Desa Salak, Pusat Penerangan Sawahlunto yang Terabaikan -->

Iklan Atas

Desa Salak, Pusat Penerangan Sawahlunto yang Terabaikan

Kamis, 20 Juni 2024
Kondisi Cagar Budaya PLTU Salak dengan latar belakang aktivitas pertambangan batubara. (foto istimewa) 

Oleh: Anton Saputra


Desa Salak, merupakan salah satu desa dari lima desa yang terdapat di Kenagarian Sijantang, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat


Di desa ini terdapat sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Salak atau Elektrische Centrale te Salak yang dibangun Belanda pada 1924 dengan bangunan bergaya Eropa.


Pembangkit listrik ini berperan besar dalam memasok energi listrik bagi kebutuhan tambang, penerangan rumah dan kantor di Kota Sawahlunto pada masanya.


Pasca kemerdekaan, barulah pemerintah Republik Indonesia mendirikan PLTU Ombilin dimulai dengan tahap studi kelayakan, tahap prakonstruksi, tahap konstruksi, tahap commissioning dan tahap operasi. Pada bulan Juli 1993 konstruksi utama dimulai. 


Secara bertahap pembangunan PLTU Ombilin Unit 1 dan 2 mulai dikerjakan. Tiga tahun kemudian mulai beroperasi tepatnya pada Juli 1996, disusul PLTU Unit 2 pada November 1996. PLTU Ombilin dapat berumur ± 30 tahun.


Pembangunan Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ombilin dengan menggunakan bahan bakar Batubara merupakan salah satu cara pemanfaatan potensi batubara di daerah Sawahlunto dan sekitarnya.


Nah, Desa Salak masih memiliki peran yang sangat vital sampai saat ini. Kenapa tidak, pasokan bahan bakar batubara untuk PLTU Ombilin (PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit Ombilin) masih melewati desa dengan Luas 6,60 kilometer persegi ini.


Posisi strategisnya ada di Simpang Napar, simpang empat ini menjadi pusat lalu lalang truk-truk bermuatan batubara dan keluar masuknya alat berat serta kendaraan operasional proses pertambangan batubara.


Tercatat sampai saat ini, terdapat sebanyak 11 Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan satu izin pengangkutan dan pengelolaan fly ash dan bottom ash (FABA) sisa pembakaran PLTU Ombilin yang eksis melintasi desa berpenduduk 1.491 jiwa dari 460 Kepala Keluarga (Data 19 Juni 2024) dengan 3 dusun (Pulau Ambacang, Talangguang dan Ibus).


Diantara IUP tersebut adalah:
1. PT Allied Indo Coal Jaya
2. PT Nusa Alam Lestari
3. PT Dasrat Sarana Arang Sejati
4. CV Tahiti Coal
5. CV Cahaya Bumi Perdana
6. CV Bara Mitra Kencana
7. CV Putri Surya Pratama Natural
8. PT Ferly Tirta Jaya
9. PT Miyor Pratama Coal
10. CV Air Mata Emas
11. PT Ranah Tigo Luhak
12. PT Guguk Tinggi Coal (FABA)


Saat ini Desa Salak dipimpin seorang generasi muda bertitel Sarjana Hukum, Jeri Rizal SH. Dengan dukungan Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Bundo Kanduang hingga Karang Taruna, meski tak mudah, Jeri Rizal dinilai mampu membawa perubahan untuk pembangunan Desa Salak yang terabaikan.


Saat masih eksisnya PLTU Salak, desa ini sangat aman, tentram dan nyaman. Masyarakatnya (Minangkabau) hidup berbaur dengan etnis Jawa, Batak, Sunda dan etnis lainnya berdampingan senasib sepenanggungan.


Kini, PLTU Salak yang legendaris itu seakan tak terurus. Namun sejarah telah mencatat perjalanannya hingga menjadi Cagar Budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat.


Hutan yang dulu mengelilingi Desa Salak pun gundul akibat aktivitas pertambangan batubara disekitarnya sampai saat ini. Sungai Sitatang yang dulu menjadi tempat mandi, mencari ikan, labi hingga kepiting hutan pun sirna akibat pendangkalan.


Banjir pun selalu menghampiri ketika hujan lebat melanda dan merendam puluhan pemukiman warga Desa Salak, tepatnya di Dusun Ibus. Kejadian ini terus berulang hampir puluhan tahun. Drainase tak mampu lagi menampung debit air dari alam sekitar. Tuhan sampai kapankah ini terjadi?


Mungkin, dengan berkolaborasinya perusahaan-perusahan tambang tersebut diatas, diyakini mampu menjadi solusi dengan konsep Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau yang lebih keren disebut Corporate Social Responsibility atau Program CSR.


Ditambah lagi peran aktif pemerintah kota, provinsi maupun pusat turut andil dalam membenahi desa yang sangat strategis ini. Hingga pada akhirnya, Desa Salak yang sempat menjadi pusat penerangan Kota Sawahlunto itu tak lagi terabaikan. (***)