![]() |
| Bupati John Kenedy Azis berikan kata sambutan ketika melepas 251 JCH Padang Pariaman di Masjid Raya IKK Ali Mukhni, Jum'at 24 April 2026 (foto.dok.ikp) |
Parik Malintang - Hujan turun tanpa kompromi di halaman Masjid Raya IKK Ali Mukhni, Parik Malintang, Jumat (24/4/2026). Namun tak satu pun langkah surut. Di tengah langit kelabu, 251 jemaah calon haji (JCH) berdiri dengan mata yang menyimpan haru. Siap menempuh perjalanan spiritual yang tak semua orang mampu menjawabnya.
Pelepasan yang dilakukan Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, bukan sekadar seremoni tahunan. Ia berubah menjadi momen emosional yang menyatukan dua wajah pengabdian. Mereka yang berangkat ke Tanah Suci, dan para khafilah yang mengharumkan nama daerah lewat Tilawatil Qur’an.
Di sela gemericik hujan, lantunan ayat suci dari Faiza Ilham menggema, menembus suasana yang khidmat. Tausiyah Ustaz Delfiadi menambah kedalaman makna. Seolah mengingatkan bahwa perjalanan ini bukan sekadar fisik, melainkan panggilan jiwa yang tak bisa ditunda.
“Panggilan haji tidak mengenal usia,” ujar Bupati John Kenedy Azis, suaranya tegas namun sarat emosi. Ia menyebut rentang usia jemaah tahun ini dari 22 hingga 86 tahun. Sebagai bukti bahwa iman bekerja di luar logika manusia.
Di antara mereka, ada Nazar bin Djamiun yang sepuh, dan Ihsanul Hafuz yang masih muda. Dua generasi yang dipertemukan oleh niat yang sama. Namun di balik haru itu, terselip pesan serius.
Bupati John Kenedy Azis mengingatkan jemaah agar menjaga kesehatan, kesabaran, dan disiplin selama menjalankan ibadah. Ia tak ingin perjalanan suci ini ternodai oleh kelalaian. Lebih dari itu, para jemaah diminta menjadi wajah Padang Pariaman di mata dunia.
Keberangkatan pun telah diatur dalam dua gelombang. Kloter 5 yang membawa 223 jemaah akan bertolak pada 28 April 2026, disusul Kloter 14 pada 8 Mei 2026. Enam bus dan dua mikrobus disiapkan. Detail teknis yang tampak sederhana, namun menentukan kelancaran perjalanan besar ini.
Di saat yang sama, pemerintah daerah memberikan “hadiah moral” bagi para pejuang Al-Qur’an. Sebanyak 17 khafilah berprestasi menerima bonus, sebuah pengakuan bahwa perjuangan di panggung tilawah tak kalah mulia dari perjalanan ke Tanah Suci.
Nama-nama seperti Khairul Rizki, Faiza Ilham, Azwarman, dan Hamda Sakia Dahlan menjadi simbol generasi yang menjaga cahaya kitab suci.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kankemenhaj), H. Adri Ahmad, menyuarakan harapan agar seluruh proses berjalan tanpa cela. Namun harapan itu bukan tanpa tantangan. Koordinasi, kesehatan jemaah, hingga kesiapan mental menjadi ujian yang harus dilewati.
Saat kacu dipasangkan ke pundak perwakilan jemaah, suasana berubah hening. Itu bukan sekadar tanda pelepasan. Melainkan simbol perpisahan, doa, dan harapan yang disematkan sekaligus.
Di bawah hujan yang tak kunjung reda, satu pesan terasa kuat. Perjalanan ini bukan hanya milik mereka yang berangkat. Tetapi juga milik seluruh masyarakat yang mengiringi dengan doa.(saco).
Komentar