Menuju Porprov 2026: KONI Sawahlunto Terapkan Standar Seleksi Ketat dan Validasi Berjenjang -->

AdSense New

Menuju Porprov 2026: KONI Sawahlunto Terapkan Standar Seleksi Ketat dan Validasi Berjenjang

Kamis, 02 April 2026
Para pengurus KONI Kota Sawahlunto tengah serius melakukan rapat koordinasi Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) guna merumuskan strategi penguatan atlet dan validasi cabang olahraga di ruang kerja Ketua Umum, mematangkan persiapan menjelang Porprov XVI 2026. (foto/humas koni sawahlunto)


Sawahlunto, fajarsumbar.com – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Sawahlunto menunjukkan keseriusan tinggi dalam menghadapi perhelatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Tahun 2026. Melalui rapat koordinasi Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang digelar pada Rabu, 1 April 2026, di ruang kerja Ketua Umum KONI, jajaran pengurus inti dan anggota bidang melakukan bedah strategi untuk memastikan kesiapan kontingen Kota Arang ini.  


​Pertemuan tersebut menjadi ajang evaluasi krusial setelah Tim Monev melakukan peninjauan awal terhadap berbagai cabang olahraga (cabor) selama bulan suci Ramadan lalu. Fokus utama diskusi tertuju pada langkah-langkah strategis yang harus diambil guna menyaring atlet terbaik, mengingat kendala sarana dan prasarana masih membayangi sejumlah cabor, seperti PABERSI, PABSI, PASI, PBFI, dan Futsal.  


​Muldayuri, memberikan penekanan tajam bahwa keberhasilan di Porprov sangat bergantung pada kualitas atlet yang dikirimkan. Beliau mendorong agar Tim Monev lebih intens mengunjungi tempat latihan untuk mengevaluasi perkembangan atlet secara langsung di lapangan. 


Selain itu, ia mengingatkan para pelatih untuk memiliki wawasan luas mengenai peta kekuatan lawan di Sumatera Barat, serta mengusulkan agar Tim Monev ke depan dikelompokkan berdasarkan keahlian teknis pada cabor tertentu agar proses pendampingan menjadi lebih terarah dan menjadi pedoman yang solid.  


​Nada serupa disampaikan oleh Adrizal, yang menginstruksikan penguatan validasi terhadap cabor yang akan diberangkatkan. Ia meminta adanya penambahan jumlah personel dalam tim pemantau serta mendorong pengurus cabor untuk lebih aktif berkoordinasi dengan pengurus provinsi masing-masing demi mendapatkan informasi terbaru mengenai regulasi Porprov. 


​Anton Saputra memberikan catatan penting mengenai konsistensi pergerakan tim. Menurutnya, tim monev yang telah terbentuk harus terus bergerak secara proaktif dan tidak boleh pasif menunggu hasil Technical Handbook (THB) pelaksanaan Porprov.


Dukungan penambahan personel ini juga diamini oleh Boy Purbadi, yang menargetkan seluruh proses monitoring tahap kedua harus tuntas pada pertengahan tahun ini. "Hasil monitoring selama bulan puasa harus segera ditindaklanjuti," ujarnya. Ia mematok target bahwa seluruh proses monev harus rampung pada pertengahan tahun. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya pengiriman data atlet serta permintaan Technical Handbook (THB) kepada pengurus cabang masing-masing sebagai panduan regulasi.  


​Dalam dimensi teknis dan administratif, Vicky Vilfadli menyoroti pentingnya data awal berupa "kerangka tim bayangan" dari setiap cabor sebelum memasuki fase monitoring berikutnya. Data ini dianggap vital untuk mengestimasi kebutuhan anggaran secara akurat serta menetapkan target prestasi yang realistis bagi masing-masing cabang. Terkait regulasi teknis yang belum sepenuhnya turun dari panitia besar, Vicky menyarankan agar cabor merujuk pada ketentuan Porprov sebelumnya yang diadakan di Padang Pariaman sebagai acuan sementara.  


​Diskusi teknis semakin mendalam saat membahas standar kebugaran fisik atlet. Muhammad Ikhsan, menjelaskan bahwa potensi atlet, khususnya di cabang beladiri, dapat dipantau melalui berbagai ajang turnamen mini. Lebih lanjut, ia merumuskan skema seleksi yang ketat di mana data hasil Monev akan diserahkan ke "Tim Sebelas" untuk kemudian diuji melalui tes VO2MAX. Hasil akhirnya nanti akan dirumuskan oleh tim gabungan untuk menentukan siapa yang layak masuk ke dalam kontingen resmi.  


​Senada dengan itu, Doni Ramadona, mengusulkan adanya klasifikasi cabor menjadi tiga kategori, yakni cabor andalan, cabor unggulan, dan cabor binaan. Pengelompokan ini bertujuan untuk memetakan prioritas pembinaan. Namun, ia juga memberikan catatan agar pelaksanaan tes VO2MAX tahap II, yang sedianya direncanakan pada pertengahan April, sebaiknya menunggu regulasi resmi keluar agar pelaksanaannya lebih efektif dan efisien.  


​Sekretaris KONI Sawahlunto, Hendri Febriyudi, mengungkapkan realitas di lapangan bahwa saat ini baru lima cabor yang memiliki Technical Handbook (THB), yaitu Futsal, Bilyard (POBSI), Catur (PERCASI), Binaraga Fitness (PBFI), dan Volly (PBVSI). Mengingat pentingnya THB sebagai dasar seleksi, KONI meminta cabor lainnya, terutama Tenis Meja, Tenis Lapangan, dan Taekwondo, untuk segera menyetorkan kerangka tim bayangannya. Ia menekankan bahwa seluruh tim harus "satu suara" dan tidak memberikan perlakuan istimewa kepada cabor tertentu demi menjaga kekompakan organisasi.  


​Rapat tersebut menghasilkan keputusan bulat untuk melanjutkan proses monitoring secara rutin dengan fokus utama pada pematangan kerangka tim bayangan. KONI Sawahlunto berencana menyiapkan Surat Keputusan (SK) bagi 38 cabang olahraga, dengan estimasi sekitar 25 cabang yang akan diproyeksikan berlaga di Porprov XVI. 


Tegas diputuskan pula bahwa jika jumlah cabor yang memiliki THB masih di bawah 50 persen, maka pelaksanaan tes VO2MAX tahap II akan ditunda guna meminimalisir pemborosan anggaran. Langkah-langkah preventif dan selektif ini diharapkan mampu melahirkan kontingen yang tangguh dan siap mengharumkan nama Kota Sawahlunto di tingkat provinsi. (ton)