Membawa Marwah Kubang ke Yogyakarta: Upaya Arindha Sukma Menduniakan Songket Silungkang -->

AdSense New

Membawa Marwah Kubang ke Yogyakarta: Upaya Arindha Sukma Menduniakan Songket Silungkang

Jumat, 17 April 2026
Berani berinovasi dengan akar budaya lokal. Arindha Sukma dari mojao.art siap memboyong pesona Songket Silungkang Sawahlunto ke panggung Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA) 2026. Dari Kubang, Sumatera Barat, menuju kancah nasional—sebuah perjalanan menenun harapan dan melestarikan warisan melalui karya modest fashion etnik-modern. (foto/istimewa)


Oleh: Anton Saputra (Wartawan Madya Sertifikasi Dewan Pers)


DI balik gemuruh mesin tenun yang beradu di Nagari Kubang, Kota Sawahlunto, tersimpan sebuah ambisi besar yang melampaui batas-batas administratif daerah. Arindha Sukma, seorang pegiat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) muda, kini berdiri sebagai representasi kebangkitan wastra Minangkabau di kancah nasional. 


Melalui program Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA) 2026 yang diinisiasi oleh Bank Indonesia, Arindha berhasil menembus seleksi ketat, membawa satu misi utama yakni mentransformasi Songket Silungkang dari sekadar kain adat menjadi tren fashion yang bernapas modern.


​Perjalanan ini bermula dari keberaniannya membangun jenama mojao.art, sebuah wadah kreativitas yang mengusung filosofi Tradition to Trend. Arindha menyadari bahwa warisan budaya yang statis akan sulit bersaing di tengah gempuran industri mode yang serba cepat. Oleh karena itu, ia mengolah Songket Silungkang dengan pendekatan etnik yang lebih fleksibel, memastikan bahwa identitas lokal tetap terjaga meski dalam potongan busana yang relevan bagi generasi masa kini. 


Lolosnya Arindha dalam tahap administrasi yang diumumkan pada 16 April 2026 merupakan pengakuan awal bahwa potensi lokal Sawahlunto memiliki daya tawar yang kuat dalam ekosistem ekonomi syariah nasional.


​IKRA 2026 bukan sekadar panggung pameran, melainkan sebuah platform integrasi yang dirancang untuk memperkuat fondasi para pelaku usaha di sektor modest fashion dan pangan halal. Bagi Arindha, kesempatan ini adalah pintu gerbang untuk mengakses jaringan yang lebih luas dan memperdalam pemahaman tentang standar global produk berbasis syariah. 


Dengan partisipasi peserta dari seluruh penjuru Indonesia, Arindha kini bersiap menuju Yogyakarta untuk menghadapi babak penjurian pada 27 hingga 30 April 2026. Tekadnya sudah bulat untuk membuktikan bahwa produk daerah mampu bicara banyak jika dikelola dengan visi yang tajam dan dedikasi yang tinggi.


​Pencapaian ini mencerminkan semangat anak muda yang tidak melupakan akar budayanya di tengah arus modernisasi. Arindha memandang songket bukan hanya sebagai komoditas dagang, melainkan sebagai media komunikasi budaya. Dalam pandangannya, membawa kearifan lokal ke panggung nasional adalah tanggung jawab moral bagi generasi muda Sawahlunto. 


Ia ingin menunjukkan bahwa kerajinan tangan dari daerah sekalipun dapat memiliki daya saing yang sejajar dengan jenama-jenama besar di ibu kota, asalkan ada sentuhan inovasi yang terus mengalir.


​Keberhasilan Arindha sejauh ini diharapkan mampu memantik semangat para pelaku UMKM lainnya di Sumatera Barat untuk berani bermimpi lebih besar. Ia menekankan bahwa dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, terutama pemerintah daerah, sangat krusial untuk memastikan keberlanjutan industri kreatif ini. 


Dengan langkah yang mantap, Arindha Sukma kini membawa harapan masyarakat Sawahlunto dalam setiap helai benang emas songketnya, bersiap mengukir prestasi baru di panggung nasional demi menjaga martabat wastra Nusantara agar tetap hidup dan dicintai oleh zaman yang terus berubah.


​“Keikutsertaan ini bukan hanya kebanggaan mewakili Sumatera Barat, tetapi juga langkah nyata untuk mendorong UMKM lokal agar lebih berdaya saing serta memastikan budaya daerah tetap hidup dan relevan di tingkat nasional,” ungkap Arindha Sukma penuh optimisme. (*_*)