak lainnya.


Paul juga menceritakan saat dia terpaksa me-Whatsapp walikota Fadly Amran  memohon bantuan  biaya pengobatan kecelakaan bermotor anaknya yang akhirnya dibantu secara pribadi oleh Fadly bulan Juli lalu.


Hal yang juga membuat Paul haru, guru-guru SMPN 2 tempat anaknya bersekolah memberikan bantuan lemari es untuk bisa menyimpan risoles beku yang siap digoreng. 


Jadi Helen dan Samuel tak perlu tiap hari begadang membantu ibunya membuat risoles.  


"Keduanya sering tertidur di kelas karena letih membantu kami membuat risoles. Ketika ditanya guru, anak kami menceritakan keadaan sebenarnya. Guru-guru akhirnya berinisiatif membelikan lemari es agar bisa menyimpan bahan-bahan dan risoles beku," katanya.


Beberapa hari lalu antuan juga datang dari Komunitas ABM Family. Bantuan berupa sembako dan santunan uang tunai itu, diserahkan Ketua ABM Family, Junaidi dan Penasehat ABM Family Mardiansyah, A.Md. 


"Bantuan ini berasal dari donasi anggota ABM Family, sebagai wujud kepedulian kami terhadap Paul dan keluarganya," sebut pengurus ABM Family, Heri Z. Aciak.


Mardiansyah menyebutkan, apa yang dilakukan ABM Family ini patut ditiru komunitas dan kelompok masyarakat lainnya terhadap warga yang membutuhkan. Kepedulian sosial kepada tetangga, masyarakat sekitar dan warga kota harus ditumbuhkembangkan di Padang Panjang. 


"Saya selaku penasehat, merasa terharu dengan kegiatan ini. Makanya saya sokong penuh apa yang dilakukan kawan-kawan di ABM Family," ucapnya. (haris/syam)