Sawahlunto, fajarsumbar.com – Prestasi membanggakan kembali diukir oleh Kota Sawahlunto di kancah nasional. Kota warisan tambang ini resmi ditetapkan sebagai salah satu penerima penghargaan Adipura Tahun 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup (LH).
Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, S.IP, di Balai Kartini, Jakarta, pada Selasa (25/2/2026). Keberhasilan ini menjadi sangat prestisius mengingat ketatnya instrumen penilaian yang diterapkan pemerintah pusat tahun ini.
Di balik seremoni tersebut, terdapat kerja teknis yang sangat detail di lapangan. Berdasarkan wawancara khusus dengan Plt. Kepala Bidang Kebersihan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Pertanahan, dan Lingkungan Hidup (DPKPPLH) Kota Sawahlunto, Andri Maha Putra, ST, terungkap bahwa standar penilaian Adipura periode ini mengalami eskalasi yang signifikan. Persaingan tidak lagi sekadar tentang kebersihan permukaan, melainkan kedalaman sistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir.
"Intinya indikator Adipura Tahun 2025 itu semakin ketat. Tidak ada satupun kota di Indonesia yang bisa capai nilai 75 untuk piala Adipura. Dan hanya 35 kota se-Indonesia yang mampu meraih nilai 60-74 batas nilai penghargaan untuk sertifikat Adipura. Sawahlunto masuk dalam top 35 itu dengan peringkat 25 dari sekitar 300-an kabupaten kota yang dinilai," jelas Andri Maha Putra menguraikan peta persaingan nasional.
Secara teknis, Sawahlunto harus melewati dua tahap verifikasi fisik dan administrasi yang krusial. Tahap I dimulai pada 17 September 2025, disusul Tahap II pada 25 November 2025. Tim penilai dari Kementerian LH melakukan audit langsung terhadap efektivitas sistem pengangkutan, kebersihan ruang publik, hingga inovasi pengendalian pencemaran. Di tingkat Provinsi Sumatera Barat, Sawahlunto bahkan muncul sebagai kekuatan elit karena hanya ada dua daerah yang berhasil meraih predikat ini, yakni Sawahlunto dan Kota Padang.
Wali Kota Riyanda Putra, dalam keterangannya, memberikan apresiasi tertinggi kepada para garda terdepan di lapangan. Beliau menegaskan bahwa capaian ini adalah milik kolektif masyarakat dan petugas kebersihan.
"Penghargaan ini bukan untuk kami, tetapi untuk teman-teman Pasukan Orange dan seluruh masyarakat Sawahlunto yang telah bahu-membahu menjaga wajah kota ini tetap bersih dan nyaman," ungkap Wali Kota Riyanda Putra dengan penuh haru saat memberikan sambutan kemenangan.
Aspek teknis yang paling menonjol dalam penilaian tahun ini adalah sinkronisasi antara dukungan anggaran dan implementasi kebijakan. Meskipun kondisi APBD sedang dalam fase yang menantang, DPKPPLH berhasil mengoptimalkan alokasi anggaran sebesar Rp1,22 Miliar serta dukungan Non-APBD senilai Rp40 Juta untuk operasional persampahan. Kerja keras memutar otak di tengah keterbatasan fiskal ini membuahkan hasil nyata berupa bantuan tiga unit becak motor (bentor) sampah dari Menteri LH sebagai stimulan operasional.
Menatap masa depan, Sawahlunto tidak ingin sekadar bertahan di level sertifikat. Strategi teknis jangka panjang telah dirancang untuk menaikkan kelas penghargaan di tahun-tahun mendatang. Langkah-langkah strategis yang akan diambil meliputi peningkatan postur anggaran secara bertahap, penajaman implementasi Peraturan Daerah (Perda) tentang sampah, hingga penyusunan Peraturan Wali Kota (Perwako) terkait Rencana Induk Pengelolaan Sampah dan Peta Jalan Pengurangan Sampah yang lebih komprehensif.
Selain itu, wacana pembentukan lembaga Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Sampah menjadi poin kunci dalam transformasi manajerial ke depan. Sebagaimana disampaikan oleh Mendagri Tito Karnavian dalam pertemuan tersebut, daerah yang mampu mempertahankan prestasi Adipura berpeluang mendapatkan Dana Insentif secara proporsional.
Bagi Sawahlunto, ini adalah momentum emas untuk memperkuat sistem kebersihan kota melalui regulasi yang lebih kokoh dan kesadaran masyarakat yang lebih terstruktur dalam mengelola sampah secara swadaya. (ton)
Komentar