![]() |
| Prof.Dr.Asril, S.Sn, M.Hum bersama Pengurus PKDP Kota Padang Panjang, usai pengukuhannya sebagai Guru Besar ISI, Rabu 8 April 2026 (foto.dok.am) |
Padang Panjang - Tak ada yang benar-benar sama sejak layar-layar dingin menggantikan tepuk tangan hangat di ruang pertunjukan. Di tengah kegamangan itu, seorang anak kampung dari Sungai Pasak, Pariaman justru berdiri di puncak akademik. Asril Muchtar membawa kegelisahan yang tak bisa lagi disembunyikan.
Sejak Rabu, 8 April 2026 menjadi penanda penting ketika Asril Muchtar resmi menyandang gelar profesor di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.
"Kita menjadi profesor kelima di kampus ISI tersebut," kata Asril Muchtar yang dihubungi Wartawan fajarsumbar.com, Kamis (9/4/2026) pagi, ia pun mengakui jejak panjang sejak pertama kali mengabdi sebagai dosen pada 1987, saat lembaga itu masih bernama ASKI.
Namun, pengukuhan itu bukan sekadar seremoni akademik. Dalam orasi ilmiahnya yang tajam, Rabu (8/4/2026), Asril justru menggugat zaman.
Ia menyoroti bagaimana seni pertunjukan yang dulu sakral, intim, dan penuh empati. Kini tereduksi menjadi tontonan individual di balik layar. Ruang bersama perlahan lenyap, digantikan oleh kesunyian yang tak terasa.
"Kita tidak menolak teknologi. Sebaliknya, kita juga mengakui bahwa digitalisasi telah memangkas jarak dan membuka akses tanpa batas," terang Asril yang telah mempunyai dua anak dengan dua cucu itu.
Tapi di balik kemudahan itu, menurut anak kedua dari empat bersaudara itu, ada yang hilang. Yakni rasa hadir, rasa memiliki, dan ikatan emosional antara seniman dan penonton. Setidaknya, pertunjukan bukan lagi peristiwa kolektif, melainkan konsumsi personal yang cepat dilupakan.
Dari akar tradisi, kegelisahan itu tumbuh. Asril bukan akademisi yang jauh dari realitas budaya.
Ia pernah menyelami denyut Tabuik Pariaman, meneliti gandang tasa sebagai jantung ritual, hingga menjadikannya fokus disertasi doktoralnya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Menurutnya, seni bukan sekadar objek kajian, tetapi napas kehidupan masyarakat.
Jejak intelektualnya meluas, dari musik Minangkabau hingga pertunjukan Melayu. Ia menulis, meneliti, dan mempublikasikan gagasan di berbagai forum nasional dan internasional.
Penelitiannya tentang Bapereih, hibriditas musik Gamad, hingga Adu Tandiang menjadi bukti bahwa tradisi bukan benda mati, melainkan entitas yang terus bertransformasi.
Nama besar dari Sungai Pasak bukan hanya dirinya. Jauh sebelumnya, kampung itu telah melahirkan Profesor Sutan Muhammad Zain (1886-1962), orang tua Harun Zain, mantan Gubernur Sumbar. Prof.Sutan Muhammad Zain, pelopor tata bahasa Melayu yang menjadi fondasi Bahasa Indonesia.
Kini, Asril seperti melanjutkan jejak itu. Bukan di bahasa, melainkan di ranah bunyi, ritme, dan pertunjukan.
Gelar profesor yang kini melekat di depan namanya bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi titik mula dari tanggung jawab yang lebih besar. Menjaga ruh seni agar tak hilang di tengah derasnya arus digital.
Dari kampung kecil di Sungai Pasak Pariaman, Asril mengirim pesan keras kepada zaman. Seni tidak boleh sekadar bertahan, tetapi harus tetap hidup, bermakna, dan manusiawi.(saco).
Komentar