Catatan Perjalanan Mengikuti HPN 2026 di Serang, Banten; Dari Kopi Seribu hingga Dijamu Urang Awak, Andra Soni -->

AdSense New

Catatan Perjalanan Mengikuti HPN 2026 di Serang, Banten; Dari Kopi Seribu hingga Dijamu Urang Awak, Andra Soni

Kamis, 19 Februari 2026

Oleh: Amiruddin/Wartawan Utama

Tanggal 9 Februari 1946 menjadi tonggak bersejarah bagi insan pers Indonesia. Pada hari itulah para wartawan nasional menyatukan diri dalam satu organisasi bernama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Kota Solo, Jawa Tengah. Sejak itu, tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN), sebuah momentum refleksi sekaligus perayaan bagi seluruh jurnalis di Tanah Air.


Sebagai wartawan yang mulai menapaki profesi ini sejak 1982, saya memandang HPN bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang konsolidasi dan penguatan marwah pers. Selama 44 tahun menggeluti dunia jurnalistik, saya berkesempatan mengemban amanah sebagai Wakil Ketua PWI Provinsi Sumatera Barat selama empat periode. Keinginan untuk mengikuti HPN di berbagai daerah selalu terpatri, karena setiap penyelenggaraan menghadirkan warna dan dinamika tersendiri.


Tahun ini, saya kembali mendapat kepercayaan dari Ketua PWI Sumbar, Widya Navis, sebagai salah satu dari 31 peserta asal Sumatera Barat untuk menghadiri HPN 2026 di Serang, Banten. Sebanyak 30 peserta berangkat bersama menggunakan maskapai Pelita Air pada Jumat, 6 Februari 2026. Karena ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan, saya menyusul sehari kemudian dengan penerbangan yang sama, Sabtu, 7 Februari 2026.


Meski berangkat sendiri, perjalanan terasa lebih ringan karena di dalam pesawat saya bertemu sahabat lama, Novermal, wartawan senior yang kini dua periode dipercaya sebagai anggota legislatif di Kabupaten Pesisir Selatan. Setiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kami bersama-sama mencari transportasi menuju Serang. Hari itu tidak ada penjemputan dari panitia. Sejumlah agen travel menawarkan kendaraan carteran dengan tarif hampir satu juta rupiah. Opsi taksi pun berisiko membengkak jika terjebak kemacetan.


Kami memilih alternatif yang lebih rasional: Bus Damri dengan tarif Rp140 ribu menuju Serang. Perjalanan sekitar satu setengah jam kami manfaatkan untuk beristirahat sejenak. Setibanya di Terminal Damri Serang sekitar pukul 14.00 WIB, rasa lapar tak lagi bisa ditunda. Sebuah rumah makan Padang di seberang jalan menjadi penyelamat siang itu—makan siang sederhana yang terasa begitu nikmat setelah perjalanan panjang.


Dari sana, kami melanjutkan perjalanan menggunakan taksi menuju hotel masing-masing. Novermal menginap di Horison Hotel Serang, sementara saya ditempatkan di D'Gria Family Hotel. Usai berkemas, saya segera bersiap mengikuti rangkaian kegiatan, termasuk Konferensi Kerja Nasional yang digelar di ballroom Aston Serang Hotel & Convention Center.


Sore harinya, saya menyeberang jalan untuk mencari secangkir kopi. Langkah saya terhenti di sebuah restoran besar bernama Kampung Kecil. Sebuah baliho di depan restoran itu mencantumkan harga segelas kopi hanya Rp1.000. Awalnya saya mengira itu sekadar promosi sensasional. Ternyata benar adanya—kopi seribu rupiah itu nyata. Meski menu makanan lainnya dibanderol harga standar, suasana tempat itu terasa hangat dan bersahabat.


Tak ingin menikmati kopi sendirian, saya menghubungi Aidil dan Soesilo untuk bergabung. Kami pun menghabiskan sore dengan berbincang santai, menyeruput kopi seribu, dan menikmati hidangan hingga menjelang magrib. Sederhana, tetapi berkesan.


Keesokan paginya, bersama H. Khudri, Emil Mahmudsyah, Guspa Chaniago, dan Aidil, saya menunaikan salat Subuh di masjid dekat hotel. Seusai ibadah, kami sarapan di warung Mie Aceh yang cukup terkenal di sekitar lokasi. Menjelang siang, rombongan PWI asal Padang dijemput oleh perwakilan Pemerintah Provinsi Banten untuk makan siang di Rumah Makan Taman Taktakan yang dikenal dengan sajian sup ikan gurihnya.


Agenda berikutnya menjadi momen yang paling membanggakan. Kami dijamu langsung oleh Gubernur Banten, Andra Soni, di Pendopo Gubernur. Sosok yang berasal dari Andaleh, Payakumbuh itu menyambut kami dengan hangat. Kopi dan durian tersaji, sementara percakapan berlangsung dalam bahasa Minang yang akrab di telinga. Ada rasa haru dan bangga melihat urang awak mampu memimpin provinsi di tanah rantau.


Di sela-sela canda dan diskusi ringan, terasa betul kerendahan hati seorang pemimpin. Momen itu bukan hanya jamuan formal, melainkan pertemuan emosional antara perantau dan kampung halaman yang terhubung oleh identitas budaya.


Usai pertemuan, saya bersama Yahya kembali menuju Aston Hotel untuk menghadiri Konferensi Nasional Media Massa, menjalankan tugas yang diamanahkan Ketua PWI Sumbar. Rangkaian kegiatan HPN 2026 pun berakhir dengan penuh kesan. Esok harinya, kami kembali ke Padang—membawa cerita, pengalaman, dan semangat baru untuk terus menjaga marwah pers di ranah Minang dan Indonesia.(*)