![]() |
| Bupati Jhon Kenedy Azis didampingi kepala OPD terkait ketika peresmian rumah layak huni atas nama perempuan Beyok di Nagari Lareh Nan Panjang Barat, VII Koto, Selasa 17 Februari 2026 (foto.dok.ikp) |
Padang Pariaman - Langit di Nagari Lareh Nan Panjang Barat, Kecamatan VII Koto, Padang Pariaman seolah pernah runtuh bersama tumbangnya sebatang pohon jengkol yang menghantam atap rumah Ibu Beyok.
Hujan deras dan banjir yang melanda akhir Desember 2025 tak hanya merobek seng dan kuda-kuda bangunan, tetapi juga merobek rasa aman seorang ibu tunawicara yang hidup bersama dua anaknya, Udin dan Irat.
Di sudut Kecamatan VII Koto itu, mereka sempat bertahan di rumah yang nyaris roboh. Dinding retak, kamar depan rusak, ruang tamu porak-poranda.
Namun Selasa (17/2/2026) menjadi penanda babak baru. Di hadapan warga dan jajaran pemerintah, Bupati Jhon Kenedy Azis meresmikan rumah layak huni bagi keluarga kecil tersebut.
Suasana haru menyelimuti prosesi sederhana tersebut. Bukan sekadar seremoni, melainkan pernyataan bahwa negara tidak boleh absen ketika warganya terpuruk.
Awalnya, kerusakan rumah itu dikategorikan rusak sedang. Namun warga tahu, retakan di kayu dan tembok bisa berubah menjadi ancaman besar kapan saja. Apalagi seluruh penghuni rumah adalah penyandang disabilitas tunawicara.
Tanpa banyak kata, masyarakat sekitar bergerak. Mereka melapor, mengetuk pintu empati pemerintah daerah, memastikan keluarga Beyok tidak terlewat dari perhatian.
Langkah cepat datang dari Ketua TP-PKK Kabupaten Padang Pariaman, Nita Azis. Ia turun langsung meninjau lokasi, berdiri di antara puing atap yang jebol dan kayu yang patah.
Rumah itu bukan hanya terdampak bencana hidrometeorologi, tetapi juga tergolong Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Renovasi bukan lagi pilihan. Melainkan kebutuhan mendesak demi keselamatan.
Dari jejaring organisasi wanita di Jakarta, Bandung, hingga Sumatera Barat, bantuan mengalir. Hampir Rp80 juta berhasil dihimpun.
Dana itu menjelma menjadi dinding kokoh, atap baru, lantai yang lebih kuat, serta ruang yang lebih manusiawi untuk ditinggali. Solidaritas lintas daerah membuktikan bahwa kepedulian tak mengenal jarak geografis.
Dalam sambutannya, Jhon Kenedy Azis menegaskan komitmen pemerintah untuk hadir nyata, bukan sekadar retorika.
“Kehadiran pemerintah harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Tidak boleh ada warga yang merasa sendiri dalam menghadapi musibah, terlebih bagi saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan,” ujarnya tegas, disambut anggukan haru para hadirin.
Pesan itu menggema, seolah menjadi janji yang harus terus diuji.
Peresmian tersebut turut dihadiri Kepala Dinas LHPKPP, Andri Masri Satria, DPMD Nurhayati, PUPR El Abdes Marsyam, Dinas Sosial P3A Sisca Primadona, Kalaksa BPBD Emri Nurman, Camat VII Koto, hingga Wali Nagari setempat. Tetapi lebih dari sekadar daftar pejabat, yang terasa kuat adalah kebersamaan.
Kini, Ibu Beyok dan kedua anaknya tak lagi memandang hujan sebagai ancaman. Di rumah baru yang lebih aman dan bermartabat itu, harapan tumbuh kembali. Padang Pariaman menunjukkan bahwa kepedulian masih punya tempat yang kokoh di tengah bencana.(saco).
Komentar