![]() |
| Bupati John Kenedy Azis berikan sambutan di Masjid Raya Ismael, Senin malam (23/2/2026) ajak warga Padang Pariaman perkuat kebersamaan untuk bangkit dari pascabencana (foto.dok.saco) |
Kampung Dalam - Malam itu, lantunan ayat suci menggema lebih dalam dari biasanya di Mesjid Raya Ismael, Nagari Campago, Kecamatan V Koto Kampung Dalam. Rangkaian kunjungan Tim Safari Ramadhan (TSR) VII Provinsi Sumatera Barat terasa bukan sekadar agenda tahunan, melainkan pertemuan batin antara pemimpin dan masyarakat yang baru saja diuji bencana.
Dipimpin Dankodaeral, Oktav Bayu, rombongan TSR Provinsi Sumbar disambut khidmat oleh Bupati John Kenedy Azis bersama unsur Forkopimda, Kepala Kantor Kementerian Agama, camat, wali nagari, niniak mamak, cadiak pandai, hingga jamaah yang memenuhi saf-saf masjid.
Wajah-wajah yang hadir menyimpan harap, bahwa Ramadhan kali ini membawa lebih dari sekadar seremoni.
Dalam sambutannya, Bupati John Kenedy Azis tak menutup kenyataan pahit yang baru saja dilalui masyarakat. Ia mengakui, daerah ini masih fokus pada perbaikan pascabencana.
“Terima kasih atas kesabaran masyarakat. Kita sedang berbenah,” ucapnya, seraya menyampaikan apresiasi atas kehadiran TSR Provinsi yang datang membawa dukungan moril dan materiil.
Tak hanya itu, Bupati John Kenedy Azis juga menyelipkan permohonan maaf. Di tengah suasana religius, ia menyadari pelayanan pemerintahan belum sepenuhnya sempurna.
Momentum Ramadhan, katanya, menjadi ruang refleksi untuk memperbaiki diri, baik sebagai pribadi maupun sebagai pemimpin.
Sementara itu, Dankodaeral Oktav Bayu menegaskan bahwa Safari Ramadhan adalah wujud komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk merawat ukhuwah Islamiyah dan menyampaikan capaian pembangunan secara langsung kepada masyarakat.
Ia menekankan pentingnya silaturahmi sebagai fondasi membangun daerah yang tangguh dan religius.
Puncak acara ditandai dengan penyerahan hibah Safari Ramadhan 1447 H senilai Rp50 juta dari Pemerintah Provinsi Sumbar kepada pengurus Mesjid Raya Ismael. Bantuan Al-Qur’an dari ASN serta perlengkapan kebersihan dari Kementerian Agama turut diserahkan. Simbol bahwa kebangkitan dimulai dari rumah ibadah yang terawat dan hidup.
Di Nagari Campago, Ramadhan menjadi saksi bahwa pembangunan tak selalu berbicara beton dan aspal. Ia juga tentang memulihkan hati yang retak, mempererat barisan, dan menyalakan kembali cahaya harapan.
Dari surau dan masjid, sinergi itu diuji. Mampukah pemerintah dan rakyat berjalan seiring, bangkit bersama dari sisa-sisa duka? (saco).
Komentar