![]() |
| Bupati John Kenedy Azis dan Wabup Rahmat Hidayat ikut bersih-bersih arena lapangan usai event Pacu Kudo Padang Pariaman 2026, Minggu sore, 29 Maret 2026 (foto.ikp) |
VII Koto - Riuh sorak yang sejak pagi mengguncang Lapangan Pacu Kudo Balah Aia, VII Koto, Padang Pariaman mendadak berubah arah saat senja mulai turun. Bukan lagi derap kuda yang mencuri perhatian, melainkan pemandangan tak biasa. Para pejabat, panitia, hingga masyarakat membungkuk memungut sampah.
Di momen itulah, Pacu Kudo 2026 seolah menutup kisahnya dengan pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar hiburan.
Tanpa aba-aba panjang, gelombang gotong royong mengalir begitu saja. Sisa-sisa euforia yang tercecer di tanah. Plastik, botol, dan bungkus makanan. Disapu bersama oleh tangan-tangan yang sebelumnya bersorak di tribun. Tak ada sekat, semua larut dalam satu gerakan yang sunyi tapi bermakna.
Di tengah aksi itu, sosok Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, bersama Wakil Bupati Rahmat Hidayat, terlihat tak canggung ikut membersihkan lapangan.
Kehadiran mereka bukan sekadar simbol, melainkan isyarat kuat bahwa tanggung jawab lingkungan tak mengenal jabatan.
Sejak hari kedua perlombaan dimulai, ribuan pasang mata sudah memadati arena. Ketegangan balapan kuda terbaik memuncak hingga sore, mengunci kesuksesan Pacu Kudo 2026 sebagai salah satu agenda budaya paling dinanti.
Namun justru di akhir acara, perhatian publik beralih pada nilai yang lebih mendasar: kesadaran kolektif.
Tak bisa dipungkiri, geliat ekonomi kreatif turut berdenyut selama event berlangsung. UMKM lokal meraup berkah dari membludaknya pengunjung.
Lapak-lapak penuh, transaksi hidup, dan roda ekonomi berputar kencang. Menjadi bukti bahwa Pacu Kudo bukan sekadar tontonan, tapi juga penggerak kesejahteraan.
Dalam suasana yang mulai lengang, John Kenedy Azis menyampaikan apresiasi kepada semua pihak. Sejak dari panitia, aparat keamanan, hingga masyarakat yang menjaga ketertiban.
Ia menegaskan, keberhasilan acara ini bukan hanya soal meriah atau ramai, tetapi bagaimana ditutup dengan tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian.
Penutupan Pacu Kudo 2026 akhirnya tak hanya meninggalkan jejak debu lintasan dan kenangan gemuruh penonton.
Ia menjelma menjadi simbol. Bahwa kebersamaan tak berhenti saat tepuk tangan usai, dan kepedulian lingkungan bukan sekadar slogan. Melainkan aksi yang benar-benar dilakukan, di tanah yang sama tempat ribuan orang bersorak sebelumnya.(saco).
Komentar