Setahun Kepemimpinan Mahyeldi – Vasko; Mengawal Sumbar Bangkit di Tengah Gelombang Bencana Alam -->

AdSense New

Setahun Kepemimpinan Mahyeldi – Vasko; Mengawal Sumbar Bangkit di Tengah Gelombang Bencana Alam

Selasa, 24 Februari 2026
.


Padang, fajarsumbar.com - Tahun pertama kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah dan Vasko Ruseimy, menjadi periode yang penuh dinamika dan ujian berat. Sejak awal 2024, Sumatera Barat dihadapkan pada rangkaian bencana alam yang datang silih berganti. 


Banjir, longsor, dan berbagai bencana hidrometeorologi lainnya tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga merusak infrastruktur vital dan mengganggu sendi-sendi perekonomian masyarakat.


Belum sepenuhnya pulih dari gelombang pertama, bencana dengan skala yang lebih luas kembali terjadi pada 2025. Dampaknya menjangkau 16 kabupaten dan kota, ratusan kecamatan, serta ratusan nagari dan desa. Situasi ini menempatkan Sumatera Barat dalam kondisi tekanan berlapis atau compound shock, di mana dampak sosial, ekonomi, dan fiskal terjadi secara simultan.


Kerusakan infrastruktur jalan, jembatan, sekolah, fasilitas kesehatan, jaringan irigasi, hingga permukiman warga menuntut respons cepat dan terukur. Distribusi logistik terganggu, aktivitas ekonomi melambat, dan ruang fiskal pemerintah daerah mengalami tekanan signifikan. Dalam konteks inilah kepemimpinan Mahyeldi–Vasko diuji.


.


Alih-alih terjebak dalam situasi krisis berkepanjangan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memilih pendekatan stabilisasi. Fokus utama diarahkan pada menjaga agar tekanan ekonomi tidak berkembang menjadi krisis sosial yang lebih luas. Strategi ini menempatkan perlindungan masyarakat dan kesinambungan layanan dasar sebagai prioritas.


Secara makro, ekonomi Sumatera Barat tahun 2025 tumbuh 3,37 persen (c-to-c). Angka ini memang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, dalam konteks bencana besar yang mengganggu aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi, capaian tersebut menunjukkan resiliensi ekonomi daerah yang relatif kuat.


Yang lebih penting, perlambatan pertumbuhan tidak diikuti lonjakan kemiskinan. Tingkat kemiskinan justru turun dari 5,42 persen pada 2024 menjadi 5,31 persen pada 2025. Jumlah penduduk miskin tercatat 312,30 ribu jiwa, meskipun garis kemiskinan meningkat akibat kenaikan harga komoditas pangan. Fakta ini mencerminkan efektivitas program perlindungan sosial dan intervensi yang tepat sasaran.


.


Dari sisi kesejahteraan, pengeluaran riil per kapita mencapai Rp12,04 juta per tahun atau tumbuh 2,76 persen. Ini menunjukkan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tekanan. Di pasar kerja, jumlah penduduk bekerja mencapai 3,07 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka turun menjadi 5,52 persen, memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi tetap bergerak.


Distribusi pendapatan juga membaik. Gini Ratio Sumatera Barat turun menjadi 0,280, lebih rendah dari rata-rata nasional. Artinya, ketimpangan ekonomi relatif terkendali. Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 76,43 menjadi 77,27 semakin menegaskan bahwa kualitas pendidikan, kesehatan, dan standar hidup masyarakat tetap mengalami kemajuan.


Semua indikator tersebut mengirim pesan kuat bahwa stabilitas sosial-ekonomi dapat dipertahankan meski daerah berada dalam tekanan besar. Tahun pertama ini menjadi fase konsolidasi dan penguatan fondasi.


.


Di bidang fiskal, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Belanja tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi harus berjalan beriringan dengan pembiayaan rutin pendidikan, kesehatan, serta pelayanan publik lainnya. Sementara itu, kapasitas fiskal daerah memiliki keterbatasan dan transfer pusat mengalami penyesuaian.


Pemerintah provinsi merespons dengan mempercepat penyusunan dokumen rencana rehabilitasi dan rekonstruksi berbasis data terverifikasi sebagai dasar dukungan anggaran pusat. Koordinasi lintas pemerintahan diperkuat agar pembagian peran antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota berjalan efektif.


Pendekatan ini memastikan bahwa rehabilitasi bukan sekadar membangun ulang infrastruktur yang rusak, tetapi juga menjadi instrumen pemulihan ekonomi. Proyek-proyek rekonstruksi menggerakkan sektor konstruksi, menyerap tenaga kerja lokal, serta memberi efek pengganda terhadap UMKM dan aktivitas perdagangan.


.


Dalam dimensi kepemimpinan, Mahyeldi tampil dengan karakter yang tenang dan sistematis. Pengalaman panjangnya dalam manajemen krisis menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas komando. Keputusan berbasis data dan koordinasi lintas sektor menjadi ciri pendekatan yang konsisten.


Di sisi lain, Vasko menunjukkan gaya kepemimpinan yang energik dan responsif. Kehadirannya di lapangan saat masa tanggap darurat, komunikasi langsung dengan warga terdampak, serta mobilisasi dukungan dari jejaring nasional memperkuat respons pemerintah daerah. Kolaborasi pengalaman dan energi muda tersebut membentuk sinergi kepemimpinan yang adaptif.


Di tengah fokus pemulihan, agenda pembangunan strategis tetap berjalan. Percepatan pembangunan Flyover Sitinjau Lauik menjadi proyek prioritas untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi distribusi logistik menuju Kota Padang dan wilayah hinterland. Infrastruktur ini dinilai vital dalam memperlancar arus barang dan orang.


.


Keberlanjutan proyek Jalan Tol Padang–Sicincin yang terintegrasi dalam jaringan Tol Trans Sumatera juga menjadi penopang konektivitas regional. Kehadiran koridor ini diharapkan memangkas waktu tempuh, menurunkan biaya logistik, serta memperluas akses pasar bagi komoditas unggulan Sumatera Barat.


Di sektor pertanian, rehabilitasi jaringan irigasi melalui program Inpres Irigasi dilakukan di sejumlah daerah strategis. Langkah ini bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dan memperkuat ketahanan pangan daerah. Dukungan terhadap petani juga diperkuat melalui penguatan hilirisasi dan akses pembiayaan.


Program perbaikan rumah tidak layak huni melalui BSPS, revitalisasi kampung nelayan, pembangunan PLTMH Patamuan di Pasaman, serta Bantuan Pasang Baru Listrik memperluas akses energi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di berbagai wilayah.


Memasuki tahun kedua, tantangan yang dihadapi tidak lagi sebatas pemulihan, tetapi transformasi. Rekonstruksi ke depan perlu berbasis mitigasi risiko, dengan standar teknis yang lebih kuat dan desain adaptif terhadap potensi banjir, longsor, dan gempa. Integrasi tata ruang dengan peta kawasan rawan bencana harus menjadi bagian integral dari perencanaan pembangunan.


.


Di sektor ekonomi, penguatan UMKM melalui digitalisasi, peningkatan akses pembiayaan, hilirisasi komoditas pertanian dan perkebunan, serta optimalisasi konektivitas menjadi kunci agar pertumbuhan lebih inklusif dan tahan terhadap guncangan.


Refleksi satu tahun kepemimpinan Mahyeldi–Vasko memperlihatkan arah kebijakan yang terukur: menjaga stabilitas di tengah badai, membangun fondasi di tengah keterbatasan, dan memastikan pembangunan strategis tetap bergerak. Sumatera Barat tidak hanya ditargetkan pulih, tetapi bangkit dengan struktur ekonomi yang lebih kuat, tata kelola yang lebih adaptif, dan masyarakat yang semakin sejahtera.


Tahun pertama ini menjadi pijakan penting menuju fase berikutnya: dari stabilisasi menuju akselerasi transformasi Sumatera Barat yang tangguh dan berkelanjutan.(Adv/adpsb)