![]() |
| Wabup Rahmat Hidayat salami Rudy Repenaldi Rilis ketika Sertijab jabatan Sekdakab Padang Pariaman di Hall Kantor Bupati, Selasa 7 April 2026 (foto.ikp) |
Parik Malintang - Suasana di Hall IKK Parit Malintang, Selasa (7/4/2026) mendadak terasa berat. Bukan sekadar seremoni pergantian jabatan, tetapi perpisahan yang menyisakan getar emosional. Di hadapan jajaran ASN, satu babak panjang pengabdian resmi ditutup, sementara babak baru dimulai dalam ketidakpastian arah birokrasi.
Nama Rudy Repenaldi Rilis disebut dengan nada penuh hormat, namun juga mengandung kehilangan. Selama lebih dari dua dekade, ia bukan hanya pejabat, tetapi bagian dari denyut nadi pemerintahan di Kabupaten Padang Pariaman.
Dari tugas kecil hingga kursi strategis Sekda, perjalanan itu kini berakhir di titik yang mengundang refleksi. Di sisi lain, tongkat estafet diserahkan kepada Hendra Aswara sebagai Pelaksana Harian.
Sebuah posisi yang bukan sekadar jabatan sementara, melainkan ujian kepercayaan di tengah ekspektasi besar dan dinamika internal pemerintahan yang tak selalu terlihat di permukaan.
Wakil Bupati Rahmat Hidayat mencoba merajut suasana dengan pesan persatuan. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak akan berjalan tanpa kekompakan.
Namun di balik kalimat normatif itu, terselip kegelisahan. Mampukah mesin birokrasi tetap solid setelah figur lama melepas kendali?
“Silaturahmi harus tetap dijaga,” ucapnya, seolah mengingatkan bahwa perubahan jabatan kerap membawa jarak yang tak kasat mata. Dalam dunia birokrasi, loyalitas sering diuji bukan saat bekerja, melainkan saat perpisahan datang tiba-tiba.
Rudy sendiri dalam sambutannya tak mampu menyembunyikan emosinya. Ia mengenang perjalanan panjang sejak pertama kali menginjakkan kaki di Padang Pariaman dari posisi sederhana hingga dipercaya menjadi Sekda.
Ada rasa bangga, tapi juga getir yang tak terucap ketika harus meninggalkan ruang yang selama ini ia jaga.
Permohonan maaf yang ia sampaikan bukan sekadar formalitas. Itu adalah penutup dari relasi panjang dengan banyak pihak. Ini sebuah cara elegan untuk meredam luka yang mungkin pernah terjadi dalam perjalanan birokrasi yang keras.
Kini, harapan bertumpu pada Hendra Aswara yang juga mengemban tugas Inspektur. Ia datang dengan komitmen, namun juga beban besar.
Dukungan diminta, arahan diharapkan, dan loyalitas dituntut. Tapi publik tahu, tantangan sebenarnya bukan pada kata-kata, melainkan pada kemampuan menjaga keseimbangan di tengah tarik-menarik kepentingan.
Sertijab ini bukan hanya pergantian pejabat. Ia adalah cermin tentang bagaimana kekuasaan berpindah, bagaimana loyalitas diuji, dan bagaimana sebuah daerah menggantungkan harapannya pada sosok yang dipercaya memegang kendali berikutnya.(saco).
Komentar