![]() |
| Ketua TP PKK Padang Pariaman Ny.Nita Azis bersama penerima bantuan paket sembako dari Kemenkop UKM, Sabtu 21 Februari 2026 (foto.ikp) |
Padang Pariaman - Air mungkin telah surut sejak banjir 16 Februari 2026 lalu, tetapi luka dan beban warga belum sepenuhnya pulih. Di Nagari Manggopoh Palak Gadang, Kecamatan Ulakan Tapakis, Sabtu (21/2/2026), Ketua TP PKK Kabupaten Padang Pariaman, Nita Azis, memilih hadir langsung. Bukan sekadar mengirim bantuan dari balik meja.
Dengan menyapa satu per satu warga terdampak, Nita menyerahkan paket sembako sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap keluarga yang masih berjuang menata ulang kehidupan pascabencana.
Beras, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya mungkin terlihat sederhana, namun bagi mereka yang rumahnya sempat terendam, bantuan itu adalah penguat di tengah masa sulit. “PKK harus terus bergerak dan hadir membantu masyarakat,” ujar Nita di sela kegiatan.
Ia menegaskan, kehadiran organisasi perempuan tersebut bukan hanya saat perayaan dan seremoni, melainkan ketika warga membutuhkan uluran tangan paling mendesak.
Rombongan kemudian bergerak menuju Nagari Anduriang, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam. Di sana, bantuan paket sembako dari Kementerian Koperasi dan UKM disalurkan kepada anggota koperasi yang turut terdampak banjir. Bantuan itu menjadi sinyal bahwa pemulihan ekonomi masyarakat kecil juga tak boleh terabaikan.
Dalam kegiatan tersebut, Nita didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Nurhayati, Kepala Dinas Perdagangan, Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM Hendri Satria, serta jajaran pengurus TP PKK Kabupaten Padang Pariaman.
Sinergi lintas dinas ini mempertegas bahwa penanganan pascabencana membutuhkan kolaborasi, bukan kerja sendiri-sendiri.
Bagi sebagian warga, kehadiran langsung Ketua TP PKK membawa pesan moral yang lebih dalam: mereka tidak sendiri. Gotong royong yang menjadi napas masyarakat Minangkabau kembali ditegaskan dalam aksi nyata, bukan hanya retorika.
Melalui langkah kemanusiaan ini, TP PKK Padang Pariaman memperlihatkan bahwa empati adalah kerja panjang. Di tengah sisa lumpur dan dinding yang masih lembap, semangat kebersamaan kembali ditegakkan. Bahwa setiap bencana bisa dilalui ketika tangan-tangan kepedulian saling terulur.(saco).
Komentar