AS Siap Perang, Iran Ancam Balas, Ketegangan Capai Titik Didih -->

AdSense New

AS Siap Perang, Iran Ancam Balas, Ketegangan Capai Titik Didih

Sabtu, 28 Februari 2026
Kapal Induk AS berlayar mendekati wilayah Iran


Washington, fajarharapan.id - Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memanas. Memasuki akhir Februari 2026, kedua negara berada di ambang konfrontasi terbuka menyusul pengerahan kekuatan militer besar-besaran oleh Washington di kawasan Timur Tengah. Situasi ini dipicu kebuntuan negosiasi terkait program nuklir Teheran yang dinilai AS terus berkembang di luar batas kesepakatan sebelumnya.


Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut mengambil langkah tegas dengan menempatkan aset tempur strategis di sekitar wilayah Iran. Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal keras bahwa opsi militer bukan sekadar retorika politik, melainkan skenario nyata jika diplomasi tidak menghasilkan terobosan dalam waktu dekat.


Dua kapal induk Angkatan Laut AS kini dilaporkan beroperasi di kawasan Teluk, termasuk USS Gerald R. Ford, kapal induk generasi terbaru dengan teknologi sistem peluncur pesawat elektromagnetik dan kemampuan proyeksi kekuatan jarak jauh. Kehadiran kapal induk ini memperlihatkan kesiapan Washington untuk melancarkan operasi udara intensif dalam waktu singkat.


Tak hanya itu, pesawat pengebom siluman B-2 Spirit yang dirancang untuk menembus pertahanan udara berlapis juga telah diposisikan di pangkalan strategis sekutu AS. Jet tempur F-35 dengan kemampuan sensor fusion dan stealth turut disiagakan, memperkuat dominasi udara dalam potensi operasi ofensif terhadap target bernilai tinggi di wilayah Iran.


Sumber pertahanan menyebutkan, Presiden Trump memberikan tenggat waktu sekitar 10 hari—hingga akhir Februari 2026—bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan baru terkait pembatasan program nuklir. Jika tidak ada kemajuan signifikan, opsi serangan presisi terhadap fasilitas nuklir bawah tanah dan instalasi militer strategis Iran akan dipertimbangkan.


Fasilitas pengayaan uranium yang dibangun jauh di bawah permukaan tanah disebut menjadi target utama karena dianggap sulit dijangkau tanpa penggunaan amunisi bunker-buster berdaya hancur tinggi. Selain itu, markas dan infrastruktur milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) masuk dalam daftar sasaran potensial, mengingat peran sentralnya dalam pengembangan sistem rudal dan operasi militer regional Iran.


Di Teheran, respons keras langsung disampaikan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Ia menegaskan bahwa setiap serangan terhadap wilayah Iran akan dibalas secara proporsional dan menyakitkan. Pangkalan militer AS di kawasan Teluk serta aset sekutunya disebut sebagai target balasan jika agresi terjadi.


Iran dilaporkan meningkatkan status siaga nasional, memperkuat pertahanan udara, serta mengaktifkan jaringan milisi sekutunya di sejumlah negara Timur Tengah. Strategi pertahanan berlapis disiapkan untuk menghadapi kemungkinan serangan udara mendadak.


Di tengah eskalasi ini, dinamika geopolitik global turut memengaruhi kalkulasi kedua pihak. Inggris dikabarkan enggan memberikan izin penggunaan pangkalan militernya untuk mendukung operasi ofensif AS. Sementara Rusia disebut mempererat koordinasi militer dengan Teheran, termasuk dalam hal dukungan sistem persenjataan dan teknologi pertahanan.


Analis keamanan internasional menilai, jika konflik terbuka pecah, dampaknya tidak hanya bersifat bilateral. Kawasan Teluk berpotensi menjadi medan konflik luas yang melibatkan aktor-aktor regional. Jalur vital distribusi energi dunia seperti Selat Hormuz juga berada dalam risiko gangguan serius.


Pasar minyak global mulai bereaksi terhadap meningkatnya risiko geopolitik. Harga energi menunjukkan tren kenaikan seiring kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan dari kawasan penghasil minyak utama dunia tersebut.


Hingga kini, ruang diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Namun dengan tenggat waktu yang semakin dekat dan manuver militer yang terus meningkat, dunia internasional menghadapi pertanyaan besar: apakah krisis ini akan mereda melalui meja perundingan, atau justru berubah menjadi konflik bersenjata yang mengguncang stabilitas global.(*)