Banjir Ranah Minang Picu Inflasi, Harga Cabai Meningkat -->

Iklan Atas

Banjir Ranah Minang Picu Inflasi, Harga Cabai Meningkat

Jumat, 05 Juli 2024

Arsip - Foto udara kerusakan lahan pertanian di Kabupaten Tanahdatar akibat dihantam banjir lahar dingin beberapa waktu lalu.


Padang  -Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) menyampaikan bahwa bencana hidrometeorologi yang baru-baru ini melanda Ranah Minang berdampak pada tingkat inflasi di provinsi tersebut pada bulan Juni 2024.


Muhamad Irfan Sukarna, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumbar, menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai disebabkan oleh penurunan produksi akibat banjir yang menghantam daerah sentra produksi. Banjir tersebut menyebabkan gagal panen dan kerusakan lahan yang signifikan.


Selain itu, penutupan jalan utama yang menghubungkan Kota Padang-Bukittinggi melalui Kota Padangpanjang juga mengganggu distribusi komoditas, yang pada gilirannya meningkatkan biaya logistik.


Irfan juga menekankan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi faktor utama yang mempengaruhi inflasi di Ranah Minang pada Juni 2024. Beberapa komoditas yang paling berdampak termasuk cabai merah, beras, dan cabai rawit, masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,13 persen, 0,03 persen, dan 0,03 persen secara bulanan.


Sektor transportasi juga berkontribusi signifikan dengan inflasi sebesar 0,48 persen bulanan, yang dipicu oleh kenaikan tarif angkutan udara, sepeda motor, dan angkutan antarkota.


Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumbar, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,14 persen pada Juni 2024, lebih rendah dibandingkan bulan Mei 2024 yang mencapai 0,51 persen. Inflasi tahunan Sumbar pada Juni 2024 tercatat sebesar 4,04 persen, turun dibandingkan 4,17 persen pada Mei 2024.(des)