Jembatan Putus Ribuan Warga “Terjebak” di Anduriang, Brimob Polda Sumbar Siap Bangun Jembatan Bailey -->

AdSense New

Jembatan Putus Ribuan Warga “Terjebak” di Anduriang, Brimob Polda Sumbar Siap Bangun Jembatan Bailey

Jumat, 20 Maret 2026
Alat penyeberangan "rakit drum" dibangun anak-anak muda setempat sebagai upaya memperlancar lalu lintas warga Anduriang menyeberang pulang pergi (foto.dok.ikp) 

Kayu Tanam - Sunyi yang ganjil menyelimuti aliran sungai Batang Anai di Anduriang. Di atasnya, bukan jembatan kokoh yang tampak. Melainkan rakit-rakit darurat dari drum yang mengapung membawa harapan, dan juga kecemasan.


Sejak Jembatan Anduriang ambruk dihantam banjir bandang dan galodo pada November 2025, denyut kehidupan di tiga nagari seperti dipaksa berjalan tertatih.


Sekitar 30 ribu jiwa di Nagari Kayu Tanam, Anduriang, dan Guguak kini hidup dalam keterbatasan akses. 


Jalan pintas berubah menjadi kenangan, distribusi hasil tani tersendat, dan roda ekonomi yang dulu berputar, kini seperti kehilangan tenaga. Jarak tempuh membengkak, ongkos naik, sementara waktu terus menggerus kesabaran warga.


Di tengah keterbatasan itu, pemuda setempat tak tinggal diam. Afrizal bersama rekan-rekannya merakit solusi dari keterdesakan. Sebuah penyeberangan sederhana berbahan drumd.


Bukan sekadar alat, rakit itu menjadi simbol bertahan hidup. “Daripada memutar jauh, ini lebih cepat,” ujarnya, menyiratkan betapa pilihan mereka bukan soal aman, tapi soal terpaksa.


Namun di balik keberanian itu, risiko mengintai setiap saat. Arus sungai yang tak menentu bisa berubah menjadi ancaman mematikan.


Anak sekolah, petani, hingga ibu rumah tangga menyeberang dengan harapan tak terjadi apa-apa. Tarifnya seikhlasnya Rp2.000, Rp5.000, bahkan gratis. Karena di sini, kemanusiaan lebih mahal dari sekadar ongkos.


Harapan baru mulai menyala ketika pemerintah akhirnya turun tangan. Bupati John Kenedy Azis, memastikan pembangunan jembatan darurat jenis Bailey akan dimulai awal April.


Dukungan dari Polda Sumatera Barat dan Brimob menjadi sinyal bahwa akses vital ini tak lagi diabaikan.


Rencana konstruksi pun disusun matang. Dua unit jembatan Bailey masing-masing sepanjang 30 meter akan disatukan, membentang hingga 60 meter dengan lebar 4 meter.


Pondasi akan ditinggikan hingga 3 meter sebagai antisipasi banjir susulan. Sebuah pelajaran pahit dari bencana yang belum lama berlalu. Prosesnya diperkirakan memakan waktu tiga minggu setelah pondasi rampung.


Namun bagi warga, waktu tiga minggu bukan sekadar hitungan hari. Itu adalah penantian panjang atas kepastian hidup. “Kami hanya ingin kembali normal,” kata Syamsuwir lirih yang merupakan salah seorang warga setempat. 


Di tengah ketidakpastian, rakit-rakit itu masih setia berlayar, menjadi penghubung antara harapan dan kenyataan yang belum sepenuhnya pulih.(saco).