![]() |
Guru Besar UIN Imam Bonjol
Padang - Ramadhan tahun ini datang tidak dalam suasana biasa. Ia hadir di tengah tanah yang masih menyimpan bekas galodo. Di tepi sungai yang pernah meluap membawa lumpur dan kayu gelondongan. Di rumah-rumah yang sebagian dindingnya retak, bahkan ada yang telah rata dengan tanah.
Sumatera Barat belum sepenuhnya pulih dari bencana. Luka fisik masih terlihat, luka batin lebih dalam lagi terasa. Namun justru di situlah makna Ramadhan diuji. Apakah ia hanya ibadah ritual, ataukah ia benar-benar berdampak?
Puasa, kata Allah, agar kita menjadi muttaqin. Muttaqin bukan sekadar orang yang rajin beribadah, tetapi pribadi yang sadar bahwa setiap peristiwa, termasuk musibah, berada dalam ilmu dan ketentuan-Nya.
Di tengah bencana, taqwa diuji bukan dengan banyaknya keluhan, melainkan dengan kedalaman muhasabah.
Kita bertanya, apakah ada kelalaian dalam menjaga alam? Apakah tata kelola lingkungan sudah benar? Apakah keserakahan manusia ikut mempercepat datangnya petaka?
Taqwa menjadikan musibah sebagai cermin, bukan sekadar penderitaan. Imsak mengajarkan menahan diri. Bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi menahan ego.
Dalam suasana bencana, imsak sosial menjadi penting. Menahan diri dari saling menyalahkan, menahan diri dari mempolitisasi musibah, menahan diri dari memanfaatkan bantuan untuk kepentingan pribadi.
Di tengah penderitaan rakyat, yang dibutuhkan bukan kegaduhan, tetapi empati. Imsak adalah latihan menjadi manusia yang lebih manusiawi.
Ketika azan Magrib berkumandang, kita berbuka. Di rumah yang utuh, berbuka terasa nikmat. Namun di tenda pengungsian, seteguk air adalah perjuangan. Di situlah iftar mengajarkan syukur.
Syukur bukan sekadar ucapan, tetapi kesadaran bahwa apa yang masih kita miliki adalah karunia. Syukur sejati melahirkan solidaritas. Ia menggerakkan tangan untuk berbagi, bukan hanya menikmati.
Tarawih mengajarkan disiplin berjamaah. Saf yang rapi dan imam yang ditaati adalah simbol moralitas publik. Dalam konteks bencana, moralitas ini diuji dalam tata kelola bantuan, dalam transparansi anggaran rehabilitasi, dalam kehadiran pemimpin di tengah rakyatnya.
Ramadhan seharusnya memperkuat etika sosial. Jujur, amanah, dan bertanggung jawab. Infaq di bulan Ramadhan bukan lagi simbol kedermawanan biasa.
Di Sumatera Barat hari ini, infaq adalah instrumen pemulihan. Ia bisa menjadi rumah yang dibangun kembali, surau yang diperbaiki, sawah yang direhabilitasi, beasiswa bagi anak-anak korban galodo.
Ramadhan tidak boleh berhenti pada amplop sesaat, ia harus menjadi gerakan recovery yang nyata dan berkelanjutan.
Dan tadarus, membaca Al-Qur’an, tidak boleh berhenti pada lantunan suara. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia.
Membaca ayat-ayat itu tanpa memperbaiki perilaku ekologis adalah ironi. Tadarus harus melahirkan kesadaran menjaga sungai, hutan, dan tata ruang nagari. Ia harus menjembatani nilai wahyu dengan kebijakan pembangunan.
Sumatera Barat hari ini tidak hanya membutuhkan rekonstruksi fisik. Ia membutuhkan rekonstruksi moral dan spiritual. Bencana telah membuka mata kita tentang rapuhnya kehidupan.
Ramadhan memberi peluang untuk menguatkannya kembali. Jika puasa melahirkan taqwa, imsak melahirkan empati, iftar melahirkan syukur, tarawih melahirkan moralitas, infaq melahirkan solidaritas, dan tadarus melahirkan kesadaran ekologis, maka Ramadhan tidak sekadar bulan ibadah. Ia menjadi momentum kebangkitan.
Ramadhan berdampak bukan diukur dari meriahnya buka bersama atau megahnya dekorasi masjid. Ia diukur dari berubahnya karakter, bersatunya hati, dan bergeraknya tangan untuk sesama.
Di tengah luka Sumatera, Ramadhan seharusnya tidak hanya mengajarkan kita sabar, tetapi juga menggerakkan kita bangkit.
Karena musibah bisa merobohkan bangunan, tetapi iman dan solidaritas dapat membangun peradaban kembali.(DS.1822026).
Komentar