Empat Penambang Tewas Tertimbun Longsor, Bupati Kapuas Serukan Peralihan ke Transmigrasi Lokal -->

AdSense New

Empat Penambang Tewas Tertimbun Longsor, Bupati Kapuas Serukan Peralihan ke Transmigrasi Lokal

Selasa, 29 April 2025
Bupati Kapuas, Muhammad Wiyatno


Kuala Kapuas, fajarsumbar.com  – Duka mendalam menyelimuti Desa Marapit, Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Empat penambang emas tewas tertimbun longsor saat bekerja di lokasi tambang pada Selasa (29/4) sore. Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan risiko besar yang dihadapi para penambang tradisional di daerah tersebut.


Bupati Kapuas, Muhammad Wiyatno, menyampaikan rasa duka cita dan keprihatinannya terhadap insiden yang menimpa warganya. Dalam pernyataannya di Kuala Kapuas, Kamis, ia menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi momentum untuk mengubah arah penghidupan masyarakat dari aktivitas pertambangan yang berbahaya menuju sektor yang lebih berkelanjutan dan aman.


“Saya sangat prihatin atas musibah ini. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Kita berharap dengan adanya program transmigrasi lokal, masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya dari penambangan bisa beralih menjadi petani di kawasan transmigrasi lokal,” ujar Wiyatno.


Wiyatno juga mengungkapkan rencananya untuk segera berkoordinasi dengan Gubernur Kalimantan Tengah guna membahas regulasi penambangan rakyat yang lebih aman dan terorganisir. Menurutnya, perlu ada upaya bersama antara pemerintah daerah dan provinsi untuk menghindari jatuhnya korban jiwa akibat aktivitas tambang ilegal atau tanpa pengawasan.


Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kapuas, Ahmad M. Saribi, membenarkan insiden tersebut. Ia mengatakan, longsor terjadi sekitar pukul 14.30 WIB di RT 01, Sungai Pinang, Desa Marapit. Saat itu hujan gerimis turun, dan tanah yang labil tidak mampu menahan beban, sehingga mengubur empat orang penambang yang sedang bekerja.


“Evakuasi dilakukan oleh warga setempat dengan alat seadanya. Keempat korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia,” kata Saribi. Identitas korban yakni Yunedi (46) dari Desa Pujon, Sarip (35) dari Sei Jangkit, serta Gasi (48) dan Padli (25) dari Terusan Raya, Kecamatan Bataguh.


Kegiatan penambangan emas rakyat memang menjadi pilihan banyak warga di pedalaman Kapuas karena faktor ekonomi. Namun, lemahnya pengawasan dan minimnya alat keselamatan membuat aktivitas ini sangat rawan kecelakaan, terutama saat musim hujan tiba. Longsor dan runtuhan tanah kerap menjadi ancaman nyata yang tak terlihat.


Kini, dengan duka yang menyelimuti empat keluarga, Bupati Wiyatno berharap program transmigrasi lokal "Ngaju Bersinar" yang digagasnya dapat menjadi jalan keluar. Program ini tidak hanya menawarkan pemukiman baru, tetapi juga harapan akan penghidupan yang lebih aman, berbasis pertanian dan kearifan lokal. Sebuah langkah yang diharapkan mampu menyelamatkan nyawa dan masa depan masyarakat pedalaman Kapuas.(iL)