Professor Fungsional dan Profesional - Oleh : Duski Samad, Ketua Senat UIN Imam Bonjol Padang -->

AdSense New

Professor Fungsional dan Profesional - Oleh : Duski Samad, Ketua Senat UIN Imam Bonjol Padang

Senin, 27 November 2023
Prof.Dr.H.Duski Samad,M.Ag
Ketua Senat UIN Imam Bonjol Padang


"Refleksi Pengukuhan 6 Guru Besar UIN Imam Bonjol" di Kampus III Sungai Bangek Padang, Senin 27 November 2023.


Senen 27 November 2023, dua hari jelang usia IAIN, kini UIN Imam Bonjol berumur 57 tahun, (29 November 1966 - 29 November 2023) Senat UIN mengukuhkan 6 (enam) orang Professor, kado Dies Natalis ke 57 Maret 2023 lalu, juga sudah dikukuh 1 orang, tahun 2023 UIN Imam Bonjol mempersembahkan 7 (tujuh) Professor. 


MAKNA PROFESSOR 


Profesor adalah gelar akademik tertinggi yang diberikan kepada seorang akademisi atau dosen di perguruan tinggi. 

Gelar ini mengakui prestasi akademik dan kontribusi yang luar biasa dalam bidang penelitian, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat. Seorang profesor memiliki pengetahuan yang mendalam dan keahlian khusus dalam disiplin ilmu tertentu.


Makna profesor bagi perguruan tinggi adalah sebagai berikut :


Pertama, Otoritas Akademik : Seorang profesor memiliki otoritas akademik yang tinggi di perguruan tinggi. Mereka dihormati dan diakui sebagai ahli dalam bidang mereka, dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan mengenai kurikulum, penelitian, dan kebijakan akademik.


Kedua, Penelitian dan Inovasi : Profesor diharapkan untuk menjadi pemimpin dalam melakukan penelitian bertaraf dunia dan menghasilkan inovasi baru dalam bidang mereka. 


Mereka seringkali memimpin kelompok penelitian, mendorong kolaborasi antara dosen dan mahasiswa, dan berkontribusi secara signifikan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.


Ketiga, Pengajaran Berkualitas : Sebagai ahli di bidang mereka, profesor bertanggung jawab untuk memberikan pengajaran berkualitas tinggi kepada mahasiswa.


Mereka menggunakan pengetahuan dan pengalaman mereka untuk membimbing mahasiswa dalam memahami materi dan mengembangkan keterampilan yang relevan.


Keempat, Pengabdian kepada Masyarakat : Profesor juga diharapkan untuk berkontribusi dalam pengabdian kepada masyarakat.


Mereka dapat menyumbangkan pengetahuan mereka kepada masyarakat melalui penulisan buku, publikasi ilmiah, menjadi konsultan, berpartisipasi dalam kegiatan komunitas, atau memberikan pelatihan dan seminar bagi masyarakat umum.


Kelima, Pembimbing dan Mentoring : Sebagai anggota fakultas senior, profesor juga berperan sebagai pembimbing dan mentor bagi dosen dan mahasiswa.


Mereka memberikan arahan dan dukungan dalam pengembangan karier akademik dan profesional, serta membantu dalam membentuk generasi berikutnya dari akademisi yang berkualitas.


Profesor merupakan simbol kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi. Mereka berperan penting dalam menghasilkan pengetahuan baru, melatih dan membimbing mahasiswa, serta memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat.


Narasi di atas menyiratkan bahwa makna pencapaian guru besar atau Profesor bagi seorang akademisi di Perguruan Tinggi, melampaui kebanggaan individu, keluarga, kampus, umat, masyarakat, bangsa, bahkan menjadi "hulu air" ilmu sesuai bidang keahliannya.


Professor bukan sekedar membawa citra, harga diri, marwah terhormat, tetapi juga menjadi penentu gengsi dan akreditasi kampus. 


ESENSI FUNGSIONAL PROFESSOR


Esensi fungsional seorang professor adalah sebagai akademisi yang memiliki posisi puncak dalam dunia akademik di bidangnya. Professor memiliki peran utama dalam melakukan penelitian secara mendalam dan menghasilkan kontribusi orisinal dalam bidang ilmu yang mereka geluti.


Selain itu, professor juga bertanggung jawab dalam menyampaikan pengetahuan dan pengalamannya kepada mahasiswa dalam suasana kelas maupun melalui publikasi ilmiah.


Mereka memiliki tugas sebagai pengajar untuk mengembangkan kurikulum dan materi pembelajaran yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan terkini.


Tak hanya itu, professor juga memiliki peran penting dalam mengarahkan dan membimbing mahasiswa dalam melakukan penelitian serta memberikan pengarahan dan dorongan dalam pengembangan karir akademik mereka. Mereka juga sering berperan sebagai pembimbing dalam tesis atau disertasi mahasiswa.


Selain dari sisi akademik, professor juga diharapkan memiliki keterlibatan yang aktif dalam kegiatan akademik di luar kelas, seperti menjadi pembicara dalam konferensi, mengikuti diskusi ilmiah, dan berkontribusi di organisasi profesional di bidangnya.


Secara keseluruhan, esensi fungsional seorang professor adalah menjadi penggerak utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan menyiapkan generasi penerus yang kompeten di bidang akademik. Mereka memiliki tanggung jawab besar dalam penelitian, pengajaran, dan pembimbingan untuk memajukan ilmu pengetahuan dan mendorong inovasi dalam bidangnya.


Jelas dan tegas hakikat fungsi keberadaan Professor begitu mulia dan besar harapan yang ditunggu kampus, masyarakat, umat dan bangsa dari sang guru besar.


Professor adalah Guru Besar yang tentu besar dalam artian yang lebih luas, mencakup besar penghargaan, yang tak boleh diabaikan pula besar pikiran, besar jiwa, besar pengabdian dan meresponi apapun realitas dengan pola pikir besar. 


PROFESIONAL PROFESSOR


Profesionalitas sang Professor tidak perlu diragukan, sebab proses menuju Professor itu ketat, sulit, dan perlu ketabahan luar biasa. Professor di awali dari kematangan diri, jenjang pendidikan S3, Doktor, pangkat administrasi IV C, pengakuan akademik melalui penelitian.


Dan, jurnal ilmiah berstandar internasional, penerimaan Senat Universitas atas moralitas dan loyalitas, pada ujung melalui saringan dari Tim penilaian guru besar di Kementerian Agama atau Kemendikbud RI. 


Begitu sulit, rumit, lama dan ketabahan tingkat tinggi mengurus pangkat fungsional tertinggi ini, maka amat sangat rugi, bila fungsional Professor tidak dapat efektif diberdayakan organisasi tempat mereka mengabdi. 


Indikator keprofesionalan merujuk pada serangkaian kriteria atau standar yang digunakan untuk mengevaluasi tingkat profesionalisme seseorang atau suatu organisasi.


Berikut ini beberapa indikator keprofesionalan yang umumnya digunakan : Pertama, Kompetensi : Tingkat pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang relevan dengan bidang atau profesi tertentu.


Kedua, Etika Kerja : Kepatuhan terhadap etika dan kode etik profesi yang berlaku, termasuk integritas, tanggung jawab, dan kejujuran. Ketiga, Pengalaman : Jumlah dan kualitas pengalaman kerja yang relevan dalam bidang atau profesi tertentu.


Keempat, Pelatihan dan Peningkatan Diri : Partisipasi dalam pelatihan dan program pengembangan diri yang relevan untuk meningkatkan kompetensi dan kepemimpinan. Kelima, Profesionalisme Interpersonal : Kemampuan berkomunikasi dengan baik, bekerja sama dalam tim, dan menjaga hubungan profesional dengan orang lain.


Keenam, Kepemimpinan : Kemampuan memimpin, mengorganisir, dan mengelola tim atau proyek dengan efektif. Ketujuh, Pemahaman yang Mendalam : Memiliki pemahaman yang mendalam tentang aspek-aspek penting dan perkembangan terbaru dalam bidang atau profesi tertentu.


Kedelapan, Kualitas Karya : Kemampuan menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan cermat, berkualitas, dan memenuhi standar yang ditetapkan. Kesembilan, Tanggung Jawab Profesional : Menghormati batasan tugas dan tanggung jawab yang ditetapkan serta mematuhi semua peraturan dan kebijakan yang relevan.


Kesepuluh, Kesadaran terhadap Kebutuhan Pelanggan : Memiliki pemahaman yang baik tentang kebutuhan pelanggan, serta berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang memenuhi harapan mereka.


Indikator-indikator ini dapat digunakan untuk menilai profesionalisme individu, tim, atau organisasi dalam berbagai bidang profesi, termasuk pendidikan, kesehatan, teknologi, dan lain sebagainya.


PROFESSOR UIN IMAM BONJOL 


Sejak lahirnya PMA Nomor 856 tahun 2021 tentang kewenangan Menteri Agama menetapkan guru besar dalam bidang ilmu agama. Alhamdulillah dalam Priode Rektor  Prof. Dr. Martin Kustati, M. Pd sampai saat ini sudah dikukuhkan 13 orang Professor dari 6 orang Professor senior yang tentu sering sunnatullah akan pensiun pada waktunya. 


Guru Besar di UIN depan setelah disemai melalui program percepatan guru besar 30 orang tahun 2022 di UIN Jokyakarta, sudah menetas telurnya 4 orang. Dan, insya' Allah semuanya menjadi guru besar dalam waktu yang tak terlalu lama.


UIN Imam Bonjol bereputasi yang menjadi tekad kolektif civitas akademika satu di antara pilar penyangganya adalah kualitas tenaga pendidikan. Pencapaian pangkat dan gelar akademik Professor, Lektor Kepala, dan Lektor adalah unsur penting bagi peningkatan akreditasi prodi dan universitas. 


Lebih penting lagi, Professor UIN Imam Bonjol kehadirannya di nanti umat dan bangsa dalam membimbing kehidupan moral, dan sipritual warga bangsa. Era digital dan global yang mengguncang sendi moral dan sipritual hampir semua elemen masyarakat. 


Tragline UIN Imam Bonjol, Islam, Ilmu Pengetahuan dan Budaya adalah tanggung jawab ideologi yang tentu titik tumpunya ada pada guru besar.


Artinya dedikasi, kontribusi, loyalitas dan keterlibatan sang Professor adalah kunci tercapai misi besar yang sudah dipancangkan saat awal transformasi IAIN menjadi UIN Imam Bonjol.


Konsistensi dan keterlibatan guru besar atau Professor UIN Imam Bonjol sebagai pengkaji, peneliti dan pemberi solusi terhadap masalah kemasyarakatan, kebangsaan dan keumatan. 


Concern guru besar UIN dapat dibaca pada issu-issu besar pidato pengukuhan 6 orang guru besar. Nurussalihin guru besar Sosiologi, intinya menegaskan perlunya menemukan solusi dan praktik, baik yang dapat dilakukan terhadap krisis sipritualitas yang tengah menjakiti masyarakat moderen, lebih lagi kaum milinial. 


Remiswal guru besar ilmu pendidikan, bertitik tumpu pada penguatan moralitas dalam semua aspek pendidikan. Moralitas sebagai filosofi, moral sebagai nilai dasar pembelajaran, konsepsi hidup pendidik dan tenaga kependidikan serta stakeholder dalam dunia pendidikan. 


Irta Sulastri mengingatkan, pentingnya impression (kesan) dalam tabligh, dan dakwah. Kesan yang ditanamkan da'i akan menimbulkan efek pada jama'ah dan juga sekaligus menimbulkan citra diri da'i. Pesannya, bahwa impresion management dalam Dakwah adalah metodologi tepat bagi masyarakat yang kaya informasi. 


Ikhwan guru besar hukum Islam, mengangkat tema Peran Keagamaan Perempuan sub tema Imam dan Khatib. Kajian fiqih keluarga kotemporer ini adalah kebutuhan masyarakat moderen yang meminta kesetaraan, gender, emansipasi dan keberadaan dan keberfungsian perempuan di ruang publik. 


Muchlis Bahar memastikan, Urgensinya Ilmu Ushul Fiqh Untuk Membentuk Sikap Moderasi Beragama. Moderasi beragama sejak digulirkan masih resisten dan tidak sedikit disalahpahami ulama, da'i dan tokoh masyarakat. 


Buya Professor Muchlis Bahar pada penutup tulisannya, Ilmu Ushul Fiqih perlu dipelajari dan dipahami secara konperhensif untuk membangun sikap Moderasi beragama, agar setiap muslim bersikap wasithy/mu'tadil/tawazun dalam berijtihad di zaman kotemporer, sehingga tidak cendrung ekstrim kiri dan ekstrim kanan.


Bukhari meminta semua pihak bahwa dakwah, khususnya ceramah sangat penting dan strategis dalam menjaga ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga, kini satu masalah yang mencemaskan masa depan bangsa, tingginya angka perceraian, melonjaknya angka stunting, kenakalan remaja, kasus LGBT dan problema keluarga lainnya adalah kerjanya civitas akademika Perguruan Tinggi Islam. 


Keenam pidato pengukuhan guru besar di atas, benang merahnya adalah core bisnis Tridharma UIN Imam Bonjol. Kepentingan guru besar UIN Imam Bonjol lintas ruang dan untuk semua.


Semoga pengabdian tiada henti sang guru besar, terus mencerahkan bagi kebaikan untuk semua. Amin. DS. Setiba27112023.