Ragam Hias Ukiran Tupai Managun di Singok dan Lapieh Jarami di Kaki Istano pada Museum Istano Basa Pagaruyung -->

IKLAN ATAS

Ragam Hias Ukiran Tupai Managun di Singok dan Lapieh Jarami di Kaki Istano pada Museum Istano Basa Pagaruyung

Selasa, 07 September 2021

 

Motif ukiran Lapieh Jarami di Museum Istano Basa Pagaruyung


Penulis : Freddy


Tanah Datar, fajarsumbar.com - Keistimewaan dari rumah adat Museum Istano Basa Pagaruyung tidak saja terletak pada bentuknya yang anggun dan tinggi, tetapi juga pada ragam hias ukiran yang dipahatkan (diukir) pada dinding dan bangunan lain pada bangunan tersebut. Pada Istano Basa Pagaruyung ukiran hampir seluruh menutupi tubuh bangunan, dinding, tiang atau tonggak, pintu dan jendela dihiasi dengan ukiran berbagai macam motif. 


Setiap motif ragam hias yang dipahatkan pada rumah adat mengandung makna yang dalam, membawa pesan-pesan yang disamarkan kedalam motif-motif yang indah. Ukiran tersebut penuh dengan simbol yang menceritakan tingkah laku dan kejadian alam semesta yang patut diteladani. Kali ini penulis akan membahas tentang makna simbolis ragam hias ukiran Tupai Managun di Singok (Atap) dan Lapieh Jarami di Kaki Istano, yang disadur dari Jurnal Titik Imaji. 


Motif ukiran Tupai Managun (Tupai Tertegun) ini merupakan wujud visual atau plastis dari tupai itu tidak disalin secara tampak nyata, melainkan dalam simbol atau tanda garis-garis lengkung yang hendak menggambarkan gerak gerik tersebut, pola atau tata paduan motif ini dapat dilihat pada bagian atas ukiran. 


Tupai adalah hewan yang melengkapi lingkungan hidup manusia dengan segala rugi laba yang diberikan kepada manusia. Kerugian yang diberikan adalah kehadirannya dapat merupakan hama terhadap tumbuhan, yang diperlukan manusia dalam kehidupan. 


Keuntungan yang diberikan adalah bila jumlahnya tidak terlalu banyak, maka ia dapat menjaga kelestarian lingkungan hidup manusia. Keuntungan lain lagi yang dipetik manusia atas kehadirannya adalah sumber ilham yang diserap oleh manusia, baik bagi ahli adat maupun bagi Seniman, dari sifat-sifatnya, bentuk dan gerak geriknya. 


Sifat dan gerak geriknya yang lincah itu tidak luput dari pengamatan manusia Minangkabau, sehingga menimbulkan suatu identifikasi terhadap kependekaran seseorang, seperti tercermin dalam petatah petitih "Sepandai-pandai tupai melompat sesekali terjatuh juga, sepandai-pandai pendekar bersilat sesekali terpeleset juga". Identifikasi ini tidak lain dari dasar ajaran dan alam pikiran Minangkabau, yang berbunyi alam takambang jadi guru. 


Sedangkan motif ukiran Lapieh Jarami (Anyaman Jerami) di Kaki Istano adalah jalinan dari batang padi yang telah dipotong, sehingga membentuk suatu ikatan yang kuat. Motif ini hampir sama dengan motif lapiah ampek, motif ini melambangkan adanya rasa persaudaraan, persatuan dan tidak sombong, dapat menempatkan diri dimana saja serta disenangi oleh orang banyak. 


Penyesuaian hidup dengan lingkungan diungkapkan dengan pepatah petitih, "Dima bumi dipijak disinan langik dijunjung" (Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung) yang artinya, dimanapun kita hidup aturan orang setempat itulah yang kita pakai. 


Arti sesungguhnya dari Lapieh Jarami adalah anyaman yang terbuat dari jerami, melihat bentuk yang terdapat pada motif ini, maka unsur anyaman ini memang terlihat jelas. Oleh karena itu nomenklaturnya diambilkan dari nama Lapieh Jarami, melihat dari polanya dapat dikatakan sama dengan pola aka duo gagang yang berganda. 


Lapieh Jarami merupakan ragam hias pada bagian salangko atau kaki Istano Basa Pagaruyung, dan didominasi oleh ukiran di bidang yang besar. Begitulah ceritanya artikel ini tentang motif ukiran Tupai Managun dan Lapieh Jarami di Museum Istano Basa Pagaruyung. (**)