Perkembangan Emosi Anak Usia Dini di PAUD Al-Hidayah -->

Iklan Atas

Perkembangan Emosi Anak Usia Dini di PAUD Al-Hidayah

Kamis, 13 Juni 2024
PAUD Al-Hidayah. (foto istimewa


Mata Kuliah Perkembangan Anak Usia Dini

Dosen Pengampu : Dr. Setiyo Utoyo, M.Pd

oleh : Nike Sanjaya (22355035)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG TAHUN 2024


Pendahuluan (Introduction)

Lembaga pendidikan anak usia dini sangat penting keberadaannya untuk membangun dan menciptakan generasi penerus yang berkualitas dimasa yang akan datang, sebagai upaya optimalisasi  potensi  keemasan  anak.  Emosi  adalah perasaan  yang banyak berdampak pada perilaku. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap dorongan dari luar dan dalam diri individu. Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam pertumbuhan anak usia dini. Setiap anak akan mengalami masa-masa pertumbuhan dan perkembangan pada berbagai dimensi, apabila pada anak diberikan stimulasi edukatif secara intensif dari lingkungannya, maka anak akan mampu menjalani tugas perkembangannya  dengan  baik. Setiap  individu  mengalami  perkembangan. Perkembangan terjadi sejak usia dini hingga dewasa. Perkembangan tidak dapat diukur, tetapi dapat dirasakan. Perkembangan bersifat maju ke depan, sistematis dan berkesinambungan. Usia dini adalah masa yang paling tepat untuk menstimulasi perkembangan emosi. Hal itu akan menjadi modal untuk anak saat ia dewasa kelak.


Perkembangan emosi pada anak usia dini sangatlah penting. Sebab perilaku emosi- emosi ada hubungannya dengan aktivitas dengan aktivitas dalam kehidupannya. Semakin kuat emosi memberikan tekanan, akan semakin kuat mengguncang keseimbangan tubuh untuk melakukan aktivitas tertentu. Jika kegiatan sesuai dengan emosinya maka anak akan senang melakukannya dan secara mental akan meningkatkan konsentrasi dan aktivitasnya dan secara psikologis akan positif memberikan sumbangan pada peningkatan motivasi dan minat pada pembelajaran yang ditekuni. Sosial emosional pada anak usia dini penting dikembangkan. Terdapat beberapa hal mendasar yang mendorong pentingnya pengembangan emosi tersebut.



Hasil Analisis Perkembangan Emosi

Perngertian perkembangan

Perkembangan(development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasikan dari sel-sek tubuh,  jaringan  tubuh,  organ-organ  dan  sistem  organ  yang  berkembang  sedemikian  rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual, dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Soetjiningsi, 1995).


Periode penting dalam tubuh kembang anak adalah masa balita, karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan. Dalam perspektif psikologi, perkembangan merupakan perubahan progresif yang menunjukan cara tingkah laku dan berinteraksi dengan lingkungannya (Fakhrudin, 2010).


Sedangkan menurut Jamaris dalam (Sujiono, 2009), perkembangan merupakan suatu proses yang bersifat kumulatif. Artinya, perkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya. Oleh sebab itu, lanjut Jamaris, apabila terjadi hambatan pada perkembangan terdahulu, maka perkembangan selanjutnya akan mendapatkan hambatan.


Perkembangan  dapat  diartikan  sebagai  “perubahan  yang  progresif  dan  kontinyu (berkesinambungan) dalam bentuk individu dari mulai lahir sampai mati”. Pengertian dilain dari perkembangan adalah perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menunju tingkat kedewasaannya atau kematangan (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah) (Yusuf, 2008).


Perkembangan  adalah  perubahan  psikologis  sebagai  hasil  dari  proses  pematangan fungsi psikis dan fisik pada diri anak, yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam peredaran waktu tertentu menuju kedewasaan dari lingkungan yang banyak berpengaruh dalam kehidupan anak menuju dewasa. Perkembangan menandai maturitas dari organ-organ dan sistem-sistem, perolehan keterampilan, kemampuan yang lebih siap untuk beradaptasi terhadap stres dan kemampuan untuk memikul tanggung jawab maksimal dan memperoleh kebebasan dalam mengekspresikan kreativitas (Supriyadi, 2010).


Perngertian Emosi

Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak dalam diri individu yang sifatnya didasari. Oxford English Dictionary mengartikan emosi sebagai sesuatu kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu atau setiap keadaan mental yang hebat. Selain itu, Daniel Goleman merumuskan emosi sebagai sesuatu yang merujuk pada suatu perasaan dan pikiran- pikiran  khasnya,  sesuatu  keadaan  biologis  dan  psikologis,  serta  serangkaian  kecendrungan untuk bertindak. Emosi dapat dikelompokkan sebagai suatu rasa marah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel atau malu. Istilah emosi berasal dari kata “emotus” atau “emovere” atau “mencerca” (to stir up) yang berarti sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu, missal emosi gembira mendorong untuk tertawa, atau perkataan lain emosi didefinisikan sebagai suatu keadaan gejolak penyesuaian diri yang berasal dari dalam dan melibatkan hampir keseluruhan diri individu (Sujiono, 2009).


Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku internasional manusia (Prawitasari,1995).


Menurut Crow dan Crow (1958), pengertian emosi adalah ‘An emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustement and mental and physiological stirredup states in the individual, and that shows it self in his evert   behavior’. Jadi, emosi adalah pengalaman afektif yang digeneralisasikan dalam penyesuaian diri dan mental sehingga dapat menerangkan siapa individu tersebut sesungguhnya dan ditunjukan dalam setiap perilakunya.


Menurut Elizabeth B. Hurlock sebagaimana yang dikutip (Setiani, 2012) kemampuan anak untuk bereaksi secara emosional sudah ada semenjak bayi baru dilahirkan. Gejala pertama perilaku emosional ini berupa keterangsangan umum. Dengan meningkatkan usia anak, reaksi emosional mereka kurang menyebar, kurang sembarangan, lebih dapat dibedakan, dan lebih lunak  kerena  mereka  harus  mempelajari  reaksi  orang  lain  terhadap  luapan  emosi  yang berlebihan.


Lindsley, berpendapat bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan saraf berkerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi.


Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian diri dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Emosi sering didefinisikan dalam istilah perasaan (feeling),    misalnya pengalaman afektif, kenikmatan atau ketidaknikmatan, marah terkejut, bahagia, sedih dan jijik. Emosi juga sering berhubungan dengan ekspresi tingkah laku dan respon-respon fidiologis.


Fungsi Emosi pada Anak Usia Dini

Pertama, perilaku emosi anak yang ditampilkan merupakan sumber penilaian lingkungan sosial terhadap dirinya. Penilaian lingkungan sosial ini akan menjadi dasar individu dalam menilai dirinya sendiri. Contoh: jika seorang anak sering mengekspresikan ketidaknyamannya dengan menangis, lingkungan sosialnya akan menilai ia sebagai anak yang “cengeng”. Kedua, emosi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dapat mempengaruhi interaksi sosial anak melalui reaksi-reaksi  yang ditampilkan  lingkungannya.  Melalui  reaksi lingkungan sosial anak dapat belajar untuk membentuk tingkah laku emosi yang dapat diterima lingkungannya. Jika anak melemparkan mainannya saat marah, reaksi yang muncul dari lingkungannya adalah kurang menyukai atau menolaknya. Ketiga, emosi dapat mempengaruhi iklim psikologis lingkungan, artinya jika ada yang ditampilkan dapat menentukan iklim psikologis lingkungan. Artinya jika ada seorang anak yang pemarah dalam suatu kelompok, maka dapat mempengaruhi kondisi psikologis lingkungannya saat itu. Ketiga, tingkah laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadi satu kebiasaan. Artinya jika seorang anak yang ramah dan suka menolong merasa senang dengan perilakunya tersebut dan lingkunganpun menyukainya maka anak akan melakukan perbuatan tersebut berulang-ulang hingga akhirnya menjadi kebiasaan. Keempat, ketegangan emosi yang dimiliki anak dapat menghambat atau mengganggu aktivitas motorik dan mental anak. Seorang anak yang mengalami stress atau ketakutan  menghadapi  suatu  situasi,  dapat  menghambat  anak  tersebut  untuk  melakukan aktivitas. Misalnya, seorang anak akan menolak bermain kreasi dengan cat poster karena takut akan mengotori bajunya dan dimarahi orang tua. Kegiatan kreasi dengan cat poster ini sangat baik untuk melatih motorik halus dan indra perabaannya.


Jenis Emosi pada Anak Usia Dini

Gembira

Setiap orang dari berbagai usia mulai dari jenjang bayi hingga dewasa di seluruh bumi ini mengenal dan memiliki pengalaman dalam mengekspresikan rasa kebahagiaan yang dirasakannya. Misal, jika anak mampu mengerjakan tugasnya dengan baik dan guru memberikan hadiah baik lisan maupun benda, anak akan kegirangan dan berteriak “hore aku dapat hadiah dari bu guru”. Begitu pula seorang istri yang mendapat karangan bunga dari suami dihari ulang tahunnya, istri akan tersenyum bahagia. Aktivitas kreatif saat menemukan sesuatu yang dicari-cari dan kemenangan olahraga akan menampilkan perasaan bahagia.


Marah

Rasa marah yang dirasakan manusia terpicunya  karena tidak terpenuhinya sesuatu sesuai keinginan atau harapannya. Rasa marah dilampiaskan dengan berbagai cara misalnya orang yang ditendang akan baik menendang lebih keras dibarengi dengan tenaga atau dorongan yang lebih keras.


Chaplin (1998) dalam dictionary of psychology, bahwa marah adalah reaksi emosional akut yang timbul karena sejumlah situasi yang merangsang, termasuk ancaman, agresi lahiriyah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan, atau frustasi dan dicirikan kuat oleh reaksi pada sistem otomik, khususnya oleh  reaksi darurat pada bagian simpatetik, dan secara emplisit disebabkan oleh reaksi seragam, baik yang bersifat somatis atau jasmaniyah maupun yang verbal atau lisan.


Barlet dan Izart (Steward, 1985) menguraikan  ekspresi orang yang marah ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut: (a) dahi bekerut, (b)tatapan mata tajam pada objek pencetus kemarahan, (c)membesarnya cuping hidung, (d)bibir ditarik ke belakang memperlihatkan gigi yang mencengkeram, (e)rona merah pada kulit, (f)takut. Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.


Ketakutan juga terkait dengan suatu perilaku spesifik untuk melarikan diri dan menghindar, sedangkan kegelisahan adalah hasil dari persepsi ancaman yang tak dapat dikendalikan atau dihindarkan. (g)sedih. Sedih adalah perasaan anak ketika melihat sesuatu yang membuat hatinya ibu dan timbul kesedihan dan merasa kehilangan sesuatu yang di senangi atau tidak terpenuhi apa yang diinginkan. Misalnya saja sang anak mempunyai boneka kesayangan  kemudian  hilang disitulah  anak pasti  merasa  kehilangan  dan  timbul  kesedihan (Ndari, 2018).


Dalam memberikan petunjuk pada manusia, Al Qur’an dan hadits banyak membahas tentang berbagai jenis ekspresi emosional manusia ketika menghadapi atau mengalami sesuatu. Ekspresi yang ditampilkan sangat kaya termasuk ekspresi primer dan emosi sekunder.


Emosi primer adalah emosi dasar yang dianggap secara biologis yang telah terbentuk sejak awal kelahiran. Diantara emosi primer adalah gembira, sedih, marah dan takut. Sedangkan emosi sekunder merupakan emosi yang lebih  kompleks dibandingkan emosi primer.Emosi sekunder adalah emosi yang mengandung kesadaran diri atau evaluasi diri, sehingga pertumbuhannya tergantung pada perkembangan kognitif seseorang. Contoh: malu, iri hati dengki, sombong, angkuh, bangga, kagum, takjub, cinta, benci, bingung, terhina, sesal dan sebagainya. Beragam emosi ini timbul dalam diri manusia pada kondisi dan situasi tertentu dan pengendaliannya ditentukan oleh kemampuan yang berbeda-beda pada masing-masing individu itu sendiri.


Peran Figur Ayah dan Ibu dalam Membentuk Kemampuan Pengendalian Emosi pada Anak 


a) Figur Ayah

Seorang ayah yang terlibat dan sensitif dalam pengasuhan anak akan memberikan efek positif dalam perkembangan anak. Ketika ayah terlibat dan menerapkan disiplin yang cukup tinggi akan mengurangi kecenderungan anak untuk berperilaku eksternalisasi (marah, bandel, berperilaku menyimpang) terutama pada masa sekolahnya (Koentjoro, 2004). Keterlibatan ayah juga akan mengembangkan kemampuan anak untuk berempati, bersikap penuh perhatian dan kasih sayang serta hubungan sosial yang lebih baik. Penelitian juga menunjukkan bahwa keterlibatan ayah akan memberikan manfaat yang posisitif bagi anak laki-laki dalam mengembangkan kendali diri dan kemampuan  menunda pemuasan keinginan dan pada penyesuaian sosial remaja laki-laki (Koentjoro, 2004). Meski penelitian belum memberikan dukungan yang kuat tentang peran ayah pada anak perempuan Andayani  (2004)  meyakini bahwa keterlibatan dan sensitivitas ayah dalam pengasuhan akan memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan anak perempuan. Dalam perkembangan seorang anak perempuan kasih sayang yang dan perhatian efektif dari  ayah juga sangat dibutuhkan. Gottman dan DeClaire menggaris bawahi bahwa meski peran ayah pada prestasi akademik dan karir perempuan belum didukung oleh hasil penelitian yang kuat, anak-anak perempuan  yang didampingi oleh ayahnya akan cenderung tidak menjadi sexual promiscuous secara dini dan mampu  mengembangkan  hubungan  sehat  dengan laki-laki di masa dewasanya. Anak-anak perempuan yang mendapatkan perhatian yang positif dari ayahnya akan mendapatkan pemenuhan keutuhan afektif dan pada saat yang sama ia akan belajar bagaimana berhubungan dengan lawan jenis secara sehat (Koentjoro, 2004).


b)Figur Ibu

Ibu akan sangat berperan membentuk kebiasaan-kebiasaan hidup anak yang nantinya akan membangun karakter dan sifat-sifat anak. Sebagai sosok orang terdekat, penanaman nilai kepada anak dilakukan ibu melalui penanaman kebiasaan, yang akan berakumulasi menjadi kepribadian. Selain sebagai penanam kebiasaan-kebiasaan, ibu juga berperan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak. Semakin banyak ibu menemukan saat anak berbuat salah, semakin banyak kesempatan ibu untuk mengajak anak memperbaikinya. Jika ibu hanya sempat menemukan kejadian tersebut dua kali dalam sehari, maka pembelajaran yang diterima anak hanya 20%, sementara delapan kali kesalahan lain tidak sempat diperbaiki, yang berarti hilang 80% kesempatan ibu untuk memperbaiki kesalahan anak. Itulah sebabnya, mengapa peran ibu sebagai orang terdekat anak sangat menentukan kebiasaan yang terbentuk yang akhirnya membangun sifat anak (Istadi, 2006).


Seorang ibu yang memang sudah kodratnya memiliki “instink” keibuan untuk terampil mengurus anak-anaknya, bahkan wanita yang belum atau tidak melahirkan anak sendiri. Peran ayah juga dipengaruhi oleh peran ibu yang sering memberikan evaluasi pada para ayah ketika terlibat dengan anak-anak. Simons dkk membuktikan bahwa sikap, harapan dan dukungan ibu terhadap ayah akan memperkuat identitas peran ayah yang kemudian akan meningkatkan perhatian ayah terhadap anak, atau dengan kata lain meningkatkan pemutusan psikologis (psychological centralitiy) tentang pentingnya anak bagai si ayah. Ketika hubungan dengan istri kurang memuaskan atau penuh dengan konflik, ayah cenderung menjauh dari anak. Jika ayah masih berinteraksi dengan anak ketika kualitas pernikahan tidak memuaskan, maka pola perilakunya terhadap anak juga cenderung kurang positif (Nurhayani, 2014). 


Terdapat beberapa keterampilan yang perlu dikuasi anak agar mereka dapat mencapai kompetensi emosi, yakni: (a) kesadaran atas kondisi emosi sendiri, (b) keterampilan dalam menelisik  dan  memahami  emosi  orang  lain.  (c) keterampilan  dalam menggunakan  kosakata emosi dan ekspresi istilah-istilah yang lazim tersedia dalam subkulturnya. (d) kemampuan untuk terlibat secara empatik dan simpatik dalam pengalaman emosional orang lain. (e) keterampilan dalam memahami bahwa kondisi emosional dalam diri, tidak perlu selalu bersesuaian dengan ekspresi luar, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. (f) keterampilan dalam mengatasi secara adaptif berbagai emosi aversif serta beragam suasana yang menekan, melalui penggunaan strategi pengaturan diri. (g) kesadaran bahwa struktur atau hakikat dari suatu hubungan sangat ditentukan oleh bagaimana emosi  dikomunikasikan  dalam hubungan tersebut. (h) kemapuan meyakinkan diri secara emosi,  yakni memandang pengalaman emosi sebagai  sesuatu  yang sesuai dengan keyakinan moral.


Bar-On dan Parker mengemukakan bahwa keterampilan-keterampilan diatas dapat di didikkan pada anak-anak serta dapat di evaluasi kemajuannya dengan menggunakan beberapa cara sebagai berikut: (a) dengan membuat anak-anak menanggapi tugas –tugas yang di berikan, misalnya permainan boneka, yang dirancang untuk membangkitkan pemahaman langsung maupun tidak langsung mereka terhadap proses-proses yang terkait emosi. (b) dengan membuat orang tua atau guru menilai secara sistematis perilaku anak-anak yang terkait dengan emosi (emation-related behavior). (c) dengan mewawancarai anak-anak tentang pengalaman mereka, dengan  menggunakan  cerita  atau  sketsa  video  atau  laporan  pribadi.  (d)dengan  mengamati mereka secara langsung dalam situasi yang membangkitkan emosi (H. I. Dkk, 2017).


Terdapat beberapa hal penting dalam perkembangan emosional anak yang perlu difahami: (a) usia berpengaruh pada perbedaan  perkembangan emosi setiap rentang usia menunjukkan beberapa perbedaan yang paling mencolok dalam ekspresi dan regulasi emosi. Selama usia prasekolah, anak juga mengalami stress dan meresponsnya, namun di usia ini mereka juga berusaha untuk mengatur perasaan dan dorongan dirinya sendiri. Perbedaan kemampuan dalam mengekspresikan dan meregulasi emosi pada anak ini juga terkait dengan perkembangan kognitif anak, dimana perkembangan kognitif anak ini akan mempengaruhi kemampuan untuk mengontrol diri dan menghambat impuls. (b) perubahan ekspresi wajah terhadap emosi Seperti halnya orang dewasa, ekspresi perasaan anak-anak juga terlihat dari ekspresi wajahnya. Seiring dengan  bertambahnya usia mereka, anak-anak semakin mampu dalam mengekspresikan emosi mereka melalui tersenyum, mengerutkan kening, dan ekspresi lainnya perasaan. Kemampuan menggambarkan ekspresi emosi mereka semakin kompleks dan terlihat dari raut wajah mereka. (c) menunjukkan emosi yang kompleks Anak-anak di usia prasekolah memperlihatkan ekspresi wajah yang menunjukkan kebanggaan, malu-malu, malu, jijik, dan rasa bersalah yang tidak terlihat pada bayi atau anak yang lebih muda. Ekspresi yang lebih kompleks dapat di tunjukkan dan kemampuan ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitif untuk mereka mengalami dan mengekspresikan perasaan-perasan tersebut. (d) bahasa tubuh Ternyata wajah tidak cukup bagi anak untuk mengekspresikan emosi, anak juga menggunakan seluruh tubuhnya untuk mengekspresikan perasaannya. Mereka mengekspresikannya melalui gerak. 


Daftar Rujukan (References)

Dkk., A. N. (2005). Metode Pengembangan Sosial Emosional. Jakarta: Universitas Terbuka. Dkk., H. A. (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Khairi, H. (2018). Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini dari 0-6 Tahun. Jurnal Warna, 2(2).

Retrieved from https://ejournal.iaiig.ac.id/index.php/warna/article/view/87

Nurmalitasari, F. (2015). Perkembangan Sosial Emosi pada Anak Usia Pra Sekolah. Bulletin Psikologi, 23(1).

Setiani, R. E. (2012). Metode Melatih Kecerdasan Emosional pada Anak di SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyah Purwokerto. STAIN Purwokerto. (***)