Refleksi Hari Jadi ke-190 : Mengorbitkan Kabupaten Padang Pariaman -->

Refleksi Hari Jadi ke-190 : Mengorbitkan Kabupaten Padang Pariaman

Rabu, 11 Januari 2023
Oleh : Prof.DR.H.Duski Samad, M.Ag
Guru Besar UIN Imam Bonjol


Mengorbitkan maksudnya adalah menempatkan daerah dan masyarakat pada kedudukan yang semestinya. Setidaknya, mencermati usia yang sudah dilalui. Benda angkasa di luar orbit berpotensi saling tabrakan, pesawat luar angkasa bila di luar orbit akan hancur, molekul tidak berada digaris orbitnya pasti menimbulkan gangguan. 


Mengorbitkan yang dimaksud dalam tulisan ini, adalah mengajak semua pihak untuk dengan jernih dan cerdas secara bersama-sama menempatkan daerah dan masyarakat Padang Pariaman di posisi yang tepat, akurat dan hebat. Suara lapau "jaan ka kalah, podo sajo kito ndak amuah". Ini artinya posisi terhormat, maju dan hebat adalah kehendak semua pihak. 


Menyongsong hari jadi Kabupaten Padang Pariaman ke 190 (1833-2023) Rabu, 11 Januari 2023 patut diberikan apresiasi terhadap Pemerintah Daerah di bawah Kepemimpinan Bupati Suhatri Bur dan Wakil Bupati Ramang dalam capaian, prestasi dan kemajuan yang telah dihasilkan. 


Bersamaan itu, lazimnya peringatan hari lahir menjadi momen untuk refleksi dan muhasabah jejak rekam dan resolusi masa depan untuk kemajuan yang lebih nyata. Di antara aspek penting yang hendaknya dipertimbangkan untuk kemajuan lebih baik, di ataranya: 


Meneguhkan Ketahanan Masyarakat


Usia Kabupaten yang sudah 190 tahun, tentu sudah dapat dikatakan matang dan realitasnya memang sudah teruji. Ketahanan masyarakat adalah nilai lebih yang tentu mesti dipertahankan dan lebih didayagunakan bagi kepentingan lebih luas.


Modal social yang sudah kuat dalam bidang kerukunan dan soliditas sosial dapat dibuktikan pada kehidupan keagamaan, sosial dan budaya. Misalnya tradisi malakok etnis Nias dengan masyarakat adat di Tanjung Basung. Modal kerukunan kultural di Padang Pariaman adalah bentuk nyata relasi antar masyarakat yang orisinil bhineka tunggal ika. 


Relasi sosial yang berbasis sosio religius yang akomodatif dan moderasi adalah kekayaan yang sudah mengakar kuat. Contohnya, nama bulan Arab oleh orang Piaman disesuaikan dengan ivent budaya, Muharram disebut bulan Tabuik, Syafar dibaca Sapa. Rabiul awal, akhir dan jumadil awal dikata bulan maulid, adik maulid dan bulan carai. Akulturasi sosial budaya dan religi, begitu kental dalam banyak kegiatan budaya dan sosial masyarakat. 


Kekuatan lain yang sulit ada tandingan nya di daerah lain adalah keterlibatan dan partisipasi yang tinggi. Ada jiwa enterneurship dan keikutsertaan dalam pembangunan yang dikenal dengan sato sakaki, dan badoncek, baik ranah maupun di rantau adalah kekuatan social yang sudah menjadi jati diri setiap orang Piaman. Kepercayaan (trust), dan adanya figur pemimpin adalah prasyarat dapat terwujudnya tradisi dan budaya positif di atas. 


Begitu juga dari segi demografis (penduduk) yang memiliki karakter pantai yang cendrung urban, dinamis, inovatif, open mainded, adalah kekuatan yang mestinya dapat dimaksimalkan oleh pemimpin yang diberi amanah. 


Kualitas kepemimpinan kolektif dan akomodatif, di dahulu an salangkah, di tinggi an sarantiang adalah sistim demokratis orisinil yang sudah menjadi limbago. Tradisi kebersamaan, duduk surang ba sampik-sampik, duduk basamo ba lapang-lapang adalah sistim  demokratis yang terbuka dan kultural yang sudah menjadi kebiasaan. 


Segi positif lain yang sudah terbangun kuat di Padang Pariaman adalah karakter, prilaku, sikap dan penghayatan keagamaan yang militan, dan cendrung ortodoks, artinya teguh dan kukuh. Kekuatan kolektif dalam pengembangan ekonomi yang mudah distimulus, respek, dan bernyali adalah value added yang perlu terus diungkit. 


Dalam bidang Pendidikan masyarakat Padang Pariaman sudah lama menjadi prioritas oleh masyarakat. Bahkan, sudah menjadi tagline bahwa pendidikan salah satu cara untuk mengubah nasib. Untuk biaya pendidikan masyarakat siap mengucurkan dana. 


Kekuatan social capital di atas adalah warisan budaya (heritage) tak benda yang mesti terus dipelihara dan dikembangkan melalui cara baru sesuai perkembangan zaman. Mendorong organisasi masyarakat, seperti PKDP dan paguyuban kampung membantu biaya pendidikan anak nagari. Seperti beasiswa adalah cara baik untuk menghadirkan anak nagari cerdas dan berkualitas. 


Ekonomi dan Politik 


Era reformasi yang meniscayakan demokrasi terbuka, dan adu modal untuk memperoleh dukungan publik, langsung atau tidak cukup kuat, sadar atau tidak telah menggerus nilai-nilai positif yang sudah menjiwai masyarakat.  


Pertarungan politik yang berbasis identitas (putra daerah atau tidak), dan  geneologis (suku, ipar bisan dan dunsanak) adalah kekuatan. Sekaligus juga membawa imbas pada lemahnya kontrol sosial saat pemimpin sudah berkuasa. 


Ekses tak terelakkan dari pola relasi sosial berbasis komunal menjadikan acara serimonial. Juga sikap kolektif pragmatis, (bantuan dan donasi kepada kandidat) telah membuat pemimpin tersandera menghadiri kegiatan berjibun. 


Virus politik tarung bebas sepertinya telah menjadikan sesama kandidat bagaikan amuba. Amuba adalah bacteri yang reproduksinya, atau untuk hidup ia harus membelah diri. Kasak kusuk, intrik, bermuka manis dan hati berbisa dianggap biasa. Tak obah seperti tradisi panjek batang pinang yang menggerogoti kearifan lokal, adalah hama yang dapat membusukan nilai-nilai luhur agama, adat dan kesantunan sosial. 


Dalam bidang ekonomi nyata sekali, ba suluah mato hari, ba galangang mato rang banyak, masyarakat Padang Pariaman masih jalan di tempat, kalau tidak mau dikatakan mundur. Bagusnya rumah penduduk, bersilewerannya kendaraan, dan mewahnya pesta, baralek, sumber biayanya dari donasi dunsanak rantau atau dari pinjaman Bank.


Itu semua fakta sosial belum berartinya ekonomi masyarakat. Bukti lain, dampak ekonomi global, juga telah mengilas ekonomi rumah tangga, industri kecil, pabrik barang setengah jadi saja sulit menemukannya. 


Ujung menurunnya ekonomi masyarakat tercemin pada meningkatkannya kemiskinan. Data statistik Padang Pariaman menuliskan bahwa angka kemiskinan dalam ribuan di Padang Pariaman tahun 2019 sebanyak 29,48. tahun 2020 sebanyak 28,98 dan 2021 sebanyak 30,41. Artinya terjadi peningkatan angka kemiskinan. 


Pembangunan Sumber Daya Manusia


Kualitas manusia Padang Pariaman secara historis cukup baik, namun dalam perkembangannya, juga perlu diorbitkan lebih kencang lagi. Dalam urutan di Provinsi Sumatera Barat, SDM Padang Pariaman masih di papan tengah, belum mampu menembus 10 besar.


Data media yang dikutip dari sambutan Kepala Daerah bahwa Padang Pariaman berada pada posisi 11 (69,71) dari 19 Kota Kabupaten di Sumbar dalam hal Indek Pembangunan Manusia (IPM). Di atas Pessel (69,4) di bawah Dharmasraya (70,86).


Mengapa IPM rendah ada hubungan kaitnya dengan angka putus sekolah dan rata-rata lama belajar. Dalam sebuah jurnal di laporkan, bahwa permasalahan paling krusial ditemui adalah tingginya angka putus sekolah (1,8) pada Sekolah Dasar di tahun 2020. Juga angka rata-rata lama sekolah yang masih sangat rendah (7,87). 


Untung saja dalam bidang pendidikan dapat sedikit terangkat atas sumbangan dari angka yang dihasilkan MAN IC sebagai peringkat 5 nasional tahun 2020 dan terus meraih prestasi lainnya setiap tahun. 


IPM Padang Pariaman juga sedikit terangkat semangkin membaiknya layanan Rumah Sakit Daerah, Puskemas dan pusat-pusat kesehatan yang dikelola dengan profesional. Lebih khusus lagi, masyarakat merasa sangat terbantu dengan layanan BPJS yang meringankan pembiayaan sakit. 


Pemimpin dan Masa Depan 


Di tengah kerasnya tantangan di atas maka kualitas pemimpin adalah prasyarat paling utama untuk menghadirkan perubahan dan kemajuan berarti.


Sebagai bentuk harapan dan keinginan akan hadirnya kemajuan berarti, maka masyarakat diminta untuk ikhlas, cerdas dan jernih dalam menentukan pilihan pemimpin yang akan menentu arah kemajuan dan kebaikan di masa datang. 


Dari sedemikian kualitas yang harus dimiliki pemimpin, maka yang paling penting untuk diwaspadai adalah mendapatkan pemimpin toxic. Mengutip Leadership Forces, pemimpin toxic didefinisikan sebagai orang yang memiliki perilaku destruktif dan kepribadian buruk yang menimbulkan gangguan.


Seorang pemimpin toxic tidak hanya membuat karyawannya mudah stres. Ia secara langsung, juga menciptakan budaya kerja negatif dan lingkungan kerja yang tidak sehat.


Diantara ciri seorang pemimpin toxic yang perlu kamu waspadai, adalah tidak menerima saran dan kritik. Mereka menginginkan semua orang selalu mematuhi, dan mengikuti perintah tanpa pernah mempertanyakan keputusannya. Biasanya mereka akan mencoba mengendalikan situasi. Ia memaksakan kehendaknya tanpa mempertimbangkan ide dan pendapat dari tim.


Alasannya, karena mereka percaya mereka benar dan yang terbaik dalam segala hal. Komunikasi pun cenderung bersifat satu arah (top-down). Mereka tidak menerima masukan, juga tidak mau mendengarkan apa kata orang lain.


Pemimpin toxic adalah manipulatif. Tidak memiliki empati adalah ciri lainnya dari seorang pemimpin toxic. Mereka tidak peduli dengan apa yang dibutuhkan orang-orang di sekitar mereka. Pemimpin yang seperti ini, hanya tertarik pada kesuksesan dan keuntungan pribadi, daripada pertumbuhan jangka panjang lingkungannya.


Pemimpin toxic adalah mereka yang tidak hadir dalam ruang orang yang dipimpinannya. Kelompok, tim sukses dan mereka yang memberikan segala yang diperlukan itu yang mendapat tempat. 


Seorang pemimpin yang baik akan secara fisik dan mental “turun tangan” untuk terlibat di setiap aspek pekerjaan. Atasan yang “ogah-ogahan”, mereka bisa saja malah merasa tidak dipedulikan, dan tidak diberikan peluang untuk berkembang. 


Penutup


Sebagai bentuk penghargaan atas kinerja dan kerja keras pemimpin dan semua pihak yang berkonstribusi bagi kemajuan daerah, adalah wajib hukumnya disampaikan terima kasih dan diiringi doa agar semua pengabdian terbaik mereka menjadi investasi akhirat dan sekaligus menjadi legacy.


Kabupaten Padang Pariaman jaya untuk maju dan hebat, pastilah membutuhkan peran serta, keterlibatan dan kerja keras semua anak nagari, pemimpin, dan dunsanak di rantau yang diyakini jiwa daerahnya masih kokoh. Era global justru memerlukan cinta loka, think globaly, and action localy.

DIRGAHAYU KE 190 KABUPATEN PADANG PARIAMAN, 11 JANUARI 2023, ds.10012023.