Katapiang - Di tengah hiruk pikuk janji pejabat yang sering berakhir tanpa jejak, pemandangan berbeda justru hadir di huntara Batang Anai. John Kenedy Azis dan Irjen Pol Dr. Drs. Gatot Tri Suryanta, M.Si., CSFA, duduk bersisian dengan warga, menyatu tanpa sekat dalam suasana Halal Bihalal yang terasa lebih dari sekadar seremoni.
Momentum Idul Fitri di Huntara Korong Talao Mundam, Nagari Katapiang, Batang Anai, Rabu (1/4/2026), berubah menjadi ruang pertemuan penuh makna. Bukan hanya saling berjabat tangan, tapi juga memperkuat ikatan antara negara dan rakyat. Terutama mereka yang masih bertahan di hunian sementara pascabencana.
Yang mencuri perhatian, bukan sekadar kunjungan, melainkan aksi nyata. Sekitar 850 ekor bibit ikan nila dan gurami ditebar ke kolam terpal bundar. Langkah sederhana, namun sarat makna. Mengubah ketergantungan menjadi kemandirian, menjadikan huntara bukan sekadar tempat bertahan, tapi ruang untuk bangkit.
Tak berhenti di situ, penanaman pohon pelindung di sekitar kawasan huntara menjadi simbol harapan jangka panjang. Di tanah yang pernah dilanda musibah, akar-akar baru ditanam. Seolah memberi pesan bahwa kehidupan akan terus tumbuh, meski pernah dihantam bencana.
Kapolda Sumbar menegaskan, kehadiran institusi kepolisian tak boleh hanya terasa saat ada masalah keamanan. "Mendampingi masyarakat juga berarti ikut memikirkan dapur mereka, masa depan mereka, dan rasa aman dalam arti yang lebih luas," ucapnya.
Apresiasi pun datang dari John Kenedy Azis. Ia menilai sinergi seperti ini bukan hanya membantu secara ekonomi, tetapi juga menyuntikkan energi sosial. Menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi jantung masyarakat Minangkabau.
Namun di balik kehangatan itu, terselip pesan yang tak bisa diabaikan. Masih banyak warga yang bergantung pada bantuan dan belum sepenuhnya pulih.
Kegiatan seperti ini menjadi pengingat, bahwa pemulihan bukan pekerjaan singkat, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan kolaborasi nyata, bukan sekadar wacana.
Acara pun ditutup dengan makan bajamba. Tradisi yang bukan hanya soal makan bersama, tetapi tentang merawat kebersamaan. Di situlah, antara tawa dan cerita warga, terasa jelas: ketika pemimpin benar-benar hadir, harapan tak lagi sekadar kata-kata.(saco).
Komentar