Kontrak Rp24,66 Triliun dari India Picu Polemik Industri Otomotif Nasional -->

AdSense New

Kontrak Rp24,66 Triliun dari India Picu Polemik Industri Otomotif Nasional

Jumat, 20 Februari 2026
Dua produsen otomotif, Tata Motors dan Mahindra & Mahindra Ltd mendapatkan pesanan fantastis 105.000 unit kendaraan dari Indonesia. 



Jakarta – Industri otomotif nasional tengah menyoroti rencana masuknya puluhan ribu kendaraan niaga asal India ke pasar Indonesia. Dua raksasa otomotif, Tata Motors dan Mahindra & Mahindra, mengumumkan perolehan pesanan besar untuk mendukung proyek Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) bersama PT Agrinas Pangan Nusantara.

Total kendaraan yang dipesan mencapai 105.000 unit dengan nilai kontrak sekitar Rp24,66 triliun. Informasi tersebut dirilis secara resmi oleh masing-masing perusahaan pada awal Februari 2026 dan segera memicu perbincangan luas di kalangan pelaku industri dalam negeri.

Mahindra menyatakan akan mengirimkan 35.000 unit Scorpio Pik Up sepanjang 2026. Sementara itu, Tata Motors melalui anak usahanya, PT Tata Motors Distribusi Indonesia, menandatangani kesepakatan distribusi 70.000 unit kendaraan komersial yang terdiri atas 35.000 unit Yodha pick-up dan 35.000 unit truk ringan Ultra T.7.

Perkuat Distribusi Hasil Pertanian

Kerja sama strategis ini dirancang untuk menopang operasional koperasi desa, khususnya dalam mendistribusikan hasil pertanian dari tingkat petani hingga ke pasar. Scorpio Pik Up diproyeksikan menjadi armada utama pengangkut komoditas dari sentra produksi ke pusat distribusi.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat sistem logistik pedesaan, mulai dari pengumpulan hasil panen hingga distribusi lintas wilayah. Kendaraan niaga menjadi elemen penting dalam membangun rantai pasok yang efisien dan berkelanjutan.

CEO Divisi Otomotif Mahindra & Mahindra Ltd, Nalinikanth Gollagunta, menyampaikan bahwa kemitraan ini menjadi langkah penting dalam memperluas operasi internasional perusahaan. Ia menilai volume ekspor dalam proyek ini berpotensi menyamai capaian ekspor tahun fiskal sebelumnya. Menurutnya, Scorpio Pik Up dirancang untuk menghadapi medan berat dengan biaya operasional yang tetap efisien.

Model Scorpio Pik Up sendiri diproduksi di fasilitas Mahindra di Nashik, India, dan dikenal memiliki daya tahan tinggi serta kapasitas angkut yang sesuai untuk kebutuhan distribusi pedesaan.

Di sisi lain, Direktur PT Tata Motors Distribusi Indonesia, Asif Shamim, menyebut kontrak tersebut sebagai bukti daya saing kendaraan komersial India. Ia menegaskan bahwa model Yodha dan Ultra T.7 dirancang untuk operasional jangka panjang dengan efisiensi biaya, sekaligus mendukung konektivitas logistik antarwilayah di Indonesia.

Industri Dalam Negeri Angkat Suara

Di tengah optimisme tersebut, kekhawatiran muncul dari pelaku industri otomotif nasional. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai kapasitas produksi dalam negeri sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan proyek besar tersebut, asalkan diberikan waktu dan perencanaan yang memadai.

Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, menyatakan bahwa industri otomotif beserta sektor komponen yang tergabung dalam GIAMM memiliki kemampuan produksi yang cukup. Ia juga menekankan pentingnya pelibatan industri lokal guna menjaga stabilitas tenaga kerja di tengah perlambatan pasar beberapa tahun terakhir.

Sorotan serupa datang dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia melalui Komisi VII DPR RI. Mereka mempertanyakan dominasi produk impor dalam proyek berskala besar tersebut, terutama ketika kapasitas manufaktur domestik dinilai belum dimaksimalkan.

Perdebatan pun berkembang antara kebutuhan percepatan program koperasi nasional dan urgensi menjaga keberlanjutan industri otomotif dalam negeri. Kontrak 105.000 unit kendaraan ini menjadi gambaran dilema kebijakan industri pada 2026: antara mendukung program distribusi logistik desa secara cepat atau mengoptimalkan produksi nasional agar tetap menjadi tuan rumah di pasar sendiri.(BY)