Sukses Ekspor, Bolen Malang Kian Diminati di Luar Negeri -->

Iklan Atas

Sukses Ekspor, Bolen Malang Kian Diminati di Luar Negeri

Minggu, 23 Juni 2024

Bolen asal Malang tembus pasar ekspor


MALANG - Produk bolen buatan UMKM asal Malang berhasil menembus pasar ekspor di Asia Timur hingga Eropa. Pasangan suami istri, Ismiati Solihah dan Sony Darmawan, yang mengelola usaha ini, mulai merambah pasar internasional.


Bolen khas Malang ini diproduksi dari rumah mereka di Jalan Borobudur Agung Timur 7 A Nomor 18, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Bolen tersebut memiliki rasa khas dari apel dan pisang Malang.


Rasa bolen yang ditawarkan sangat unik, terutama dengan apel manalagi khas Malang dan pisang agung dari Dampit, Kabupaten Malang, yang terasa pada varian pisang coklat. Sensasi rasa buah ini membedakan Bolen Malang dari bolen lainnya seperti yang berasal dari Bandung.


Ismiati Solihah, pemilik usaha, menceritakan bahwa dia memulai usahanya pada tahun 2018 dengan modal Rp10 juta. Dia yang sering membuat kue kering, beralih membuat bolen karena lebih tahan lama dan tidak bergantung pada musim.


"Kue kering biasanya laris saat Lebaran dan Natal. Lalu saya berpikir untuk membuat sesuatu yang bisa dijual sepanjang tahun. Saya suka membuat kue, jadi saya coba membuat bolen. Kami sering membawa produk untuk tester dan akhirnya berhasil dijual," ujar Ismiati saat ditemui di rumah produksinya.


Perlahan namun pasti, produksi bolen meningkat sejak 2018. Kini, Ismiati dan tiga karyawannya mampu memproduksi 50 hingga 200 boks bolen per hari, dengan setiap boks berisi 10 potong.


"Sebulan bisa mencapai 3.000 - 5.000 boks, bahkan hingga 6.000 boks saat libur panjang. Pernah sampai menolak pesanan karena kekurangan tenaga," tambahnya.


Bolen Malang memiliki pangsa pasar domestik yang luas, mulai dari seluruh Jawa Timur hingga Bali, Yogyakarta, Semarang, Bandung, dan Jakarta. Bahkan, bolen ini telah dikirim ke Kalimantan dan Sulawesi.


"Saat pandemi, banyak pesanan reguler dari Hong Kong. Pengiriman reguler tetap berlanjut setelah pandemi, terakhir kami kirim 70 boks. Selain itu, kami juga mengirim ke Malaysia," jelas Ismiati.


Pelanggan internasional juga terus bertambah. Seorang turis Prancis secara rutin memesan bolen untuk dibawa ke Paris, dan dalam waktu dekat ini bolen akan dibawa ke Amsterdam, Belanda.


"Turis Prancis tersebut beberapa kali pesan bolen untuk dibawa ke Paris. Biasanya mereka tahu dari Instagram dan memesan lagi," ujarnya.


Ismiati menambahkan bahwa turis tersebut sangat menyukai rasa khas bolen pada kulitnya dan rasa apel yang menjadi favorit. Kemasan produk yang menarik juga menjadi daya tarik.


"Harganya sama di mana-mana, satu boks isi 10 dijual Rp65 ribu, isi enam Rp45 ribu, dan isi empat Rp25 ribu. Untuk pengiriman luar negeri, biaya ditanggung pemesan," jelasnya.


Dengan pangsa pasar yang meluas hingga luar negeri, omzet penjualan bolen Malang meningkat tajam. Setiap bulan, Ismiati dan suaminya bisa meraup keuntungan Rp50 juta hingga Rp70 juta.


"Kendalanya hanya pada daya tahan bolen, maksimal 7 hari di suhu ruangan dan 14 hari di kulkas. Kadang-kadang, jika mendekati masa kedaluwarsa, kami bagikan agar tidak terbuang. Jika disimpan di freezer, sebelum dikonsumsi harus dipanaskan dulu agar rasanya tetap sama," pungkasnya.(BY)