Iran Tetapkan Berkabung 40 Hari, Kepemimpinan Khamenei Berakhir -->

AdSense New

Iran Tetapkan Berkabung 40 Hari, Kepemimpinan Khamenei Berakhir

Minggu, 01 Maret 2026

 

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia

Jakarta – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia setelah kompleks kediamannya diserang dalam operasi udara gabungan Amerika Serikat dan Israel, Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan serangan tersebut menargetkan pusat komando strategis Iran. Ia menegaskan Khamenei beserta sejumlah pejabat tinggi negara tidak dapat lolos dari pengawasan intelijen canggih Washington.

Media pemerintah Iran mengonfirmasi kabar tersebut, menayangkan presenter televisi nasional yang menahan air mata saat menyampaikan wafatnya sang pemimpin. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Kematian Khamenei dipandang sebagai titik penting dalam sejarah Republik Islam sejak Revolusi 1979.

Jejak Kepemimpinan Khamenei

Sejak 1989, Khamenei memimpin Iran menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Revolusi Islam. Jika Khomeini dikenal sebagai arsitek ideologi negara, Khamenei fokus memperkuat struktur kekuasaan melalui konsolidasi militer dan jaringan keamanan.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, ia menjabat presiden Iran selama Perang Iran-Irak (1980–1988). Pengalaman perang tersebut membentuk pandangannya yang tegas terhadap Barat, terutama AS yang mendukung Irak di bawah Saddam Hussein. Khamenei meyakini bahwa Iran harus mandiri secara militer dan ekonomi untuk menghadapi ancaman eksternal.

Di bawah kepemimpinannya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berkembang menjadi kekuatan dominan di bidang militer, politik, dan ekonomi. Khamenei mendorong “ekonomi perlawanan” untuk mengurangi ketergantungan pada Barat, terutama di tengah sanksi internasional.

Pendekatan keamanan ini menuai kritik domestik. Penindakan keras terhadap demonstrasi pasca-pemilu 2009 dan protes 2022 terkait hak perempuan mencerminkan sikap pemerintah yang menilai gejolak internal sebagai ancaman bagi stabilitas nasional.

Meski tegas, Khamenei pernah menunjukkan pragmatisme dengan menyetujui kesepakatan nuklir 2015 (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) yang bertujuan meredakan sanksi ekonomi. Namun, ketegangan kembali meningkat ketika pemerintahan Trump menarik AS dari perjanjian tersebut.

Khamenei mendukung pembentukan “poros perlawanan” yang melibatkan kelompok seperti HizbullahHamas, dan Houthi, menempatkan Iran sebagai pemain kunci di Timur Tengah sekaligus memicu ketegangan dengan Israel. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan pernah mengancam menargetkan pimpinan tertinggi Iran secara langsung.

Bagi pendukungnya, Khamenei adalah simbol keteguhan melawan tekanan Barat dan penjaga ideologi Revolusi Islam. Sebaliknya, kelompok reformis dan generasi muda menilai kebijakan konfrontatifnya memperburuk isolasi internasional dan krisis ekonomi domestik.

Kematian Ayatollah Ali Khamenei menandai babak baru politik Iran. Proses transisi kepemimpinan di masa depan diyakini akan menentukan arah kebijakan dalam negeri sekaligus memengaruhi keseimbangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. (des*)