![]() |
| Wabup Rahmat Hidayat mengucapkan terimakasih kepada "donatur" yang telah memberikan bantuan kepada warga Huntara, Asam Pulau, Anduriang, Rabu 25 Februari 2026 (foto.ikp) |
Padang Pariaman - Deretan hunian sementara (Huntara) di Asam Pulau, Nagari Anduriang, Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam, masih menyisakan jejak luka banjir. Di antara dinding-dinding sederhana dan tanah yang belum sepenuhnya kering, pada Rabu (25/02/2026) menjadi hari yang berbeda.
Bantuan dari Paten Mekar Tani tiba, membawa bukan hanya logistik, tetapi juga pesan bahwa warga terdampak tidak berjalan sendirian.
Wakil Bupati Padang Pariaman, Rahmat Hidayat, hadir langsung di tengah warga Huntara. Ia menyampaikan terima kasih atas kepedulian yang diberikan.
"Setiap dus mie instan dan setiap karung beras bukan sekadar angka, melainkan simbol solidaritas yang menguatkan semangat bangkit masyarakat pascabencana," ucap Rahmat Hidayat.
Wabup menambahkan, dukungan dari berbagai pihak adalah energi besar bagi Padang Pariaman untuk bangkit lebih cepat.
Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen masyarakat agar proses pemulihan berjalan terarah dan berkelanjutan.
Di lokasi yang sama, Kepala Pelaksana BPBD Emri Nurman, Kadis Kominfo Zahirman dan jajaran pemerintah daerah ikut menyaksikan penyerahan bantuan. Kehadiran mereka menjadi penegas bahwa pemulihan bukan hanya tugas satu pihak.
Pemerintah, relawan, dan komunitas bergerak dalam satu irama demi memulihkan kehidupan yang sempat porak-poranda.
Ketua Paten Mekar Tani Padang Pariaman, Ari Irpendi Putra, menegaskan bahwa aksi ini bagian dari gerakan peduli bencana Sumatera Barat.
Ia berharap bantuan yang disalurkan mampu meringankan beban warga dan mempercepat proses pemulihan. Ucapannya sederhana, tetapi sarat makna. Kesabaran adalah kunci, dan kebersamaan adalah kekuatan.
Adapun bantuan yang diserahkan berupa 30 dus mie instan, 50 karung beras ukuran 5 kilogram, masing-masing 2 dus teh dan kopi, serta 100 dus air minum. Di tengah keterbatasan, kebutuhan pokok itu menjadi penopang harian warga yang masih berjuang menata ulang hidup mereka.
Di Huntara Asam Pulau, Anduriang harapan memang belum sepenuhnya pulih. Namun dari tumpukan bantuan dan doa yang dipanjatkan, semangat itu kembali menyala.
Padang Pariaman diuji oleh bencana, tetapi juga dibuktikan oleh solidaritas bahwa dari kepedulian yang tulus, kekuatan untuk bangkit selalu menemukan jalannya.(saco).
Komentar