Petani dan Operator Traktor Sawah Ikut Terdampak Kelangkaan Solar -->

Adsense Atas-STIE AKBP-10 MEI 2022

Petani dan Operator Traktor Sawah Ikut Terdampak Kelangkaan Solar

Sabtu, 26 Maret 2022
Petani sedang membajak sawah 


Payakumbuh, fajarsumbar.com - Antrian panjang para sopir truk dan mobil berbahan bakar solar tampak hampir di setiap SPBU di berbagai daerah dan provinsi. Kelangkaan solar tentunya berdampak bagi pertumbuhan dan biaya ekonomi warga. Tampak para sopir dan pengguna BBM jenis solar rela sabar dalam antrian panjang, berharap bisa membawa solar. Berharap tangki minyak kendaraan mereka bisa terisi untuk melanjutkan perjalanan dalam mencari nafkah atau menuju tujuan yang sudah direncanakan.


Ternyata, kelangkaan BBM jenis solar bukan saja dirasakan para sopir, tetapi juga dirasa para operator traktor tangan yang kesehariannya membajak sawah petani. Ternyata operator traktor sawah ikut merasakan derita kelangkaan solar. Menurut sejumlah operator, mereka pun ikut antri guna mendapatkan 5liter solar yang akan dipakai setiap hari dalam membajak sawah.


"Kami hanya penjual jasa kepada pemilik sawah. Setiap hari kami ikut antri solar di SPBU, baik di Kota Payakumbuh, maupun SPBU di kabupaten Lima Puluh Kota. Disini harga solar Rp.5100/liter. Tak jarang sampai digiliran kami, solar habis. Tak jarang kami dilarang beli pakai jerigen. Padahal kami murni untuk mesin bajak. Karena hanya itu profesi kami, terpaksa kami beli solar ketenangan yang ada diseberang SPBU dengan harga Rp.7,500 - 8,000,"ungkap Yunirman, warga Jorong Padang Rantang, seorang operator traktor tangan yang kerap berjual jasa membajak sawah di areal pesawahan di Jorong Padang Rantang dan kelurahan Ompang kelurahan Ompang Tanah Sirah, Jumat (25/03/2022) malam.


Hal senada ikut diutarakan Winil Zardi, warga Balai Betung Kelurahan Ompang Tanah Sirah.


Diakuinya, susahnya mendapatkan solar untuk bahan bakar penggerak traktor sawahnya, akhirnya Winil Zardi membawa mesinnya ke rumah, untuk dikandangkan.


"Sebenarnya, masih ada sawah yang akan saya bajak. Namun karena susahnya solar, saya angkat bendera putih untuk menyerah dan meminta maaf pada pemilik sawah. Kalaupun upah dinaikkan 10ribu, tapi kalau solar susah didapat, sama saja boong. Biar kita kandangkan dulu mesin bajak ini,"ungkapnya.


Terkait adanya kenaikan upah bajak sawah, diakui Jon Suardi, salah seorang petani di kelurahan Ompang Tanah Sirah.


"Dulu upah bajak sawah Rp.60ribu. Kemaren sudah Rp.70ribu. Alhamdulillah, sawah saya sudah selesai ditanam padi. Mudah-mudahan rezki petani melimpah, sehingga petani sejahtera,"ungkapnya saat dikomfirmasi awak media.


Ungkapan senada lainnya ikut disampaikan Fery Subrata, petani asal subarang ayia Nagari Andaleh, kabupaten Lima Puluh Kota.


"Dulu petani makmur, kini Petani marasai. Yang pasti harga pupuk melonjak, harga bibit tambah naik, pestisida naik, solar susah. Akibatnya, penghasilan tambah berkurang,"ucapnya.


Adalah Usmar, petani asal Taruko kecamatan Payakumbuh Utara, Kota Payakumbuh mengungkap bahwa masalah kelangkaan minyak solar sangat berdampak bagi petani. Terutamo bagi alat pengolahan lahan, minyak traktor mesin bajak sawah.


"Solar sulik mandapekkannyo. Akibatnyo,  jadwal pengolahan lahan pesawahan dunsanak kito agak terlambat dari biasonyo. Kini, lah sagalo langka. Heran, di nagari panuah jo sumber daya alam, namun miskin taraso SDA nyo. Sungguah ironis, dicaliak pulo di area persawahan, sawah di tapi banda, ratak ndak dapek ayiah. Dulu samaso banda alun babeton, ayia sawah malimpah. Kini lah babeton mangko kariang. Mungkin lah bolong-bolong dek sirangkak,"paparnya.


Demikian halnya, diungkap Nasril Suri, mantan anggota DPRD di Kota Payakumbuh.


Menurutnya, kelangkaan solar ikut berdampak pada dunia pertanian. Karena mayoritas mesin bajak berbahan bakar solar.


"Terhambat kelancaran pengolahan lahan dan pengolahan hasil panen berdampak buruk pada pendapatan petani, terhalang kelancaran kebutuhan harian sandang, pangan serta pendidikan anak,"ujarnya.


Terpisah Kepala Dinas Pertanian Kota Payakumbuh, Depi Sastra berharap agar petani menyikapi bijak kelangkaan solar untuk bahan bakar traktor pengolah lahan.


"Sesuai tupoksi saja, saya berharap petani tetap bersemangat dalam bertani. Terkait kelangkaan BBM itu bukan gawe kita. Untuk solusinya, silahkan pemilik lahan dan pemilik jasa traktor, jalin komunikasi yang baik, agar lahan kita bisa digarap sesuai jadwalnya,"singkatnya.(Ul)